Breaking News

Senin, 20 Februari 2017

Titip Rindu Buat Ayah




Ayah...
Perkenalkan ananda tercinta
yang, Alhamdulillah, tampak cantik dan gagah
Tatapan mereka setajam tatapan mata ayah
Hati mereka lembut seperti ayah
Pikiran mereka sekritis pemikiran ayah
Hanya sayang
Mereka tak pernah merasakan
Belai lembut ayah pada helai rambut mereka
Kecup halus ayah pada kening mereka
Hangat pangkuan ayah pada dada mereka
Yang mereka bisa hanyalah
Melihat senyum ayah melalui foto-foto tua
Mengenal ayah melalui cerita keluarga
Karena
Ayah tiada sebelum mereka ada
dan
Mereka ada untuk menyatakan pada dunia
Bahwa ayah pernah ada dan akan selalu ada
Di hati kami semua




(Titip rindu buat ayah, Bandung, 21 Feb 2017)
Punten... judulnya nyontek abis judul lagu Ebiet G Ade, seperti seri puisi-puisi dengan judul contekan lainnya, tapi isinya  nggak lhoo..



Balada Rumah Petak

Siang itu ku tergeletak
Di ruang tengah rumah petak
Memandang dinding yang retak
Ditutup poster penyanyi botak
Di luar pedagang berteriak
Menjajakan kripik dan opak
Yang konon, digoreng dengan minyak lekak
Dan selalu ramai dirubung emak dan anak
Ku berkipas mengusir gerah
Juga berusaha mengalihkan gelisah
Mengingat abang tak kunjung pulang ke rumah
Apakah mencari rupiah atau nyangkut di Romlah
Ooh Romlah janda kembang kampung seberang
Jika abang di rumahmu ingatkan dia untuk pulang
Jika abang tak bersamamu dimanakah dia sekarang
Segera pulang abang tersayang
Ramaikan rumah petak ini lagi
Ramaikan petak hati ini lagi
Ramaikan hati sepi ini lagi..
Dan
Jangan lupa bantu aku lunasi hutang
Pada pak Bambang pemilik kosan
Pada mas Warsan penjual sayuran
Serta
Pada hati yang sepi selama abang bepergian


(flash, 20 Feb 2017)

Puisi Pendek

Nggak biasa nulis puisi pendek, tematis dan limited. Tapi berhubung tugas.. ya dicoba-coba aja laah..
Ini tugas puisi pendek. Biar rada-rada mendukung "atmosfer"nya, ditambahin gambar boleh kah? Gambar dapet nyomot sajaah..



Benci

Konon benci mencemari cinta
Seperti susu tercemar nila
Konon benci merusak cinta
Seperti ladang terkena hama
Konon benci merusak asa
Membuat upaya terasa sia-sia

Lantas...
Mengapa hidup bertabur benci
Memompa amarah melalui setiap nadi
Menutup sesak jalur nafas
Sehingga tak sanggup lagi
Menghirup aroma cinta
yang, sesungguhnya, bertabur gratis di udara

(19 Februari 2017)




Hujan

Pernah kurasa tajamnya terpaan butir air hujan
Deras mengiris pada kulit wajah dan kelopak mata
Pernah kurasa ramahnya sapaan gerimis
Renyah menyapa telapak tangan dan helai alis
Pernah kurasa lembutnya sentuhan embun
Merasuk menembus pori-pori kulit dan rongga nafasku
Hujan, gerimis dan embun
Dapat menyapaku kapan saja setiap hari
Dapat menyentuh jiwa dan ragaku dimana saja setiap terjadi
Mereka hadir mendorong, menyambut dan membelai
Langkah-langkahku berkelana
Menjalani titian takdir kehidupan

(19 Februari 2017)





Serpihan Puisi Berserakan

Ceritanya lagi ikut kelas bikin puisi niiih.. so.. punten kalo banyak puisi lebay bertaburan.. dalam rangka mengumpulkan tugas... (haiyaaa...!!)

-------------------------------------------------------------------------------
Puisi #1

Ini puisi yang jadul juga, diinspirasi dari lagu Rhoma Irama, Darah Muda... tapi suweeerrrr nggak plagiat gitu juga laaah... makanya.. baca dulu sebelum memvonis ane plagiat plek blek clek...

-------------------------------------------------------------------------------

Pesona Darah Muda

Darah muda,
darah yang mengalir pada si pemuda
darah yang berdegup kencang setiap kali bertemu si pemuda
darah yang membuat merasa muda
darah yang membuat merasa sesaat bahagia
darah menyatu pada tutur katanya
darah menebar pada pesona senyumnya
darah menggumpal hangat pada genggaman tangannya
darah yang ingin sekali ku rangkul erat
darah yang ingin sekali aku simpan rapat
namun darah muda akan terus mengalir
berlalu bersama waktu
tak bisa dimiliki dan memiliki
tak bisa disentuh dan menyentuh
darah akan terus mengalir
memasuki setiap celah pembuluh waktu
meresap menghilang di penghujung batas
batas ingatan manusia
batas kemampuan manusia
batas keberdayaan manusia

(Februari, 2015)

-------------------------------------------------------------------------------

Puisi  #2

Puisi kedua ini, dibuat juga diinspirasi dari judul novel "Ketika Mas Gagah Pergi", so.. punten lagi.. agak2 nyontek gimanaaa gitchuuu..
-------------------------------------------------------------------------------

Ketika Mas Budiman Pulang

Melangkah lesu melewati sisi jembatan
Diterpa panas cuaca dasa akhir Ramadhan
Hembusan angin membuat daun berterbangan
Seperti bungkus plastik di jalan, tertiup angin, langkah menjadi ringan

Sepertinya setiap sudut jalan mengingatkan
Akan tuturkata dan gelak tawa pemuda budiman
Yang sekarang sedang menempuh perjalanan
Entah kembali ke asal tujuan atau berusaha mencari jawaban

Ada rasa rindu terbang ke gumpalan awan
Bersama dengan bersitan harapan
Semoga Mas Budiman
Tetap terjaga dalam bingkai mutiara kemurnian
Dan segera kembali mengejar tujuan masa depan

Mas budiman....
Hati-hati di jalan
Jangan berlama-lama mengejar kepalsuan impian
Segera kembali ke kenyataan
Dan temukan dirimu dalam jalan yang lebih baik dari sekarang

(Juli, 2015)

-------------------------------------------------------------------------------

Puisi  #3

Puisi ini, lagi-lagi dan lagi.. nyontek judul lagu, atau inspired by judul lagu.. More than words oleh Extreme... tapi suweeer... kata-katanya ane nggak nyontek lhooo...

-------------------------------------------------------------------------------

More than words

Ketika kata-kata tak cukup mewakili rasa
Maka diam terkadang lebih dari segala
Ketika kata-kata tak dapat lagi dipercaya
Maka tatap mata terkadang lebih bermakna
Ketika kata-kata hanya terucap hambar tak berupa
Maka gerak raga terkadang lebih terasa

Kata tak cukup mengucap rindu yang terasa
Menekan dada dan mendesak pada setiap detak jiwa
Kata tak cukup mengucap kasih di setiap masa
Karena tak pernah kasih cukup diurai dalam kata
Bukan sentuhan yang dapat menentramkan sukma
Jika kata tak pernah dapat diyakini maknanya

Ketika kata-kata tak pernah cukup berasa
Maka biarlah rindu menebar melebihi kata-kata
dan biarlah kasih berakar melebihi dari yang terasa
karena tak pernah tahu dimana batasan jiwa
menahan rindu menanam kasih yang merasuk hingga sumsum belulang raga

Ketika kata-kata tak pernah cukup berasa
Maka biarlah kasih merebak di setiap tarikan udara
dan biarlah rindu menebar harum aura
menyebar membalut setiap gerak raga
menjadi penghangat dan penggerak jiwa
Jangan mudah percaya kata-kata
tapi percayalah, bahwa kasih itu memang ada
dan bahwa rindu itu terukir jauh dalam relung rasa

(17 Juli 2015, kebeneran nyatet tanggal bikinnya)

-------------------------------------------------------------------------------
Buat yang nyangka ane nyontek More than words -nya extreme, nii dengerin lagunye.. jauuh boo... 




-------------------------------------------------------------------------------

Puisi #4

Nah ini aseli, nggak diinspirasi oleh lagu apapun, judul novel apapun, asal capruk aja saat kebanyakan dengerin lagu-lagu geje...

-------------------------------------------------------------------------------


Jika Rindu...
(belajar meyakini rindu melebihi kata-kata)
 

Jika rindu itu bintang
Maka dapatlah ia kupandang sepuas-puasnya di langit malam hari
Jika rindu itu angin
Maka dapatlah ia kurasakan menghembus-hembus menyentuh kulit wajah dan menyibak rambut
Jika rindu itu bunga
Maka dapatlah ia kupetik dan kuhirup wanginya sepuas-puasnya
Jika rindu itu malam
Maka dapatlah ia menjadi penyejukku untuk istirahat dan berasa tentram
Jika rindu itu pagi hari
Maka dapatlah ia menjadi penyegar dan penyemangatku ketika memulai hari

Namun...
Sepertinya...
Rindu tidaklah mudah dianalogikan
Tidak seperti bintang yang mudah dipandang
Tidak seperti angin yang mudah dirasakan
Tidak seperti malam yang selalu menjelang
Tidak juga seperti pagi yang selalu datang
Rindu itu seperti udara
Menyesakkan dada ketika tak mendapatkannya
Menyusup dalam setiap pembuluh darah tanpa terasa
Terasa dibutuhkan namun tak terasa kehadirannya
Terasa menggembirakan namun tak berasa warna dan rupanya
Rindu seperti udara
Yang melingkup dan membungkus hati dan raga
Mengikut pada setiap jejak langkah
Membayang pada setiap tarikan nafas

Duhai rindu yang menghantui sepanjang langkah
Lelah ditahan sebagai beban dalam dada
Tak jua dapat dilepas dan dihembus agar hilang di angkasa
Derita yang terasa mengiris nadi semangat rasa
Sering rindu harus berakhir kecewa
Ketika tiada penawar yang dapat dijumpa
Ingin rasanya ditebar pada angin yang membelai wajah
Agar dapat berkurang rasa sesak di dada...

Duhai rindu
kembalilah padaku segera
agar dapat kudengar kembali suaramu
agar dapat kulihat kembali renyah suara tawamu
agar dapat kupandang kembali ceria wajahmu



(28 Juli 2015, lagi-lagi pas dicatet tanggal bikinnya)

-------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 01 Mei 2016

Mengenang Sahabat

Meski basi rasanya, menulis sesuatu yang semua orang mungkin sudah tau. Tapi, demi melengkapi catatan pribados tentang orang-orang di sekelilingku, maka ijinkanlah aku menulis sedikit tentang dia, tentang seorang kawan yang hari ini mendadak berlalu mendahuluiku menghadap Ilahi, seseorang yang meskipun sangat jarang aku temui, tapi beberapa potong katanya terus aku ingat hingga sekarang.
Yadi Purwanto, aku kenal dia ketika SMA, hanya 2.5 tahun satu kelas. Tentunya sangat sedikit potongan cerita dan kenangan yang bisa disajikan jika dibandingkan dengan cerita sahabat-sahabat lain, yang sudah dan tetap bersama beliau bertahun-tahun kemudian, hingga akhir hayatnya, tadi sore, Minggu, 1 Mei 2016, jam 17.00 di R.S. Dustira, Cimahi. 
Jadi, mari dimulai cerita unik tentang Yadi, hanya berdasarkan ingatanku saja, maka maafkan jika ada yang terlewat, salah, keliru dan sebagainya. Semua cerita ini aku tulis demi mengenang sisi baik beliau. 
Pertama... Yadi adalah anak SMA yang anti mainstream. Aku kenal Yadi pertama kali ketika masuk B8, bersama dengan segudang teman-teman unik lainnya. Yadi menjadi unik karena, menurut aku waktu itu, berhasil mengubah mainstream yang umum ada di anak SMA kala itu. Tiba-tiba kelas kami berubah menjadi kelas yang doyan mengaji, doyan diskusi agama, menggebu-gebu jika bicara tentang Islam, dan sebagainya.  Satu hal yang menurut aku waktu itu agak mustahil adalah ketika Yadi, yang pada waktu itu, bertampang biasa-biasa saja dan memang biasa-biasa saja, dengan lantangnya berkata akan mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. What?? Ketua OSIS? di sebuah SMA yang konon sangat favorit di kota Bandung pulak..!! Bukannya yang nyalon ketua OSIS itu biasanya punya prestasi berderet, kereen, ganteng, pokoknya penampilannya bikin ngiler orang-orang lah. Yadi sangat biasa, jauh dari simpatik, sering berkata yang agak keras  sehingga buat orang yang tidak biasa, terasa agak annoying. Keras dalam artian mengomentari hal-hal yang berbau agama, seperti ketika mengomentari temen yang menggunakan rok mini, mengomentari hobi temen-temen yang menurut persepsi beliau "kurang islami", daa kumaha atuuuh.. kita kan masih muda belia...!! So ketika Yadi menyatakan akan mencalonkan diri menjadi ketua OSIS, aku kaget bukan kepalang.. Tapi, ya karena saat itu kelas kami sangat amat super solid, jadi kami sepakat mendukung.  Satu hal yang waktu itu aku sama sekali tidak tau bahwa, Yadi  mengajariku tentang "mesin politik" kecil-kecilan, yaitu bagaimana membuat dia menjadi "terkenal" dan 'populer" meskipun anti-mainstream.  Karena ketua OSIS dipilih langsung oleh para siswa, tentunya itu merupakan hal yang sulit. Yadi bilang, "kita bisa melakukan itu, asal konsisten berjuang" dengan waktu sekitar 3 bulan. Maka mulailah kami kampanye kecil-kecilan. Aku juga sudah lupa seperti apa persisnya kampanye tersebut, yang jelas aku ikut-ikutan mengajak teman-teman memilih Yadi, dengan iming-iming... pilih lah Yadi, karena Yadi beda, karena Yadi biasa-biasa aja, karena Yadi sederhana, karena punya komitmen tinggi terhadap teman-teman yang berjilbab (waktu itu Jilbab masih dilarang di sekolah negeri).  Ajaib.. aku juga tidak menyangka, ternyata Yadi terpilih...!!
Setelah terpilih, mulailah Yadi menjalankan program-programnya yang pada waktu itu terasa agak ajib-ajib, misalnya.. mengubah festival vocal group, mengusung berbagai perayaan hari besar agama cukup heboh, seperti perayaan 1 Muharam yang lengkap dengan panggung dan hiburan Qasidahan. Mengadakan malam amal ketika tahun baruan, menggantikan malam nongkrong yang biasa dilakukan oleh teman-teman. Malam tahun baru, kami mengumpulkan sumbangan dan Yadi serta rekan-rekan mendistribusikannya ke berbagai panti asuhan.  Kemudian ada lomba debating, yang waktu itu belum terlalu populer.  Pada masa Yadi sebagai ketua OSIS, kegiatan pengajian berkembang subur, hampir setiap kelas memiliki agenda pengajian mingguan, beberapa kelompok pengajian kecil juga terbentuk, misalnya aku dan teman-teman yang membentuk kelompok mengaji dengan anggota sekitar 5-6 orang. Sesekali Yadi menyempatkan mengisi pengajian kami, baik memberikan ceramah maupun mengajari kami mengaji secara langsung. Yadi mampu membaca Al-Quran dengan faseh, juga dapat memberikan ceramah lengkap dengan ayat dan argumen pendukung, pokoknya nggak kalah dengan penceramah di Masjid. Inget waktu itu belum musim lomba-lomba Da'i seperti sekarang ya.. Jadi yang dilakukan Yadi sungguh-sungguh anti mainstream. 
Selaku ketua OSIS, Yadi sangat sibuk. Bukan hanya menjalankan program-program di sekolah, tapi juga sibuk berinteraksi dengan sesama organisasi OSIS dari sekolah lain, dengan menyempatkan diri menghadiri berbagai pertemuan.  Sekali waktu, aku sempat duduk sebangku dengan Yadi (karena aku suka ngacak duduk sesuka hati).  Aku ingat, waktu itu Yadi baru kembali dari sejenis Jambore atau pertemuan antar ketua OSIS. Oh ya.. Yadi sangat aktif berorganisasi, termasuk Pramuka.  Yadi duduk dan bercerita betapa sibuknya pertemuan itu, tiba-tiba Yadi bercerita...
"Eeeh kemaren itu ada akhwat yang bilangnya suka sekali dengan saya.."
"aaah masaa? trus.. gimana? kamu terima"
"Yaa nggak gampang gitu laah?"
"Kenapa? apa dia kurang cantik?"
"Bukaaan.. bukan soal cantik nggak cantik.. saya itu kalo cari istri, cari yang siap ditinggal-tinggal, cari yang siap sendirian kalo misalnya saya suatu saat dipenjara... kan saya bakal jadi pejuang..!!"
Whatt??? waktu itu yang ada di kepalaku "Diih, lebay banget.. kaya yang kegantengan ajaah!!" 
Tapi dengan santunnya aku mengangguk-angguk, sambil mikir dalam hati.. deuuh.. emang yakin gitu bakal jadi pejuang? Tamat SMA aja belum..!!

 Yadi, kedua dari kiri, tampak di belakang Yadi, berkacamata, Dhencee (M.Jumhur Hidayat), sebelah kanan Yadi ada Andi Ardent Sebayang (sweater abu-abu). Sepertinya foto ini diambil ketika kelas 2, entah lagi dimana. (foto dari album FB Rizal Zack)



Yadi duduk pada barisan kedua, keempat dari kanan, dirangkul oleh Fery Faizal. Sebelah kiri Yadi ada Lucky (Lukman Rizal), di belakang Yadi ada Elga. 

Lantas, setelah itu, di hampir setiap kegiatan kelas kami selalu ada Yadi, atau minimal fatwa atau pendapat dari Yadi, misalnya, apa acara kita liburan minggu ini, dimana pengajian berikutnya, apa temanya, siapa yang akan kita undang, dan sebagainya. Satu tahun Yadi menjadi ketua OSIS, banyak sekali perubahan yang berhasil dilakukan. Yadi mengajari satu hal kepadaku, bahwa, untuk melakukan perubahan, kita perlu akses kekuasaan. Tanpa kekuasaan, sulit untuk menjalankan perubahan.  Yadi mengajari satu hal, bahwa motivasi untuk meraih kekuasaan bukan melulu nafsu ingin berkuasa dan populer, tapi mungkin juga berarti keinginan untuk merubah. 
Sekali waktu Yadi agak nyinyir ngomentari kelakuanku dengan teman-teman, yang doyan ikut sanlat (pesantren kilat sana sini) tapi kelakuan nggak ngaruh juga.., 
Fal, bukan ikut pengajian sana sini yang penting.. itu perlu juga sii buat nambah wawasan, tapi yang penting adalah niat yang keras untuk berubah..
Kalo belum jelas niatnya, meskipun kamu menghabiskan berminggu-minggu ikut berbagai pesantren kilat, belum tentu bulat tekad niatmu..
(dikala galau, apakah aku pengen berjilbab atau nggak..!).
Naik kelas tiga, aku jarang ngobrol dengan Yadi, hal itu karena Yadi ini manusia yang sibuknya luar biasa, demikian juga aku, yang juga suka sok sibuk luar biasa.  Detik-detik menjelang kuliah, aku sempat ngobrol panjang lebar. Kita ngobrol soal jurusan yang akan dipilih nanti. Banyak teman-teman memilih jurusan yang bisa dibilang "keren" seperti elektro, teknik mesin, teknik kimia, teknik industri..
Yadi pilih apa nanti?
Psikologi, fal..
Whattt?? knapa? kok nggak elektro, teknik mesin, teknik kimia, dlsb..
Hmm.. saya punya tujuan milih psikologi itu..
Apa tujuannya? itu jurusan kan banyak cewenya...(deuuh ne-think).
Fal, kamu tau nggak, bahwa dalam ilmu psikologi itu, banyak sekali teori atau opini yang kontroversial kalo dipandang dari kacamata Islam.
Jiaah, ane masih SMA  Yadi... belum sanggup makan buku psikologi itu, apalagi mikir tentang teori atau opini atau aliran psikologi..
Kamu tau fal, itu Sigmund Freud, bapak Psikologi, banyak pandangannya yang dianut oleh para ahli psikologi yang sebenernya kalo kita tinjau dari sudut keagamaan kurang tepat, misalnya soal mimpi, firasat, takdir, dan sebagainya.. 
Yaaah.. nggak nyambung Oom, ane boro-boro ngarti Sigmund Freud, baca biologi aja blum tamat... 
Tapi dalam hati aku salut sama Yadi, salut akan satu paket konsistensi pemikiran dan tindakannya. Tekadnya sungguh-sungguh...
Ternyata.. Yadi berhasil masuk jurusan yang dia inginkan. Dia bilang.. saya ingin "menerapkan psikologi yang islami". 
Kata terakhir yang aku ingat dari Yadi, adalah ketika ketemu di parkiran Masjid Salman, ketika aku sudah kuliah.  Yadi bertanya.. bagaimana kabarku di kampus baru.. apakah sibuk seperti biasa.. Aku cuma ketawa aja.. hahaha.. taulah sendiri..
Yadi berpesan... 
Fal.. kalo nanti kamu mencari pasangan atau jodoh, carilah orang yang benar, bukan hanya baik.. tapi juga benar.. ingat ya..!! Kamu tau bedanya baik dan benar? 
Iyaaa laaah.. meskipun ucapan yang sederhana.. tapi kata-kata itu terus ada di kepalaku hingga saat ini, bagaimana mengidentifikasi perbedaan baik dan benar. Mungkin banyak orang baik, tapi belum tentu benar... 
Setelah itu, aku tidak pernah bertemu Yadi lagi, bertahun-tahun berlalu. Banyak kabar yang aku dengar, salah satunya, konon Yadi pernah berwacana akan mendirikan Televisi Islami di Solo, konon Yadi telah menjadi dosen Psikologi bahkan Dekan di Universitas Muhammadiyah Solo.  Aku, sebagai seorang teman, bangga mendengar keberhasilannya, meskipun belum pernah bertemu lagi. Sesekali teman mengabari bahwa mereka sempat bertemu Yadi, bahkan mengunjungi rumah orangtua Yadi di daerah Cidurian Bandung, Yadi tetap ramah seperti biasa, dan selalu mengucap kata-kata bijak di setiap tutur sapanya.  
Terakhir, ketika aku membuat tulisan untuk mengenang salah seorang sahabatku yang juga sudah tiada, Yadi sempat berkomentar .."Ditunggu surat besar nya ya...", komen yang simple tapi sarat makna..

Setelah itu, aku belum pernah punya kesempatan bersilaturahim lagi dengan Yadi, sesekali kami bergurau lewat grup W.A., meskipun sibuk dan sangat serius dalam berdakwah, Yadi sering melempar canda melalui group WA, sama seringnya dengan melempar kata-kata nasihat, tausiyah, debat, dan bermacam-macam topik yang sering membuat group WA gegar gempita. 
Lantas tiba-tiba, tanpa peringatan apapun, terbaca berita bahwa Yadi masuk rumah sakit, koma, dirawat dan akan dioperasi karena Stroke.  Aku kaget, dan ketar-ketir.. kaget karena aku nggak pernah denger sebelumnya cerita tentang Yadi yang sakit, ketar-ketir karena menurut berita yang aku baca, stroke yang dialami Yadi sangat berat.  Hampir seminggu Yadi di rumah sakit, sore ini aku mendengar berita beliau berpulang.. Haduuh.. rasanya seperti menghela nafas berat. Yadi, pergi selang beberapa minggu dari kepergian salah seorang sahabatku juga, Yogi. Berkurang satu lagi manusia baik di muka bumi ini, berkurang satu lagi pejuang yang konsisten dan komit di muka bumi ini.  Ya Allah, semoga Engkau limpahkan almarhum Yadi dengan maghfiroh dan barokahmu, dilapangkan kuburnya, diterangkan alam bakanya dan diterima amal Islamnya. Semoga dengan perginya Yadi, akan hadir beribu-ribu generasi baru yang bersemangat membela agama Mu dengan kekuatan yang berlipat-lipat dari Yadi, dan dengan kebijakan dan ketajaman pikiran seperti Yadi. Semoga semua ilmu yang sudah beliau ajarkan kepada para mahasiswanya, semua kebajikan yang sudah ditebarkan.. dapat mengangkat beliau menjadi hamba yang mulia di sisimu ya Allah.. ..Amiin.. 
Aku tutup catatan ini dengan berucap. selamat jalan sahabat.. apa yang pernah engkau ucapkan, apa yang pernah engkau ajarkan, akan terus terucap dan tersebar hingga nanti...

Minggu, 20 September 2015

All About Tamed



Okey, daah lama banget pengen bikin ulasan tentang buku ini. Buku yang pernah aku miliki jaman dahulu kala, ketika masih muda belia, tapi masih tetap aku ingat sampai sudah tua renta.. ha..ha..ha.. Sayangnya, edisi bahasa Indonesianya sekarang sudah sussaaaah banget dicari.  Dulu waktu pertama beli, pertama baca, blank..blass nggak ngerti apa-apa. Baca lagi, dua kali, tiga kali, sampe akhirnya aku bisa dikit-dikit paham. Ditambah dengan keahlian aku mendramatisir, maka, jatuh cintronglah aku sama buku ini. Judulnya "The Little Prince", karangan Antoine de Saint-ExupĂ©ry.  Naah ini salah satu bagian favoritku, yang terus aku inget sampe saat ini. Supaya enak, ya aku terjemahin bebas aja laah ya... meski nggak ijin dulu sama oom Antoine.. maaf ya Oom, aku share full chapter disini, supaya dapet "ambience" nya, nggak sekedar potongan quotes aja seperti yang banyak bertaburan di mbah google.

Dari buku "The Little Prince",  Chapter 22 
[Translate suka-suka by flash]




 Suatu pagi, pangeran kecil bertemu dengan seekor rubah.
“Selamat pagi”, kata si rubah
“Selamat pagi”, pangeran kecil menjawab dengan sopan, sambil melihat sekeliling, tapi dia tidak melihat apapun.
“Aku di sini, di bawah pohon apel”, terdengar suara kecil.
“Kamu siapa?”, tanya pangeran kecil, dan lanjutnya “kamu terlihat cantik sekali”
“Aku seekor rubah”, kata rubah.
“Ayo kesini, main denganku”, ajak pangeran kecil. “Aku sangat tidak gembira”.
“Aku nggak bisa main dengan kamu”, kata si Rubah. “Aku belum dijinakkan”.
“Ah! Maaf kalo begitu”, kata pangeran kecil.
Tapi, setelah berfikir sesaat, pangeran kecil bertanya: “Apa yang dimaksud dengan ‘dijinakkan’?”
“Kamu bukan orang sini ya?”, kata si Rubah. “Apa yang kamu cari disini?”
“Aku mencari manusia”, kata pangeran kecil. “Apa artinya ‘dijinakkan’?”
“Manusia”, kata si Rubah. “Mereka punya senjata, dan mereka memburu. Itu sangat mengganggu. Mereka juga memelihara ayam, hanya hal itu yang menarik buat mereka. Apa kamu mencari ayam?”
“Nggak”, kata pangeran kecil. “Aku nyari teman. Apa artinya ‘dijinakkan’?”
“Itu merupakan tindakan yang sering sekali diabaikan”, kata si Rubah. “Itu artinya membangun ikatan”.
“Membangun ikatan?”
“Ya seperti itulah!”, kata si Rubah. “Buat aku, kamu bukan siapa-siapa, hanya anak kecil, sama seperti ratusan atau ribuan anak kecil lainnya. Aku nggak perlu apa-apa dari kamu. Dan kamu juga, nggak perlu apa-apa dari aku. Buat kamu, aku bukan apa-apa, sama seperti ratusan atau ribuan rubah lainnya. Tapi, kalo kamu menjinakkan aku, maka kita akan saling membutuhkan. Bagi aku, kamu akan menjadi unik di dunia ini. Bagi kamu, aku juga menjadi unik di dunia…”
“Ooooh, aku mulai ngerti…”, kata pangeran kecil. “Aku pernah kenal satu bunga….. Aku pikir dia sudah menjinakkan aku…”
“Mungkin aja”, kata si Rubah. “Di bumi ini orang melihat banyak hal.”
“Tapi, ini bukan di Bumi”, kata pangeran kecil
Si Rubah tampak terkejut, dan sangat ingin tahu.
“Di planet lain?”
“Ya”
“Apakah ada pemburu di planet tersebut?”
“Nggak”
“Aah, menarik sekali!! Apakah disana ada ayam?”
“Nggak”
“Nggak ada yang sempurna,” desah si Rubah.
Tapi, si Rubah kembali ke idenya semula.
“Hidupku sangat monoton.” Kata si Rubah. “Aku memburu ayam, manusia memburuku. Semua ayam keliatan sama dan semua manusia juga sama. Dan, akibatnya, aku jadi bosen. Tapi, jika kamu  menjinakkan aku, itu seolah-olah bagaikan matahari bersinar dalam kehidupanku. Aku akan tau suara langkah yang berbeda dengan yang lain. Langkah-langkah yang membuat aku buru-buru keluar dari lubang persembunyianku.  Langkahmu akan memanggilku, seperti musik, memancing aku keluar dari sarang. Dan lihatlah… kamu lihat ladang gandum disana? Aku nggak makan roti. Gandum nggak ada gunanya buat aku. Ladang gandum itu nggak ada artinya buatku. Dan itu menyedihkan. Tapi, lihat rambutmu yang berwarna keemasan seperti ladang gandum!! Coba pikirkan.. betapa indahnya jika kamu sudah menjinakkan aku!! Ladang gandum, yang juga berwarna keemasan, akan membuatku teringat akan kamu. Dan aku akan senang mendengarkan angin bersemilir di tengah tangkai gandum….”
Si Rubah memandang pangeran kecil, agak lama….
“Ayooo.. jinakkan aku..!!”, kata si Rubah.
“Aku ingin sekali, sangat ingin!!”, kata Pangeran Kecil. “Tapi aku nggak punya banyak waktu.  Aku punya banyak teman yang harus aku temui, dan harus memahami banyak hal”.
Orang hanya memahami apa-apa yang sudah dia jinakkan”, kata si Rubah. “Manusia nggak punya cukup waktu memahami semuanya. Mereka membeli sesuatu yang sudah tersedia di toko-toko. Tapi, nggak ada satu tokopun dimana seseorang dapat membeli persahabatan, oleh karena itu, orang-orang nggak bisa lagi punya sahabat.  Kalo kamu ingin punya teman, sahabat, ayo.. jinakkan aku..!!”
“Apa yang harus aku lakukan, untuk menjinakkan kamu?” kata pangeran kecil.
“Kamu harus sabar,” kata si Rubah. “Pertama-tama, kamu akan duduk pada jarak yang agak dekat- yaa nggak terlalu dekat- di rumput. Aku akan melirik kamu, dan kamu bakal diem aja. Nggak usah ngomong apapun. Kata-kata sebenarnya sumber kesalahpahaman.  Terus, kamu duduk semakin dekat, semakin dekat, setiap harinya…”
Besoknya Pangeran Kecil kembali lagi.
“Sebaiknya kamu kembali pada jam yang sama,” kata si Rubah. “Jika, misalnya, kamu setiap hari datang jam empat sore, maka menjelang jam tiga, aku akan mulai gembira. Aku akan merasa makin gembira dan gembira setiap detiknya menjelang jam empat. Ketika jam empat tiba, aku sudah sangat siap untuk melompat-lompat. Aku ingin menunjukkan kepada kamu betapa gembiranya aku!! Tapi kalo kamu datang sesukamu, aku nggak tau kapan hati ku siap untuk menemui kamu… orang tuuh harus melakukan sesuatu dengan ritme tertentu…”
“Apa itu ritme…?”, tanya Pangeran Kecil.
“Naah, itu dia, satu lagi hal yang sering diabaikan orang,” kata si Rubah. “Ritme adalah sesuatu yang membuat satu hari berbeda dengan hari lainnya, satu jam berbeda dengan jam lainnya. Itulah ritme. Misalnya, kebiasaan para pemburuku, setiap Kamis mereka mengadakan pesta dansa. Maka, Kamis menjadi hari yang indah bagiku!! Aku bisa jalan-jalan di hutan bahkan sampai dekat kebun mereka. Tapi, kalo para pemburu itu berdansa sesuka-sukanya, nggak jelas kapan waktunya, maka setiap hari akan sama seperti hari lainnya, dan aku jadi nggak punya hari libur dan hari bersenang-senang sama sekali”.
Maka… akhirnya… si Pangeran Kecil menjinakkan Rubah.  Sampai akhirnya datanglah waktu mereka harus berpisah.
“Ah…aku pasti menangis!!” kata si Rubah.
“Lhaa, itu kan salah kamu sendiri,” kata Pangeran Kecil. “Aku nggak pernah menawarkan hal-hal yang membahayakan kamu, tapi kamu malah pengen aku menjinakkan kamu…”
“Yaa, begitulaaah…”, kata si Rubah.
“Tapi kamu sekarang malah mau nangis!”, kata Pangeran Kecil.
“Yaa, begitulaaah…”, kata si Rubah.
“Kalo begitu, apa yang kita lakukan, nggak baik sama sekali!!”
“Menurutku sangat baik”, kata si Rubah, “karena warna dari ladang gandum itu..”, kemudian si Rubah menambahkan :
“Pergi dan liat lagi bunga-bunga di kebun itu Kamu akan mengerti bahwa bunga mawarmu itu sangat unik dibandingkan bunga-bunga lainnya. Kemudian, balik lagi ke aku untuk mengucapkan selamat tinggal, dan aku akan menghadiahi kamu beberapa rahasia”.
Pangeran kecil pergi sebentar, melihat kembali bunga-bunga mawar di kebun.
“Kalian sama sekali nggak seperti bunga mawarku”, kata Pangeran Kecil. “Kalian bukan siapa-siapa. Nggak ada yang menjinakkan kalian, dan kalian juga nggak menjinakkan siapapun. Kalian sama seperti rubahku ketika pertama aku kenal dia. Dia cuma seekor rubah, sama seperti ratusan ribu rubah lainnya. Tapi aku sudah membuatnya menjadi temanku, dan sekarang dia menjadi unik di seluruh dunia”.
Dan, para bunga mawar itu menjadi sangat malu…
“Kalian memang sangat cantik, tapi hampa,” kata Pangeran Kecil sambil berlalu. “Nggak ada yang rela mati buat kalian  Aku yakin, awalnya aku pikir bunga mawarku sama seperti kalian, bunga mawar yang aku miliki itu. Tapi, sebenarnya bunga mawar milikku itu, sangat penting dibandingkan dengan semua bunga mawar seperti kalian; karena bunga mawar itulah yang aku siram; karena bunga mawar itu lah yang membuat aku menyiapkan pelindung / tutup gelas, karena bunga mawar itulah yang aku tutupi dan jaga di bawah pelindung, karena bunga mawar itulah yang menyebabkan aku membunuh ulat-ulat (kecuali beberapa yang memang kami selamatkan, supaya menjadi kupu-kupu), karena bunga mawar itulah yang membuat aku mau mendengarkannya, ketika dia ngomel-ngomel, atau marah-marah, atau saat dia nggak ngomong apapun. Karena dia bunga mawarku..!!”
Kemudian, dia balik lagi untuk menemui si Rubah.
“Selamat tinggal”, katanya.
“Selamat tinggal”, kata si Rubah. “Sekarang aku akan kasih hadiah rahasiaku ya…, rahasia yang sangat sederhana : hanya dengan hati orang dapat melihat dengan benar ; yang sangat penting itu tak terlihat oleh mata”.
“Yang sangat penting, tak terlihat oleh mata,” Pangeran kecil mengulang, supaya yakin dapat mengingatnya.
Waktu yang kamu habiskan untuk bunga mawarmu itu yang membuat bunga itu menjadi sangat penting”.
“Waktu yang aku habiskan untuk bunga mawarku……”, Pangeran Kecil mengulang kembali, supaya ingat.
“Manusia sering lupa kenyataan ini,” kata si Rubah. “Tapi kamu jangan lupa hal ini ya… Kamu harus bertanggung jawab, selamanya, untuk apa-apa yang sudah kamu jinakkan.  Kamu bertanggung jawab untuk bungamu…”
“Aku bertanggung jawab terhadap bungaku....", ulang Pangeran Kecil, supaya dia tidak lupa....
----------------  end of chapter 22  ----------------------

Rabu, 17 Juni 2015

Di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Gambar diambil dari blog batur...


Dulu...
nyaris 25 tahun yang silam
bahkan mungkin lebih lama lagi
ketika kaki-kaki masih berukuran kecil
dan badan-badan masih terasa ringan melayang
melangkah menempuh celah-celah gang
menyusur tangga-tangga kebun binatang
menapak di bawah rindang pohon-pohon Ganesha
menuju Masjid Salman

Mencari pengetahuan
Mencari jawaban
atau sekedar mencari kesibukan
mengisi waktu luang
mencari rekan berbincang
atau sekedar menghabiskan waktu berjam-jam
untuk duduk di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Sengaja tak sengaja kami bertemu rekan
yang kemudian menjadi saudara seperjuangan
memperjuangkan sebuah keyakinan
bersama-sama berusaha memperkuat iman
atau sekedar saling mengingatkan
juga berdiskusi membuka wawasan
membuka mata, hati dan pikiran
sembari duduk di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Lantai masjid hitam dan dingin
Pintu masjid terbuka dan berangin
Halaman masjid agak becek dan licin
tapi kami tetap berkumpul dengan rajin
di sepanjang selasar dan teras masjid
juga di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Lalu cerita bergulir di tengah hiruk pikuk minggu pagi
di sepanjang jalan setapak di sela-sela gedung kayu
di bawah rindang pepohonan taman Ganesha
di meja-meja kayu kantin Salman
juga di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Di sana kami mengenal teman
Di sana kami mengenal saudara
Di sana kami mengenal diskusi dan bertukar pikiran
Di sana kami mengenal harapan
Di sana kami mengenal cinta

(Lalu aku terkenang pada satu waktu
ketika kami terkikik bergossip tentang para mentor kita
yang konon terlibat sedikit bumbu asmara..!! aha...??
huss...jangan ngegossip dek!!)

Tanpa terasa selasar masjid memberikan arti
menggores makna pada pencarian jati diri
menyisakan kenangan tak kunjung pupus dari hati
juga segenap cerita gembira dan sedih
tentang rekan dan saudara
yang masih ada atau sudah tiada
yang masih terikat atau sudah terpisah

(lalu aku terkenang dengan beberapa wajah
yang sudah berpuluh tahun tak pernah terlihat
dan tiba-tiba hadir kembali dalam peta ritme harian
sebagai rekan, kolega dan saudara)

Betapa waktu mengikat kita
Betapa cinta membelit kita
menyeret kenangan dan harapan
membuka semua cinta dan batasan persaudaraan
yang dulu pernah lebur di bawah pilar-pilar masjid Salman
Tetapi waktu tak pernah kembali
pada masa dimana semua terasa murni
dan gaungan azan terasa menggetarkan hati
di bawah pilar-pilar masjid Salman

Aku rindu
pada dinginnya hembusan angin di sepanjang selasar masjid
pada aroma segar embun pagi di halaman masjid
pada sentuhan air di tempat wudhu masjid
pada rekan lama yang pernah berjumpa di masjid
pada ghirah lama yang tertinggal di tangga-tangga masjid
dan pada rasa persaudaraan
di bawah pilar-pilar masjid Salman

Mungkinkah waktu akan berputar bergiliran
menghantar generasi berikutnya menapak tangga masjid
menjalin kembali rasa persaudaraan yang sempat hilang
menghangatkan lagi aroma cinta dan persahabatan
menyambungkan cerita yang dulu mungkin tak terselesaikan
pada ruang-ruang masjid
pada halaman masjid
dan di bawah pilar-pilar masjid Salman

(Kutulis ketika didera kerinduan yang menggunung
pada aroma rumput di halaman masjid
pada wajah-wajah yang sudah lama tak kulihat)

---------- 07 Januari 2011 -----------------
untuk mengenang teman-teman, kakak mentor, dan semua saudara dan sahabat yang pernah aku temui di Masjid Salman, para anggota KARANG 86, juga untuk beberapa sahabat tercinta, almh Wati Ristawati , alm Hendra Permana, serta sahabat-sahabat SKJ semua (you know who you are!!).

Beberapa komentator....



Destiny Game

It was a destiny journey
when the first time i caught you
from the million dots of line

it was a destiny journey
when the first time i felt you
from the million words in line

after the long time journey
proof that i still have you
in part of my memory line

or it just a destiny game
when eventually i know you
that have kept the same desire
still flaming warm up the heart

just walk on a destiny way
when we can not stop to walk
or we can not stop to talk
and the time can not make it sway

until the time is passing
embrace us with loving
or throw us without giving
what the end of love meaning

and i will keep on sailing...
on the way of destiny flowing...


----------- 20 November 2010 --------------------
(Dibuat sesuai dengan EYD : English Yang Diragukan
awasss ya kalo ada nyang ga percaya kalo ini aseli karangan sayah 100%!! )

Reuni



Hai Reuni...!!
Reuni SD, SMP, SMA, Kuliah, dan bahkan reuni TK
Hati yang dingin tiba-tiba menghangat
Hari yang sepi tiba-tiba bergejolak
Wall yang statis tiba-tiba berubah menjadi dinamis
Rindu lama, cerita lama, yang sudah terkubur
merebak kembali, menebar dan berpedar...
Hai saudaraku, sudah lama kita tidak bertemu
Hai saudaraku, masihkan engkau seperti dulu
Hai saudaraku, masihkan engkau mengingat hari-hari yang lalu
Hai saudaraku, apakah namaku masih ada di seluk riuk hatimu?
Semua pertanyaan menggebu, berpadu dalam deru ragu...

Lewatlah beberapa hari mencari informasi
Lewat juga beberapa usaha menghubungi teman dan relasi
Lewat juga lah hari-hari menggagas apa yang akan dilakukan nanti...
Semua bersiap diri...
menanti datangnya hari reuni
mungkin akan bertemu bekas kekasih
mungkin akan bersua teman sejati
mungkin akan bertemu sesuatu yang berarti
mungkin juga kita akan berbagi
atau hanya sekedar sarana pamer diri?

Lantas datanglah hari reuni
ceria dan sangat berwarna warni
gelak tawa, senda gurau dan berbagai warna getaran hati
semua rasa tercampur baur
bak gelombang datang menerpa pantai
membawa segulung air berbuih dan penuh riak
juga meninggalkan banyak sampah pada sapuan pertama...

Hai kamu. betapa lama waktu berlalu.......
Hai kamu..sungguh rindu lama tak bertemu....
Hai dirimu..sungguh masih seperti dulu....
Hai dirimu..sungguh senyum itu selalu dirindu...
Hai kamu.. betapa bedanya kamu sekarang...?
Hai dirimu..sungguh aku tidak pernah melupakan kamu...
Hai lihatlah diriku, apakah aku masih gagah dan cantik seperti dulu..
Hai lihatlah diriku, sungguh aku sudah berubah tidak seperti masa lalu
Hai lihatlah aku, sungguh eksis diriku dibandingkan kamu....
Sampah-sampah kenangan akan bertaburan
sampah-sampah basa-basi akan bertebaran
sampah-sampah cerita dan hiburan akan berserakan...

Lantas ketika tawa sudah mulai menipis di udara
ketika cerita sudah mulai habis terburai
ketika rindu sudah mulai mencair dan mengurai
akhirilah hari dengan kenangan manis, sepah dan hambar
sekedar basa-basi, marilah kita lakukan tindakan dermawan
mengumpul sedikit dana untuk orang yang akan ditinggalkan
barangkali dana tersebut akan membuat nama kita dikenang
atau akan menoreh manfaat bagi ikatan yang ditinggalkan

maaf saudaraku..
aku terbangun dan ternyata masih duduk di tempat
menonton serial kehidupan beberapa sahabat
lekat, erat dan memikat
tak lebih sekedar riak pasir di pantai
terserak dan tercampur dengan sampah-sampah yang menyebar

Maka pelan-pelan riuh rendah menghilang
pelan-pelan sepi kembali datang
pelan-pelan lampu dipadamkan
satu persatu orang menghilang
sekedar bertukar salam, bertukar nomor telpon atau kartu nama
berjabatan tangan, berpelukan.....
entah mungkin menunggu berapa lama lagi hadirnya kesempatan

Lantas gelombang besar akan kembali tiba
Bergulung membuih dan menerpa
mungkin lebih hebat dari gelombang sebelumnya
menghempas semua beban di bibir pantai
menyentuh kaki memerciki muka
dan bergulung riuh pamit kembali
menyapu semua riak dan gejolak di pasir pantai
membawa semua sampah dan melarutkannya di laut
lantas pantai sepi kembali
lantas pantai bersih kembali

bangunlah teman........
ternyata reuni sudah berakhir
ternyata sapaan hangat kelamaan akan pudar
ternyata rindu sudah terkikis menipis
ternyata rasa sudah mengurai
dan wall kembali sepi
dan kita mungkin kembali lupa
bahwa kita pernah bersahabat....
mungkinkah aku akan mengingat itu kembali
pada setiap lapis usia bertambah...
pada saat reuni berikutnya...
ah......

[Ditulis 12 Juni 2009, menjelang reuni akbar SMA3-1986]

Beberapa cuplikan komengtator dari FB :


Sabtu, 22 Juni 2013

Kisah si A-A

Ini kisah cinta biasa
yang terjadi di antara dua anak manusia
kebetulan mereka dosen di sekolah kita tercinta
yang sudah tidak terlalu muda
dan keduanya sudah beranak dua
namun cinta tak memilih masa
dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja
Sang wanita cantik jelita
sementara pria si AA mapan menawan juga
sehingga sang wanita tak kuasa menggoda
dan si AA juga tak kuasa menahan goda
Dari colekan tangan dilanjut ke tatapan mata
dari tatapan mata lanjut ke acara sering berdua
kebetulan di kampus ini liburan telah tiba
sehingga mereka banyak waktu bercengkerama
lupa usia lupa juga anak-anak yang menanti di rumah
bahkan konon hingga ke Surabaya
Sudah tentu akhirnya sang suami murka
tak terima bahwa sang istri lebih suka dengan si AA
maka sang suami mulai unjuk rasa
menebar ancaman kepada si AA dan keluarga
bahkan mengacam akan bercerita kepada media
jika si AA tak segera pindah dari sekolah kita
Sang wanita berlindung di balik pesona si AA
setiap saat juga menebar cerita
bagaimana dirinya menjadi korban kekerasan rumah tangga
konon sang suami juga mengajak anak-anak turut serta
dan sang wanita merasa sudah harus berpisah segera
dipertegas niatnya dengan menyewa pengacara berjuta-juta
Tapi nampaknya si AA lebih memilh keluarga
daripada bertahan menghadapi masalah dengan si wanita
berusaha menghilang untuk menghidari masalah
bahkan barang-barangnya diambil oleh rekan-rekannya
tak pernah terlihat sekalipun penampakannya
banyak mahasiswa yang bertanya-tanya
kemanakah dosen mereka?
padahal masih ada kuliah dan praktek kerja
Sang wanita mulai bercerita
bahwa perginya si AA semata-mata karena dirinya
tentunya mahasiswa terpesona
kok bisa ya.....???
Perginya si AA membuat kita semua kecewa
harusnya masalah tersebut dapat diselesaikan bersama
tanpa harus kehilangan tukang traktir handal seperti si AA
hahahaha.....
Setelah si AA tak lagi ada di kampus tercinta
ternyata tersebar berita bahwa ini bukan kali pertama
Wanita cantik suka menggoda pria berkeluarga
yang berakhir dengan perginya sang pria
demi mencegah cerita berubah menjadi bencana
Hidup berlanjut waktu berubah
Sang wanita akhirnya kembali ke keluarga
tak terdengar cerita akan berpisah
Syukurlah semua berakhir bahagia
Lama-lama mungkin semua orang lupa
bahwa pernah terjadi kisah cinta
tapi ada satu hal yang harusnya kita tidak lupa
bahwa sebaiknya kita selalu ingat keluarga
seperti pesan-pesan di sisi jalan raya
hati-hatilah jika melangkah
ingat keluarga menunggu di rumah
demikian kisah cinta biasa-biasa
tidak ada yang aneh atau berbeda
putus cinta itu biasa
cinta terlarang itu juga biasa-biasa
karena konon cinta banyak versi dan berbeda-beda rasa
maka pintar-pintarlah mengelola cinta anda
seperti halnya mengelola isi dompet anda
belanjakan sebagian, dan sebagian lagi simpan saja
untuk cadangan di hari tua
laaah.. dari cinta kok ngomongin isi dompet ya....?
tapi kan bener juga...
sedih juga jika sudah tua ternyata anda tidak punya lagi cinta
padahal anda tentunya masih ingin dicinta
oleh anak-anak dan keluarga...
namanya juga udah abis cerita
lagian siapa suruh situ baca-baca?
hahaha......

Rabu, 20 Februari 2013

Surat Kecil Untuk Tuhan (My Version)



Sewaktu baca tulisan ini, pastilah kamu menyangka aku bakal menyalin isi sinopsis novel "Surat KecilUntuk Tuhan", yang memang bertaburan di dunia maya dan dapat ditemukan dengan mudah berkat bantuan mbah Google. Meskipun aku belum pernah membaca novelnya secara lengkap, ataupun menonton filmnya (maklum, aku agak-agak jarang nonton film sejenis ini, kebanyakan maen bola), tapi aku akui memang kisahnya mengharukan. Novel ini bukan sekedar novel sedih yang mengharukan, tapi juga novel yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang gadis remaja bernama Gitta Sessa Wanda Cantika, atau akrab dipanggil Keke, yang berjuang melawan penyakit kanker hingga akhir hayatnya. Karena diangkat dari kisah nyata, maka kisah ini benar-benar memberikan inspirasi bagaimana bersikap positif dalam menghadapi cobaan.
Tapi, aku bukan ingin menceritakan tentang kisah Keke, yang pastilah sudah kamu ketahui secara garis besarnya, karena sudah ditugaskan oleh guru Bahasa Indonesia kita. Kali ini aku ingin menceritakan kisah yang mirip, yang juga kisah nyata, yang pernah diceritakan oleh ibuku ketika aku masih di bangku SD dulu.
Dulu aku pernah bersekolah di SD BPI di Jalan Halimun sampai kelas 3, sebelum aku akhirnya pindah ke Sekolah Alam Bandung. Ibu sering mengantar-jemput aku ke sekolah dan suatu hari ibu bercerita bahwa dulu ketika ibu masih SMA ibu sering bermain ke daerah tersebut karena ibu memiliki seorang sahabat yang konon rumahnya persis di belakang gedung kelas SD BPI.  
"Sekarang sahabat ibu masih tinggal di sana?"

"Ooh ndak, nak.. Sahabat ibu sudah meninggal dunia"

"ooh kenapa ? Sakit ? Meninggal umur berapa? "
"Meninggal ketika SMA kelas 3, sakit kanker otak. Ibu masih sering sedih nak, kalo inget kisah ini.  Ibu lumayan dekat dengan teman ibu tersebut, bahkan sering menginap di rumahnya. Kamarnya ya di belakang ruang kelas kamu itu nak.."

Nah.. berhubung waktu itu aku tidak begitu tertarik dengan kisah ibu, aku jadi lupa cerita ibu.
Suatu hari, ketika kami sedang belajar, terdengar teriakan panik,

"Kebakaran...kebakaran..."

Semua siswa langsung berlarian keluar kelas, demikian juga dengan guru-guru. Kami keluar ke lapangan dan mencari-cari dari mana asal teriakan. Ternyata yang berteriak adalah siswa-siswa kelas 5 yang berada di tingkat 2. Terlihat dari lapangan ada asap mengepul dari bagian atas atap.  Semua panik dan guru-guru sibuk menenangkan semua siswa. Aku panik dan segera menelpon ibu untuk menjemput. Waktu itu masih pagi, sekitar jam 9. Tentu ibu kaget karena baru saja sampai di rumah setelah mengantarkan aku ke sekolah.
Setelah kami tenang, guru kemudian menyelidiki asal asap tersebut. Kemudian guru memberikan penjelasan dengan menggunakan speaker pengumuman bahwa kebakaran bukan terjadi di sekolah kami, tetapi dari rumah yang berdempetan dengan sekolah kami. Kami semua lega dan berangsur-angsur keadaan menjadi tenang. Tetapi, banyak orang tua yang memang ditelpon anak-anaknya karena panik, sudah terlanjur datang menjemput. Untuk menghilangkan ketegangan, akhirnya guru-guru mengijinkan kami pulang dan sekolah diliburkan.
Aku menunggu ibu menjemput di halaman sekolah. Tidak lama kemudian terlihat ibu masuk halaman buru-buru, tapi ibu terlihat tenang, mungkin sudah mendapat informasi dari orang tua lain tentang keadaan di sekolah.

"Jadi yang kebakaran itu rumah di belakang sekolah kamu"

"Iya bu..."

"Hm.. jangan-jangan rumah temen ibu..."

"Iya ngkali, soalnya katanya asapnya dari situ, gede juga bu.. tadi sempat ada mobil PMK segala"

Ibu kemudian mengobrol sedikit dengan orang tua yang lain, dan aku menunggu ibu mengobrol sambil jajan di warung.

"Nak, tunggu bentar ya, ibu mau liat dulu ke Jl.Patuha, penasaran, apa bener itu rumah temen ibu dulu yang kebakaran"

Aku mengangguk setuju, lumayan lah, sambil menunggu ibu, aku bisa melihat-lihat stiker pemain bola di tukang jualan mainan di depan sekolah.
Ibu pergi sebentar ke arah Jln Patuha, tidak lama kemudian, ibu kembali dan menjelaskan bahwa benar yang terbakar itu rumah teman ibu. Tapi untunglah tidak ada korban, karena ternyata rumah sedang kosong. Rupanya ibu sempat bertanya-tanya ke petugas yang sedang memadamkan api.
Kami akhirnya pulang, di sepanjang perjalanan ibu menceritakan kisah teman ibu tersebut.

Namanya Wati, nak... Ibu kenal Wati waktu ibu kelas 3 SMP. Waktu itu ibu ikut mentoring di Masjid Salman dan satu kelompok dengan Wati. Wati itu anak SMPN 13.  Orangnya ceria dan penampilannya sederhana.
Ibu kemudian jadi bersahabat karena ternyata Wati akhirnya bersekolah di SMA yang sama dengan ibu. Setelah satu SMA, ibu akhirnya sering ke rumah Wati, berkenalan dengan keluarganya, bahkan sering menginap.
Mula-mula Wati dan kita semua juga tidak tau tentang penyakit kanker. Ibu inget, waktu kelas satu, Wati sering tidak sekolah, kadang-kadang 2-3 hari. Kalo sudah lebih dari dua hari, biasanya ibu datang menengok sambil membawa buku pelajaran. Dulu kan waktu SMA, sekolah ibu itu heboh banget Nak, kata orang pelajarannya susah-susah. Jadi ibu takut Wati ketinggalan pelajaran.  Jadi, kalau Wati sudah beberapa hari tidak sekolah, ibu pasti berusaha datang sambil membawa info tugas, pe-er, atau ulangan.
Tadinya ibu kira Wati sakit. Ternyata setelah ibu beberapa kali menengok, ternyata Wati tidak sakit. 

"Trus kenapa Wati tidak sekolah?"

Katanya Wati malu ke sekolah karena matanya bengkak, bukan karena sakit mata, tapi karena habis menangis semalaman sehingga paginya matanya bengkak dan Wati malu ke sekolah.

"Oooh, kenapa Wati menangis semalaman?"

Macam-macam penyebabnya nak, kebanyakan masalah keluarga. Setelah beberapa kali berkunjung, ibu akhirnya sedikit-sedikit tau kondisi keluarga Wati. Ternyata, keluarga Wati hidupnya sangatlah minim Nak. Meskipun rumah mereka di pinggir jalan besar seperti Jl.Patuha itu, tapi rumah mereka itu nyaris reot, Nak. Dindingnya setengah kayu, setengah lagi bilik.  Di bagian depan keliatan bongkaran bangunan yang kayaknya nggak selesai-selesai. Isi rumahnya juga sangat sederhana, satu set kursi jok yang sudah nggak jelas warnanya.  Wati bercerita bahwa dia memiliki 7 kakak dan satu adik.  Orangtuanya juga sangat sederhana Nak. Ibunya guru SMP swasta, tapi bukan SMP terkenal, ayahnya bahkan tidak bekerja karena sakit.  Konon, cerita Wati, dulu ayahnya sempat menjadi manajer hotel kelas melati. Tetapi karena sering sakit, akhirnya ayahnya hanya di rumah. 

"Lha, trus kenapa Wati nangis?"

Wati sering nangis melihat keadaan keluarganya nak.  Dia sedih melihat ayahnya kalo sakitnya lagi kambuh. Katanya, ayahnya sakit seperti jantung atau darah tinggi gitu. Kalo lagi kambuh, biasanya karena ada masalah keluarga, kadang-kadang ayahnya seperti mengeluh, kenapa ayahnya jadi sedemikian tidak berdaya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Kalo sudah dengar keluh kesah ayahnya, Wati sering kesel, antara benci dengan ayahnya yang terus mengeluh, dan juga kasihan. Jadi akhirnya Wati cuma bisa menangis.
Waktu itu keluarga Wati lagi susah-susahnya Nak. Kakak-kakaknya masih kuliah, ada juga yang bekerja, tapi dengan penghasilan pas-pasan, misalnya Salesman, nggak semua kakaknya kuliah Nak. Wati cerita, kadang-kadang mereka bener-bener nggak punya makanan apa-apa di rumah, kecuali nasi. Jadi, mereka membeli kangkung satu ikat, terus dimasak sayur bening, dikasih kuah yang banyak, nah supaya gurih, mereka tambahin pecin yang banyak. Kadang-kadang dicampur terasi. Jadi bumbu di rumah Wati itu ya kebanyakan pecin, sampe berbungkus-bungkus ibu liat.  
Tapi, penyebab Wati nggak sekolah, bukan hanya urusan nangis nak. Kadang-kadang Wati bener-bener sakit. Waktu itu penyakit Wati yang ibu tau, yaitu semacam kutu air di kakinya. Tapi anehnya kutu air itu penyebarannya cukup ganas. Ibu juga pernah kena kutu air, lumayan lama nak, sekitar satu tahun. Sudah ibu coba macam-macam obat kampung, nggak ada yang cocok. Akhirnya ibu pake salep terracotryl dan cocok. Jadi waktu ibu nengok Wati dan Wati menunjukkan kutu airnya, langsung ibu janjikan bakal membelikan Wati salep itu.  Lukanya gede-gede nak, nggak kayak luka ibu dulu. Terbuka lagi, jadi kebayang kalo pake sepatu dan kena kaos kaki, pasti sakit.
Setelah itu, ibu lupa apakah karena salep itu atau karena obat lain, masalah luka kutu airnya hilang.  Tapi Wati masih sering tidak masuk, kali ini penyebabnya katanya Wati sering pusing. Oh ya Nak, Wati itu orangnya pinter, tapi sangat gugup dan sering tidak PD. Jadi kalo di kelas ada guru galak yang tiba-tiba menunjuk dia, pasti dia menjerit dan stress.  Nah, Wati juga sering bolos tuh kalo misalnya bakal ada tugas maju ke depan kelas, misalnya baca puisi dan sebagainya.  Jadi waktu Wati sering tidak sekolah karena pusing, ibu kira itu cuma alasan karena Wati takut disuruh ke depan. Ibu juga mikir jangan-jangan Wati harus pake kacamata, karena katanya susah ngebaca tulisan di papan tulis kalo duduk di bangku tengah. Tapi Wati juga nggak mau duduk di bangku depan, karena sering gugup.
Waktu di kelas satu, guru Bahasa Indonesia pernah memberi tugas pidato. Waduh, males banget kan Nak, kita disuruh pidato apa gitu? Nyari idenya aja sudah bingung, belum lagi takut diketawain temen-temen. Ibu sebenarnya tidak sekelas dengan Wati, tapi hampir setiap istirahat ibu pasti mampir ke kelas Wati untuk ngobrol-ngobrol. Jadi hampir semua teman Wati jadi teman akrab ibu. Nah.. dalam rangka tugas pidato itu, kita diskusi topik apa yang cocok untuk dipidatokan. Kebanyakan temen-temen ibu milih topik tentang agama. Maklum, kan kebanyakan temen-temen ibu ikut mentoring di Masjid Salman.  Sewaktu semua sibuk membicarakan topik pidato, Wati diem aja, nggak ngomong apa-apa, malah sibuk baca buku kecil. Ibu jadi penasaran, buku apa sih? Asyik banget? Novel ya?
Eeeh, ternyata pas ditunjukin judulnya, ibu jadi heran, ternyata judulnya tentang kematian gitu. Ibu lupa judul persisnya, apalagi pengarangnya. Rupa-rupanya Wati sedang mempersiapkan bahan pidatonya. Besoknya, ibu mendengar cerita dari temen-teman, bagaimana hebatnya pidato Wati. Ibu heran, kan Wati itu mudah gugup, kok bisa pidatonya hebat. Kata temen-temen di kelas Wati, saking hebatnya pidato Wati, sampe satu kelas hening mendengarkan, dan banyak yang terharu dan bergetar. Katanya Wati pidato tentang kematian, tentang bagaimana rasanya menyongsong maut, bagaimana rasa sakit ketika meregang maut dan sejenis itu. Jelaslah semua merinding mendengarnya. Wati yang biasanya gugup, kata temen-temen Ibu, berbicara lantang dan lancar, seolah-olah berada di alam lain, seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri, bukan dengan temen-temen yang dia kenal. Kata temen-temen ibu, kalimat yang juga paling ibu ingat sampai sekarang :
Apakah kamu pernah membayangkan seperti apa rasanya maut itu?
Rasanya seperti seekor burung yang dicabut bulu-bulunya dan dicemplungkan ke minyak panas...

Sayang ibu tidak sekelas, jadi cuma denger ceritanya aja, Nak.

Nah, setelah itu kita naik kelas 2. Benar dugaan ibu, akhirnya Wati memeriksakan mata dan konon menurut dokter Wati harus pake kacamata. Wati itu anaknya cantik dan manis, Nak. Sayang ibu nggak punya fotonya, hilang waktu pindahan rumah.  Jadi hampir tiap hari ibu tanya, kapan kacamatanya jadi. Ibu ngebayangin pasti Wati makin manis dengan kacamata itu. Suatu hari Wati menunjukkan kacamatanya, tapi tidak langsung dipake, katanya kalo dipake masih terasa pusing, padahal sudah 3 hari dia pake.  Ibu bilang, mungkin salah ukuran, nggak cocok, dan sejenisnya. Minggu berikutnya Wati bilang bahwa dia malah jadi pusing urusan kacamata. Soalnya, menurut dokter yang memeriksa mata Wati, konon katanya ukuran minus mata Wati berubah-ubah terus, jadi tiap udah dibuatin kacamata, dipake, eh.. berubah lagi, nggak cocok lagi. Jadi, akhirnya Wati pake kacamatanya sebentar sebentar aja Nak. Malah jarang dipake, katanya malah bikin makin pusing.
Oh ya Nak, Wati itu sering sekali ngeluh pusing ke Ibu. Tadinya ibu pikir karena pelajaran fisika dan matematika yang waktu itu kita semua juga pusing. Tapi kata Wati, seperti ada rasa sakit di kepalanya. Wati ini orangnya rajin sekali ibadahnya Nak. Kalo lagi shalat keliatannya khusyu banget, sampe badannya rada goyang gitu kalo berdiri shalat, dan kalo sedang duduk shalat, kelihatan kepalanya bergoyang-goyang ketika membaca bacaan shalat. Jadi semua menduga karena demikian khusyu dan menjiwainya tentang bacaan shalat. Eeeh.. baru diketahui beberapa lama kemudian, ternyata kepala Wati yang bergoyang-goyang tersebut itu karena menahan sakit kepala, yang katanya kalo didiamkan, sangat terasa sakitnya.
"Trus, kapan ketauan sakitnya?"
Nah, karena ukuran kacamata Wati berubah-ubah terus, dokter mata akhirnya memberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ibu juga lupa lagi kapan persisnya. Pokoknya, yang ibu ingat, Wati tidak sekolah cukup lama, katanya sedang berobat serius di RSHS. Ketika masuk, akhirnya Wati bercerita bahwa setelah diperiksa dengan lebih teliti, ternyata Wati ada tumor di otaknya..!!
Haaa?? Tumor otak?? Jelas ibu dan temen-temen kaget Nak.. Kok bisa?? Menurut cerita Wati, dan juga penjelasan dari kakak temen ibu, yang waktu itu masih mahasiswa tingkat akhir kedokteran, itulah sebabnya kenapa kepala Wati sering pusing, dan ukuran kacamatanya berubah-ubah. Konon katanya akibat terjepitnya syaraf-syaraf tertentu akibat benjolan tumor tersebut. 
Setelah itu, Wati masih bersekolah seperti biasa. Konon dokter menawarkan operasi, tetapi dengan peluang 50%. Kalo gagal, maka resikonya meninggal dunia, atau jika selamat, kemungkinannya cacat otak (cacat mental).  Jadi keluarga Wati bingung. Belum lagi biaya operasi yang konon mencapai puluhan juta.  Nah, untuk sementara, akhirnya Wati bersikap cuek dan menjalani hidup seperti biasa. Tetap sekolah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 
Wati orangnya sangat sederhana Nak, tapi berpikiran jauh ke depan. Ibu seringkali malu kalo ngobrol dengan Wati. Pernah sekali waktu, ada peringatan Hari Kartini.  Semua cewek-cewek pastilah pengen berdandan cantik dengan baju adat. Semua teman-teman ibu sibuk mencari penyewaan baju adat dan salon untuk berdandan.  Semua, kecuali Wati.  Karena kita tau kondisi ekonominya yang pas-pasan, jadi kita semua sepakat akan menyewakan baju adat dan membayari ongkos salon, supaya besok kita bisa mejeng-mejeng di sekolah dengan baju adat. Tapi Wati menolak, bahkan makin dipaksa, makin keras menolaknya. Akhirnya Wati ngadat tidak sekolah sehingga kepaksa ibu tengok.  Kali ini Wati bahkan tidak mau keluar menemui ibu. Ibunya menyampaikan surat buat ibu, katanya Wati sakit.  Ibu baca suratnya, Nak... isinya kira-kira begini :
Terima kasih sekali atas kebaikan temen-temen yang mau bersusah payah menyewakan baju adat dan mencarikan salon. Bukannya saya tidak bersyukur menerima kebaikan temen-temen. Tapi itu malah membuat saya makin sedih dan terus menangis semalaman. Saya sungguh tidak layak untuk itu. Membayangkan berapa banyak uang yang harus dihabiskan untuk acara tersebut, sementara ibu saya bersusah payah menghemat uang untuk membeli beras dan lauknya, saya merasa tidak berdaya. Jadi tolong maafkan saya kalo saya tidak bisa datang di acara hari Kartini. Selamat bersenang-senang temen-temen. Percayalah, saya juga ikut seneng dari jauh.
Jelas ibu terharu membaca suratnya. Surat itu ibu serahkan ke teman-teman, yang akhirnya sepakat membatalkan penyewaan baju dan berencana akan menyerahkan uangnya saja ke Wati.  Ibu juga lupa, siapa yang akhirnya menyerahkan uang tersebut.
Satu peristiwa lagi yang paling ibu ingat ya Nak, tentang keteguhan hatinya.  Waktu itu kan kita masih pada ABG gitu kan.. pastilah banyak kecengan.  Nah, karena kita aktif di masjid, maka kecengan kita pastilah seputar pemuda masjid. Ada salah seorang kecengan kita ini top banget loh Nak. Selain cakep, tajir, pinter, eeeh soleh lagi. Kerjanya cuma ngajakin orang-orang supaya datang ke pengajian. Wati nge-fans banget sama cowok ini, sehingga dengan gembira ria Wati selalu datang di tiap acara pengajian yang diundangnya. Ibu sendiri belum pernah datang, karena acaranya sering bentrok dengan acara kelas ibu.  Sekali waktu, pas ibu bisa datang, ibu dengan semangat mengajak Wati datang ke acara pengajian undangan cowok keren ini. Tapi, ibu kaget karena Wati malah menolak keras. Katanya sudah 2 minggu Wati tidak hadir di pengajian tersebut.

“Lho kenapa? Acaranya nggak rame? Penceramahnya ngebosenin?”

“Bukan.. acaranya sih rame banget.. apalagi ada si Doi yang keren itu, sibuk bolak balik, ngurusin kabel lah, ngurusin konsumsilah, dan selalu tersenyum dan menyapa tiap kali papasan”

“Naah.. justru… kan.. kesempatan...!!”

“Justru itu lah.. makin lama aku makin takut..”

“Takut kenapa?”

“Takut terpeleset niat..!”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, nanti aku takut, lama-lama niat aku datang ke pengajian tersebut bukannya beribadah, mencari ilmu, eeh malah mau ngeceng... Nanti ilmunya malah makin nggak dapet apa-apa.. malu aku...”

“Malu kenapa? Kan nyambi-nyambi nggak apa-apa. Nyambi ngeceng, nyambi dapet elmu..”

“Hussy.. apa yang kita dapet itu gimana niatnya.. kalo niatnya ngeceng, aku khawatir dateng ke sana cuma pemubaziran aja.. Ilmunya nggak dapat. Malu aku..”

“Malu sama siapa?”

“Malu laah.. gimana gitu rasanya, tiap berdoa kepada Allah, tolong luruskan niatku. eeh.. malah mukanya yang kebayang”

Ibu dulu nggak ngerti, Nak, kenapa Wati sampai bisa berfikiran sejauh itu.

Nah, waktu itu, gedung sekolah kamu baru dibangun Nak. Kalo ibu nginep di rumah Wati, kamar yang kami tempati itu pas nempel dengan gedung sekarang. Ibu bisa mendengar suara berisik pekerjaan bangunan. Ibu tanya ke Wati, mereka lagi membangun apa ya?

“Ooh, itu lagi membangun gedung SD”

“SD apa??”

“SD BPI”

“BPI?”

“Oooh.. itu, sejenis SD orang-orang kaya gitu lah.. Nanti kalo sudah jadi SD nya, kamu jangan kaget, kalo jalan masuk ke arah sini jadi agak macet.”

Waktu itu ibu cuma manggut-manggut tidak begitu mengerti. Maklum, ibu cuma dengar-dengar dikit nama BPI dari beberapa temen SMA ibu.

Wati juga orangnya sangat rumit pemikirannya, menurut ukuran ibu dan teman-teman waktu itu. Pernah sekali waktu, Wati menolak shalat menggunakan sejadah yang bagus dan tebal di rumah temen ibu. 

“Aku pake kaen sarung dilipet aja aah”

“lha knapa? Pake sejadah itu knapa? Kan dingin”

“nggak ah.. takut nggak khusyu”

“Lhoo knapa?”

“Waktu itu kan aku pernah shalat di rumah Shanti, tau kan Shanti temen sekelasku itu. Kayaa banget loo menurut ukuran aku. Nah waktu shalat di rumah Shanti, aku disodori sejadah. Sejadahnya bagus sekali, tebal dan halus. Pas aku sujud, tangan aku sampe terbenam di bulu-bulu sejadahnya.. Eeeh.. bukan malah mikirin shalat, malah dalam hati aku ngomong sendiri.. enak ya jadi orang kaya.. sejadahnya aja bagus banget, tebel, empuk, wangi,  nggak kayak sejadah di rumahku yang tipis, udah rada nerawang dan bau pula..!!”

“aaah ..!! Dasar kamu, mikirnya kemana aja!!”

“Makanya sekarang aku takut pake sejadah bagus-bagus, takut nggak khusyu dan malah mikir kemana-mana..he..he..”

Pernah juga Wati mengeluh, meskipun dengan teman-temannya mereka cukup akrab, tapi Wati tetap merasa ada jarak, kecuali dengan Ibu, sebab menurut Wati, meskipun mereka itu baik-baik, tapi :

“Mereka tetap beda dunia dengan kita ….. tetap tidak bisa memahami kondisi kita sepenuhnya, ya gimana siii.. dunianya aja beda..!!”

Lama ibu baru mengerti, apa maksud “beda dunia” ini. Ternyata maksud Wati, teman-temen kami yang memang rata-rata berasal dari keluarga mapan itu belum tentu bisa memahami benar kondisi Ibu dan Wati.  Waktu itu kondisi keluarga ibu juga lumayan pas-pasan Nak.

Nah, singkat cerita nak, makin hari sakitnya makin bertambah parah. Akhirnya ibu dengar, menurut diagnosis dokter, penyakit Wati bukan lagi tumor otak, tetapi sudah berubah menjadi kanker otak. Karena mereka tidak mampu secara ekonomi, maka usaha berobat terbatas ke alternatif seadanya. Sampai suatu hari ada teman sekelasnya yang kebetulan kaya raya, anak tunggal, menawarkan bantuan berobat.  Orang tua temannya itu mengajak Wati tinggal di Jakarta, di rumah mereka, supaya dekat dengan tempat berobat. Konon sejenis pengobatan alternatif, tapi katanya harus kontinyu dan lama. Lama juga Wati tinggal dengan keluarga tersebut. Menurut cerita Wati, mereka memperlakukan Wati seperti anaknya sendiri. Kemana-mana Wati diajak. Sering Wati diajak berbelanja ke Mall, sering juga Wati perang batin menahan keinginan antara ingin memiliki barang, misalnya tas atau baju, dan malu dengan keluarga tersebut. Meskipun mereka akan dengan senang hati membelikan apa saja yang Wati pegang, tapi Wati cukup bisa menahan diri dan langsung membayangkan wajah ayah ibunya setiap kali memegang barang yang menurut Wati tergolong "mewah". 
Pengobatan berlangsung sekitar 6 bulan, dan tiba-tiba Wati pulang ke Bandung. Ibu kira sudah sembuh, ternyata Wati memutuskan pulang dengan alasan berpura-pura "sembuh",  padahal sebetulnya masa pengobatannya belum selesai, karena Wati sudah sangat malu berada di rumah keluarga itu. Menurut Wati, mereka terlalu baik, dan Wati merasa terlalu  merepotkan, sehingga Wati memutuskan untuk melakukan pengobatan dari Bandung, dengan cara bolak-balik seminggu sekali.
Setelah pulang dari pengobatan, sebetulnya kondisi Wati sudah jauh menurun, Nak. Matanya agak cekung. Badan juga jauh lebih kurus. Seingat ibu, Wati pernah sekali menjalani kemotherapy, tapi katanya nggak kuat, muntah-muntah dah pusing lamaa sekali setelahnya, belum lagi biayanya. Rambut Wati juga lebih tipis dibandingkan sewaktu kelas satu. Tapi Wati masih sangat optimis. Sedemikian optimisnya sehingga Wati, ketika badannya dirasa kuat, pasti ke sekolah. Hampir dua hari sekali ibu mampir ke rumahnya untuk meneruskan pelajaran sekolah.  Ibu merangkap sebagai guru privat nya Nak, ngajarin apa-apa aja yang kira-kira ibu bisa.  Wati masih sangat bersemangat belajar, meskipun sering tidak sekolah.  Ibu cuma membantu sedikit-sedikit, terutama untuk pelajaran fisika dan kimia. Pelajaran lain Wati bisa belajar sendiri. 
Naik ke kelas tiga SMA, ibu dan teman-teman agak jarang ke rumah Wati karena kita juga semakin sibuk. Selain sekolah, ada juga pemantapan, dan banyak temen-temen ibu ikut bimbingan belajar. Maklum persiapan ujian akhir dan test untuk kuliah nanti.  Pembicaraan kita seputar angan-angan ingin kuliah di jurusan mana.  Sesekali ibu mampir ke rumah Wati, dan diskusi masih lancar seperti biasa. Wati bercita-cita, jika nanti sembuh, ingin kuliah di Jurusan Psikologi. Tapi, di semester pertama kelas tiga, Wati makin sering sakit Nak. Kadang-kadang berminggu-minggu tidak kelihatan di sekolah, dan kalo ibu tengok di rumahnya, kadang-kadang hanya istirahat tidur-tiduran, katanya pusing dan badannya lemas. 
Kondisi Wati sedikit ceria ketika ada acara pernikahan kakaknya.  Ibu sempat datang, dan Wati menyempatkan diri difoto dengan menggunakan baju acara pernikahan. Acaranya sendiri berlangsung sederhana dan ibunya Wati sangat senang karena Wati cukup kuat untuk datang ke gedung  untuk menyaksikan pernikahan kakaknya, meskipun di gedung Wati banyak duduk. Setelah pernihakan kakaknya, ternyata kondisi kesehatan Wati turun terus Nak. Wati juga lebih banyak diam di rumah, tidak banyak bicara dan lebih banyak berdoa, sholat dan berdzikir. Tiap kali ibu datang menengok, lebih sering ibu mengobrol dengan ibunya karena Wati sendiri sedang tidur, atau sedang berdzikir di kamarnya. Jika keadaanya sedang enak, biasanya ibu mengobrol sebentar.
Nak, ibu juga jadi agak jarang ke rumahnya karena sibuk bimbel dan sejenisnya. Pernah sekali waktu ibu dengar dari teman, katanya penyakit Wati kambuh cukup parah sehingga dibawa ke dokter, tapi tidak sampai dirawat.  Setelah itu kondisinya stabil tapi tetap dalam keadaan lemah.
Sekali waktu, nak, waktu itu ibu masih di kelas bimbel, ibu dipanggil teman ibu dari luar kelas. Ibu keluar dan teman ibu menyampaikan bahwa baru saja diterima berita bahwa Wati meninggal dunia. Sewaktu mendengar kabar itu, ibu merasa badan ibu melayang sesaat, merasa kaki ibu tidak menginjak bumi Nak. Ibu sedih, tapi tidak bisa menangis, karena ibu memang sudah menyadari sejak lama, bahwa mungkin saja suatu saat Wati akan meninggalkan kita semua lebih cepat. 
Ibu masih ingat tanggalnya nak, kalo tidak salah 28 November 1985.  Ibu ingat karena dulu kan ibu punya semacam geng temen-temen, nah semua anggotanya diberi nomor anggota berupa tanggal lahir. Nomor anggota Wati adalah 2911, artinya tanggal 29 bulan November. Jadi Wati meninggal satu hari tepat sebelum ulang tahunnya yang ke 17 nak.  Ibu sedih sekali membayangkannya bahwa besoknya kita akan mengucapkan selamat ulang tahun di atas nisannya, Nak.
Siang itu juga ibu mampir ke rumah Wati. Sudah banyak orang Nak, dan ibu lihat jenazahnya sudah dibaringkan di tengah-tengah ruangan. Wajahnya diikat dengan kain, dan di tengah-tengah keningnya ada semacam tonjolan urat besar. Konon, menurut dokter, penyebab kematiannya adalah pecahnya pembuluh darah di otak. Ibu tidak menangis nak, karena saat itu semua orang membicarakan pemakamannya. Ibu hanya melihat wajahnya sepuas-puasnya.
Besok harinya kita semua pergi ke Garut, kampung halaman Wati. Rupanya keluarga Wati memutuskan akan memakamkan Wati di Garut.  Sebelum kafan ditutup, ibu sempat mencium pipi Wati, mengucapkan selamat ulang tahun. Setelah itu, kita semua mengantarkan Wati ke peristirahatan terakhir Nak. Ibu masih duduk diam di atas makamnya sampai semua orang pergi. Ibu sedih melihat gundukan tanah merah.. ibu menahan air mata, ibu teringat hari-hari bersama Wati.   Sambil berjalan pulang, ibu terkenang lagu Ebiet G Ade, tau kan Nak.. lagu jadul yang suka disetel ayah itu lhoo.. waktu itu sedang ngetop-ngetopnya, judulnya Camelia IV...

Batu hitam
diatas tanah merah
Disini akan kutumpahkan rindu
Kugenggam lalu kutaburkan kembang
Berlutut dan berdoa
Syurgalah ditanganmu,
Tuhanlah disisimu
Kematian adalah tidur panjang
Maka mimpi indahlah engkau
...................
...................

Baru setelah itu ibu tidak kuasa menahan tangis Nak... Memang berat dan menyedihkan Nak, tapi itulah kisah tentang teman ibu.  Sampai sekarang ibu tidak pernah lupa.  Kasihan Nak, penyakit kanker itu memang mengerikan, dan juga sangat menyedihkan, apalagi jika menimpa orang yang tidak mampu seperti Wati teman ibu dulu... Berbulan-bulan kemudian ayahnya Wati masih sering duduk di jendela depan rumahnya, melihat anak-anak sekolah yang lewat dan membayangkan barangkali Wati yang datang....

Ibuku menangis ketika bercerita tentang temannya itu. Aku juga ikut terharu, membayangkan kenangan sedih itu.  Makanya, tadinya aku ingin menulis tentang kisah Keke pada novel Surat Kecil Untuk Tuhan, tapi aku pikir, lebih baik aku tulis kisah ibuku, karena menurutku kisahnya tidak kalah mengharukan, dan seperti perjalanan nasib, akhirnya aku bersekolah di sekolah yang dinding kelasnya menempel ke dinding kamar Wati, teman ibuku.  Pasti dulu ibuku tidak pernah membayangkan bagaimana akhirnya ibu bisa melihat rumah itu lagi. Untunglah kebakaran itu hanya menghanguskan bagian atas rumah, yaitu kamar yang dulu sering dipakai ibu menginap.   Menurut ibu, keluarga Wati yang tinggal di rumah itu tinggal ayah ibunya dan adiknya yang kecil.  Kakak-kakak Wati sudah pindah ke berbagai daerah.

Bandung, 21 Februari 2013
(Tulisan ini dibuat dalam rangka tugas sekolah kakak Bilal, suruh bikin cerpen dari novel Surat Kecil Untuk Tuhan).