Breaking News

Rabu, 17 Juni 2015

Di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Gambar diambil dari blog batur...


Dulu...
nyaris 25 tahun yang silam
bahkan mungkin lebih lama lagi
ketika kaki-kaki masih berukuran kecil
dan badan-badan masih terasa ringan melayang
melangkah menempuh celah-celah gang
menyusur tangga-tangga kebun binatang
menapak di bawah rindang pohon-pohon Ganesha
menuju Masjid Salman

Mencari pengetahuan
Mencari jawaban
atau sekedar mencari kesibukan
mengisi waktu luang
mencari rekan berbincang
atau sekedar menghabiskan waktu berjam-jam
untuk duduk di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Sengaja tak sengaja kami bertemu rekan
yang kemudian menjadi saudara seperjuangan
memperjuangkan sebuah keyakinan
bersama-sama berusaha memperkuat iman
atau sekedar saling mengingatkan
juga berdiskusi membuka wawasan
membuka mata, hati dan pikiran
sembari duduk di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Lantai masjid hitam dan dingin
Pintu masjid terbuka dan berangin
Halaman masjid agak becek dan licin
tapi kami tetap berkumpul dengan rajin
di sepanjang selasar dan teras masjid
juga di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Lalu cerita bergulir di tengah hiruk pikuk minggu pagi
di sepanjang jalan setapak di sela-sela gedung kayu
di bawah rindang pepohonan taman Ganesha
di meja-meja kayu kantin Salman
juga di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Di sana kami mengenal teman
Di sana kami mengenal saudara
Di sana kami mengenal diskusi dan bertukar pikiran
Di sana kami mengenal harapan
Di sana kami mengenal cinta

(Lalu aku terkenang pada satu waktu
ketika kami terkikik bergossip tentang para mentor kita
yang konon terlibat sedikit bumbu asmara..!! aha...??
huss...jangan ngegossip dek!!)

Tanpa terasa selasar masjid memberikan arti
menggores makna pada pencarian jati diri
menyisakan kenangan tak kunjung pupus dari hati
juga segenap cerita gembira dan sedih
tentang rekan dan saudara
yang masih ada atau sudah tiada
yang masih terikat atau sudah terpisah

(lalu aku terkenang dengan beberapa wajah
yang sudah berpuluh tahun tak pernah terlihat
dan tiba-tiba hadir kembali dalam peta ritme harian
sebagai rekan, kolega dan saudara)

Betapa waktu mengikat kita
Betapa cinta membelit kita
menyeret kenangan dan harapan
membuka semua cinta dan batasan persaudaraan
yang dulu pernah lebur di bawah pilar-pilar masjid Salman
Tetapi waktu tak pernah kembali
pada masa dimana semua terasa murni
dan gaungan azan terasa menggetarkan hati
di bawah pilar-pilar masjid Salman

Aku rindu
pada dinginnya hembusan angin di sepanjang selasar masjid
pada aroma segar embun pagi di halaman masjid
pada sentuhan air di tempat wudhu masjid
pada rekan lama yang pernah berjumpa di masjid
pada ghirah lama yang tertinggal di tangga-tangga masjid
dan pada rasa persaudaraan
di bawah pilar-pilar masjid Salman

Mungkinkah waktu akan berputar bergiliran
menghantar generasi berikutnya menapak tangga masjid
menjalin kembali rasa persaudaraan yang sempat hilang
menghangatkan lagi aroma cinta dan persahabatan
menyambungkan cerita yang dulu mungkin tak terselesaikan
pada ruang-ruang masjid
pada halaman masjid
dan di bawah pilar-pilar masjid Salman

(Kutulis ketika didera kerinduan yang menggunung
pada aroma rumput di halaman masjid
pada wajah-wajah yang sudah lama tak kulihat)

---------- 07 Januari 2011 -----------------
untuk mengenang teman-teman, kakak mentor, dan semua saudara dan sahabat yang pernah aku temui di Masjid Salman, para anggota KARANG 86, juga untuk beberapa sahabat tercinta, almh Wati Ristawati , alm Hendra Permana, serta sahabat-sahabat SKJ semua (you know who you are!!).

Beberapa komentator....



Destiny Game

It was a destiny journey
when the first time i caught you
from the million dots of line

it was a destiny journey
when the first time i felt you
from the million words in line

after the long time journey
proof that i still have you
in part of my memory line

or it just a destiny game
when eventually i know you
that have kept the same desire
still flaming warm up the heart

just walk on a destiny way
when we can not stop to walk
or we can not stop to talk
and the time can not make it sway

until the time is passing
embrace us with loving
or throw us without giving
what the end of love meaning

and i will keep on sailing...
on the way of destiny flowing...


----------- 20 November 2010 --------------------
(Dibuat sesuai dengan EYD : English Yang Diragukan
awasss ya kalo ada nyang ga percaya kalo ini aseli karangan sayah 100%!! )

Reuni



Hai Reuni...!!
Reuni SD, SMP, SMA, Kuliah, dan bahkan reuni TK
Hati yang dingin tiba-tiba menghangat
Hari yang sepi tiba-tiba bergejolak
Wall yang statis tiba-tiba berubah menjadi dinamis
Rindu lama, cerita lama, yang sudah terkubur
merebak kembali, menebar dan berpedar...
Hai saudaraku, sudah lama kita tidak bertemu
Hai saudaraku, masihkan engkau seperti dulu
Hai saudaraku, masihkan engkau mengingat hari-hari yang lalu
Hai saudaraku, apakah namaku masih ada di seluk riuk hatimu?
Semua pertanyaan menggebu, berpadu dalam deru ragu...

Lewatlah beberapa hari mencari informasi
Lewat juga beberapa usaha menghubungi teman dan relasi
Lewat juga lah hari-hari menggagas apa yang akan dilakukan nanti...
Semua bersiap diri...
menanti datangnya hari reuni
mungkin akan bertemu bekas kekasih
mungkin akan bersua teman sejati
mungkin akan bertemu sesuatu yang berarti
mungkin juga kita akan berbagi
atau hanya sekedar sarana pamer diri?

Lantas datanglah hari reuni
ceria dan sangat berwarna warni
gelak tawa, senda gurau dan berbagai warna getaran hati
semua rasa tercampur baur
bak gelombang datang menerpa pantai
membawa segulung air berbuih dan penuh riak
juga meninggalkan banyak sampah pada sapuan pertama...

Hai kamu. betapa lama waktu berlalu.......
Hai kamu..sungguh rindu lama tak bertemu....
Hai dirimu..sungguh masih seperti dulu....
Hai dirimu..sungguh senyum itu selalu dirindu...
Hai kamu.. betapa bedanya kamu sekarang...?
Hai dirimu..sungguh aku tidak pernah melupakan kamu...
Hai lihatlah diriku, apakah aku masih gagah dan cantik seperti dulu..
Hai lihatlah diriku, sungguh aku sudah berubah tidak seperti masa lalu
Hai lihatlah aku, sungguh eksis diriku dibandingkan kamu....
Sampah-sampah kenangan akan bertaburan
sampah-sampah basa-basi akan bertebaran
sampah-sampah cerita dan hiburan akan berserakan...

Lantas ketika tawa sudah mulai menipis di udara
ketika cerita sudah mulai habis terburai
ketika rindu sudah mulai mencair dan mengurai
akhirilah hari dengan kenangan manis, sepah dan hambar
sekedar basa-basi, marilah kita lakukan tindakan dermawan
mengumpul sedikit dana untuk orang yang akan ditinggalkan
barangkali dana tersebut akan membuat nama kita dikenang
atau akan menoreh manfaat bagi ikatan yang ditinggalkan

maaf saudaraku..
aku terbangun dan ternyata masih duduk di tempat
menonton serial kehidupan beberapa sahabat
lekat, erat dan memikat
tak lebih sekedar riak pasir di pantai
terserak dan tercampur dengan sampah-sampah yang menyebar

Maka pelan-pelan riuh rendah menghilang
pelan-pelan sepi kembali datang
pelan-pelan lampu dipadamkan
satu persatu orang menghilang
sekedar bertukar salam, bertukar nomor telpon atau kartu nama
berjabatan tangan, berpelukan.....
entah mungkin menunggu berapa lama lagi hadirnya kesempatan

Lantas gelombang besar akan kembali tiba
Bergulung membuih dan menerpa
mungkin lebih hebat dari gelombang sebelumnya
menghempas semua beban di bibir pantai
menyentuh kaki memerciki muka
dan bergulung riuh pamit kembali
menyapu semua riak dan gejolak di pasir pantai
membawa semua sampah dan melarutkannya di laut
lantas pantai sepi kembali
lantas pantai bersih kembali

bangunlah teman........
ternyata reuni sudah berakhir
ternyata sapaan hangat kelamaan akan pudar
ternyata rindu sudah terkikis menipis
ternyata rasa sudah mengurai
dan wall kembali sepi
dan kita mungkin kembali lupa
bahwa kita pernah bersahabat....
mungkinkah aku akan mengingat itu kembali
pada setiap lapis usia bertambah...
pada saat reuni berikutnya...
ah......

[Ditulis 12 Juni 2009, menjelang reuni akbar SMA3-1986]

Beberapa cuplikan komengtator dari FB :


Sabtu, 22 Juni 2013

Kisah si A-A

Ini kisah cinta biasa
yang terjadi di antara dua anak manusia
kebetulan mereka dosen di sekolah kita tercinta
yang sudah tidak terlalu muda
dan keduanya sudah beranak dua
namun cinta tak memilih masa
dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja
Sang wanita cantik jelita
sementara pria si AA mapan menawan juga
sehingga sang wanita tak kuasa menggoda
dan si AA juga tak kuasa menahan goda
Dari colekan tangan dilanjut ke tatapan mata
dari tatapan mata lanjut ke acara sering berdua
kebetulan di kampus ini liburan telah tiba
sehingga mereka banyak waktu bercengkerama
lupa usia lupa juga anak-anak yang menanti di rumah
bahkan konon hingga ke Surabaya
Sudah tentu akhirnya sang suami murka
tak terima bahwa sang istri lebih suka dengan si AA
maka sang suami mulai unjuk rasa
menebar ancaman kepada si AA dan keluarga
bahkan mengacam akan bercerita kepada media
jika si AA tak segera pindah dari sekolah kita
Sang wanita berlindung di balik pesona si AA
setiap saat juga menebar cerita
bagaimana dirinya menjadi korban kekerasan rumah tangga
konon sang suami juga mengajak anak-anak turut serta
dan sang wanita merasa sudah harus berpisah segera
dipertegas niatnya dengan menyewa pengacara berjuta-juta
Tapi nampaknya si AA lebih memilh keluarga
daripada bertahan menghadapi masalah dengan si wanita
berusaha menghilang untuk menghidari masalah
bahkan barang-barangnya diambil oleh rekan-rekannya
tak pernah terlihat sekalipun penampakannya
banyak mahasiswa yang bertanya-tanya
kemanakah dosen mereka?
padahal masih ada kuliah dan praktek kerja
Sang wanita mulai bercerita
bahwa perginya si AA semata-mata karena dirinya
tentunya mahasiswa terpesona
kok bisa ya.....???
Perginya si AA membuat kita semua kecewa
harusnya masalah tersebut dapat diselesaikan bersama
tanpa harus kehilangan tukang traktir handal seperti si AA
hahahaha.....
Setelah si AA tak lagi ada di kampus tercinta
ternyata tersebar berita bahwa ini bukan kali pertama
Wanita cantik suka menggoda pria berkeluarga
yang berakhir dengan perginya sang pria
demi mencegah cerita berubah menjadi bencana
Hidup berlanjut waktu berubah
Sang wanita akhirnya kembali ke keluarga
tak terdengar cerita akan berpisah
Syukurlah semua berakhir bahagia
Lama-lama mungkin semua orang lupa
bahwa pernah terjadi kisah cinta
tapi ada satu hal yang harusnya kita tidak lupa
bahwa sebaiknya kita selalu ingat keluarga
seperti pesan-pesan di sisi jalan raya
hati-hatilah jika melangkah
ingat keluarga menunggu di rumah
demikian kisah cinta biasa-biasa
tidak ada yang aneh atau berbeda
putus cinta itu biasa
cinta terlarang itu juga biasa-biasa
karena konon cinta banyak versi dan berbeda-beda rasa
maka pintar-pintarlah mengelola cinta anda
seperti halnya mengelola isi dompet anda
belanjakan sebagian, dan sebagian lagi simpan saja
untuk cadangan di hari tua
laaah.. dari cinta kok ngomongin isi dompet ya....?
tapi kan bener juga...
sedih juga jika sudah tua ternyata anda tidak punya lagi cinta
padahal anda tentunya masih ingin dicinta
oleh anak-anak dan keluarga...
namanya juga udah abis cerita
lagian siapa suruh situ baca-baca?
hahaha......

Rabu, 20 Februari 2013

Surat Kecil Untuk Tuhan (My Version)



Awalnya tulisan ini dibuat gegara terinspirasi tugas sekolah Kakak, yang diminta membuat sinopsis dari novel "Surat Kecil Untuk Tuhan", yang isinya dapat dilihat di dunia maya dan dapat ditemukan dengan mudah berkat bantuan mbah Google. Meskipun belum pernah membaca novelnya secara lengkap, ataupun menonton filmnya (bukan jenis genre movie-list daku), tapi kisahnya memang mengharukan. Novel ini bukan sekedar novel sedih yang mengharubiru, tapi juga novel yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang gadis remaja bernama Gitta Sessa Wanda Cantika, atau akrab dipanggil Keke, yang berjuang melawan penyakit kanker hingga akhir hayatnya. Karena diangkat dari kisah nyata, maka kisah ini benar-benar memberikan inspirasi bagaimana bersikap positif dalam menghadapi cobaan.
Isi tulisan ini bukan ingin menceritakan tentang kisah Keke, yang pastilah mudah diketahui garis besarnya, tapi kisah yang agak serupa, hanya pada tulisan ini, terjadi pada orang yang pernah sangat dekat denganku. 
Sebelum pindah ke Sekolah Alam Bandung, Kakak pernah bersekolah di SD BPI di Jalan Halimun sampai kelas 3.  Aku pernah cerita ke Kakak, bahwa dulu aku sering main ke daerah ini, ke rumah seorang sahabat yang lokasinya persis di belakang gedung SD BPI.  Namanya: Wati.

Suatu hari, salah satu kelas di SD BPI ini kebakaran.  Teriakan "Kebakaran...  kebakaran...!!", membuat semua siswa langsung berlarian keluar kelas, demikian juga dengan guru-guru. Semua mencari-cari dari mana asal teriakan tersebut. Ternyata yang berteriak adalah siswa-siswa kelas 5 yang berada di tingkat 2. Terlihat dari lapangan ada asap mengepul dari bagian atas atap.  Semua panik dan guru-guru sibuk menenangkan semua siswa.  Beberapa anak langsung menelpon orang tua masing-masing. Waktu itu masih pagi, sekitar jam 9, sehingga banyak orang tua yang kaget karena baru saja mengantarkan anaknya ke sekolah. 
Setelah semua agak tenang, guru kemudian menyelidiki asal asap tersebut. Dari speaker pengumuman, terdengar penjelasan tentang kebakaran tersebut.  Ternyata kebakaran bukan terjadi di sekolah, tetapi dari rumah yang berdempetan dengan sekolah. Semua lega dan berangsur-angsur keadaan menjadi tenang. Tetapi, banyak orang tua yang memang ditelpon anak-anaknya karena panik, sudah terlanjur datang menjemput.  Untuk menjaga ketenangan, akhirnya sekolah diliburkan mendadak hari itu. 
Aku segera datang menjemput Kakak.  Kelihatan Kakak sudah menunggu dengan tenang di halaman sekolah. 

"Jadi yang kebakaran itu rumah di belakang sekolah kamu"

"Iya bu..."

"Hm.. jangan-jangan rumah temen ibu..."

"Iya ngkali, soalnya katanya asapnya dari situ, gede juga bu.. tadi sempat ada mobil PMK segala"

"Nak, tunggu bentar ya, ibu mau liat dulu ke Jl.Patuha, penasaran, apa bener itu rumah temen ibu dulu yang kebakaran"

Aku penasaran, ingin melihat apakah rumah yang terbakar itu rumah sahabat aku dulu? 
Aku melongok sebentar ke arah Jln Patuha, dan benar ternyata yang terbakar itu adalah rumah Wati, sahabatku waktu SMA dulu. Tapi untunglah tidak ada korban, karena ternyata rumah sedang kosong, demikian info dari para petugas Pemadam kebakaran. 

Lalu, siapakah Wati, sahabatku itu?

Aku berkenalan dengan Wati waktu kelas 3 SMP. Waktu itu aku ikut mentoring di Masjid Salman dan satu kelompok dengan Wati. Wati itu anak SMPN 13.  Orangnya ceria dan penampilannya sederhana.
Kita kemudian jadi bersahabat karena ternyata Wati akhirnya bersekolah di SMA yang sama. Setelah satu SMA, aku sering ke rumah Wati, berkenalan dengan keluarganya, bahkan sering menginap.

Mula-mula Wati dan kita semua juga tidak tau tentang penyakit kanker. Aku inget, waktu kelas satu, Wati sering tidak sekolah, kadang-kadang 2-3 hari. Kalo sudah lebih dari dua hari, biasanya aku datang menengok sambil membawa buku pelajaran. Dulu kan waktu SMA, konon sekolah kami itu heboh banget, kata orang pelajarannya susah-susah. Jadi aku takut Wati ketinggalan pelajaran.  Kalo Wati sudah beberapa hari nggak sekolah, aku pasti berusaha datang sambil membawa info tugas, pe-er, atau ulangan.
Tadinya aku kira Wati sakit. Tapi setelah beberapa kali menengok, ternyata Wati nggak sakit. Trus kenapa Wati nggak sekolah?
Katanya Wati malu ke sekolah karena matanya bengkak, bukan karena sakit mata, tapi karena habis menangis semalaman sehingga paginya matanya bengkak dan Wati malu ke sekolah.

Kenapa Wati menangis semalaman?

Macam-macam penyebabnya, kebanyakan masalah keluarga. Setelah beberapa kali berkunjung, aku akhirnya sedikit-sedikit tau kondisi keluarga Wati. Ternyata, keluarga Wati hidupnya sangatlah minim. Meskipun rumah mereka di pinggir jalan besar seperti di Jl. Patuha itu, tapi rumah mereka nyaris reot. Dindingnya setengah kayu, setengah lagi bilik.  Di bagian depan keliatan bongkaran bangunan yang kayaknya nggak selesai-selesai. Isi rumahnya juga sangat sederhana, satu set kursi tua yang sudah nggak jelas warna dan bentuk joknya. Wati bercerita bahwa dia memiliki 7 kakak dan satu adik.  Orangtuanya juga sangat sederhana. Ibunya guru SMP swasta, tapi bukan SMP terkenal, ayahnya bahkan tidak bekerja karena sakit.  Konon, cerita Wati, dulu ayahnya sempat menjadi manajer hotel kelas melati. Tetapi karena sering sakit, akhirnya ayahnya hanya di rumah. 

Keadaan keluarganya inilah penyebab Wati sering menangis. Dia sedih melihat ayahnya kalo sakitnya lagi kambuh. Katanya, ayahnya sakit seperti jantung atau darah tinggi gitu. Kalo lagi kambuh, biasanya karena ada masalah keluarga, kadang-kadang ayahnya seperti mengeluh, kenapa ayahnya jadi sedemikian tidak berdaya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Kalo sudah dengar keluh kesah ayahnya, Wati sering kesel, antara benci dengan ayahnya yang terus mengeluh, dan juga kasihan. Jadi akhirnya Wati cuma bisa menangis.

Waktu itu keluarga Wati lagi susah-susahnya. Kakak-kakaknya masih kuliah, ada juga yang bekerja, tapi dengan penghasilan pas-pasan, misalnya Salesman. Nggak semua kakaknya kuliah, karena kendala biaya. Wati bercerita, kadang-kadang mereka bener-bener nggak punya makanan apa-apa di rumah, kecuali nasi. Jadi, mereka membeli kangkung satu ikat, terus dimasak sayur bening, dikasih kuah yang banyak. Supaya gurih, mereka tambahin pecin yang banyak. Kadang-kadang dicampur terasi. Jadi bumbu di rumah Wati itu ya kebanyakan pecin, aku lihat stoknya sampe berbungkus-bungkus  

Tapi, penyebab Wati nggak sekolah, bukan hanya urusan nangis. Kadang-kadang Wati bener-bener sakit. Waktu itu penyakit Wati yang aku tau, yaitu semacam kutu air di kakinya. Anehnya kutu air itu penyebarannya cukup ganas. Aku juga pernah kena kutu air, lumayan lama, sekitar satu tahun. Sudah dicoba macam-macam obat kampung, nggak ada yang cocok. Akhirnya aku pake salep terra-cotril dan cocok. Jadi waktu nengok Wati dan Wati menunjukkan kutu airnya, langsung aku janjikan bakal membelikan Wati salep itu.  Lukanya gede-gede, nggak kayak luka aku dulu. Terbuka lagi, jadi kebayang kalo pake sepatu dan kena kaos kaki, pasti sakit.

Setelah itu, aku lupa apakah karena salep itu atau karena obat lain, masalah luka kutu airnya hilang.  Tapi Wati masih sering nggak masuk sekolah, kali ini penyebabnya katanya Wati sering pusing. Oh ya, Wati ini orangnya pinter, tapi sangat gugup dan sering tidak PD. Jadi kalo di kelas ada guru galak yang tiba-tiba menunjuk dia, pasti dia menjerit dan stress.  Nah, Wati juga sering bolos tuh kalo misalnya bakal ada tugas maju ke depan kelas, misalnya baca puisi dan sebagainya.  Jadi waktu Wati sering tidak sekolah karena pusing, aku kira itu cuma alasan karena Wati takut disuruh ke depan. Aku juga mikir jangan-jangan Wati harus pake kacamata, karena katanya susah ngebaca tulisan di papan tulis kalo duduk di bangku tengah. Tapi Wati juga nggak mau duduk di bangku depan, karena sering gugup.

Waktu di kelas satu, guru Bahasa Indonesia pernah memberi tugas pidato. Waduh, males banget kan...., kita disuruh pidato apa gitu? Nyari idenya aja sudah bingung, belum lagi takut diketawain temen-temen. Aku sebenarnya nggak sekelas dengan Wati, tapi hampir setiap istirahat aku pasti mampir ke kelas Wati untuk ngobrol-ngobrol. Jadi hampir semua teman Wati jadi teman akrab. Nah.. dalam rangka tugas pidato itu, kita diskusi topik apa yang cocok untuk dipidatokan. Kebanyakan temen-temen milih topik tentang agama. Maklum, kan kebanyakan temen-temenku waktu itu ikut mentoring di Masjid Salman.  Sewaktu semua sibuk membicarakan topik pidato, Wati diem aja, nggak ngomong apa-apa, malah sibuk baca buku kecil. Aku penasaran, buku apa sih? Asyik banget? Novel ya?

Eeeh, ternyata pas ditunjukin judulnya, aku jadi heran, ternyata judulnya tentang "kematian". Aku lupa judul persisnya, apalagi pengarangnya. Rupa-rupanya Wati sedang mempersiapkan bahan pidatonya. Besoknya, aku dengar cerita dari temen-teman, bagaimana hebatnya pidato Wati. Aku heran, kan Wati itu mudah gugup, kok bisa pidatonya hebat. Kata temen-temen di kelas Wati, saking hebatnya pidato Wati, sampe satu kelas hening mendengarkan, dan banyak yang terharu dan bergetar. Katanya Wati pidato tentang kematian, tentang bagaimana rasanya menyongsong maut, bagaimana rasa sakit ketika meregang maut dan sejenis itu. Jelaslah semua merinding mendengarnya. Wati yang biasanya gugup, kata temen-temen, berbicara lantang dan lancar, seolah-olah berada di alam lain, seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri, bukan dengan temen-temen yang dia kenal. Kata temen-temen, kalimat yang juga paling aku ingat sampai sekarang :
Apakah kamu pernah membayangkan seperti apa rasanya maut itu?
Rasanya seperti seekor burung yang dicabut bulu-bulunya dan dilemparkan ke minyak panas...

Sayang aku nggak sekelas, jadi cuma denger ceritanya aja....

Setelah itu kita naik kelas 2, dan akhirnya Wati memeriksakan matanya. Seperti dugaanku, konon menurut dokter Wati harus pake kacamata. Wati itu anaknya cantik dan manis,  Sayang aku nggak punya fotonya, hilang waktu pindahan rumah.  Jadi hampir tiap hari aku mampir ke kelasnya dan nanya, kapan kacamatanya jadi? Aku ngebayangin pasti Wati makin manis dengan kacamata itu. Suatu hari Wati menunjukkan kacamatanya, tapi tidak langsung dipake, katanya kalo dipake masih terasa pusing, padahal sudah 3 hari dia pake. Aku bilang, mungkin salah ukuran, nggak cocok, dan sejenisnya. Minggu berikutnya Wati bilang bahwa dia malah jadi pusing urusan kacamata. Soalnya, menurut dokter yang memeriksa mata Wati, konon katanya ukuran minus mata Wati berubah-ubah terus, jadi tiap udah dibuatin kacamata, dipake, eh.. berubah lagi, nggak cocok lagi. Jadi, akhirnya Wati pake kacamatanya sebentar sebentar aja.  Malah jarang dipake, katanya malah bikin makin pusing.

Oh ya, Wati itu sering sekali ngeluh pusing. Tadinya aku pikir karena pelajaran fisika dan matematika yang waktu itu kita semua juga pusing. Tapi kata Wati, seperti ada rasa sakit di kepalanya. Wati ini orangnya rajin sekali ibadahnya Kalo lagi shalat keliatannya khusyu banget, sampe badannya rada goyang gitu kalo berdiri shalat, dan kalo sedang duduk shalat, kelihatan kepalanya bergoyang-goyang ketika membaca bacaan shalat. Jadi semua menduga karena demikian khusyu dan menjiwainya tentang bacaan shalat. Eeeh.. baru diketahui beberapa lama kemudian, ternyata kepala Wati yang bergoyang-goyang tersebut itu karena menahan sakit kepala, yang katanya kalo didiamkan, sangat terasa sakitnya.
Dipicu oleh ukuran kacamata Wati yang berubah-ubah terus, dokter mata akhirnya memberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku lupa lagi kapan persisnya. Pokoknya, yang aku ingat, Wati tidak sekolah cukup lama, katanya sedang berobat serius di RSHS. Ketika masuk, akhirnya Wati bercerita bahwa setelah diperiksa dengan lebih teliti, ternyata Wati ada tumor di otaknya..!!

Haaa?? Tumor otak?? 

Jelas aku dan temen-temen kaget.. Kok bisa?? Menurut cerita Wati, dan juga penjelasan dari kakak temen, yang waktu itu masih mahasiswa tingkat akhir kedokteran, itulah sebabnya kenapa kepala Wati sering pusing, dan ukuran kacamatanya berubah-ubah. Konon katanya akibat terjepitnya syaraf-syaraf tertentu akibat benjolan tumor tersebut. 

Setelah itu, Wati masih bersekolah seperti biasa. Konon dokter menawarkan operasi, tetapi dengan peluang 50%. Kalo gagal, maka resikonya meninggal dunia, atau jika selamat, kemungkinannya cacat otak (cacat mental).  Jadi keluarga Wati bingung. Belum lagi biaya operasi yang konon mencapai puluhan juta.  Nah, untuk sementara, akhirnya Wati bersikap cuek dan menjalani hidup seperti biasa. Tetap sekolah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 

Wati orangnya sangat sederhana, tapi berpikiran jauh ke depan. Aku seringkali malu kalo ngobrol dengan Wati. Pernah sekali waktu, ada peringatan Hari Kartini.  Semua cewek-cewek pastilah pengen berdandan cantik dengan baju adat. Semua teman-teman sibuk mencari penyewaan baju adat dan salon untuk berdandan.  Semua, kecuali Wati.  Karena kita tau kondisi ekonominya yang pas-pasan, jadi kita semua sepakat akan menyewakan baju adat dan membayari ongkos salon, supaya besok kita bisa mejeng-mejeng di sekolah dengan baju adat. Tapi Wati menolak, bahkan makin dipaksa, makin keras menolaknya. Akhirnya Wati ngadat tidak sekolah sehingga kepaksa aku tengok.  Kali ini Wati bahkan tidak mau keluar menemuiku. Ibunya menyampaikan surat untukku, katanya Wati sakit.  Aku baca suratnya, isinya kira-kira begini:
Terima kasih sekali atas kebaikan temen-temen yang mau bersusah payah menyewakan baju adat dan mencarikan salon. Bukannya saya tidak bersyukur menerima kebaikan temen-temen. Tapi itu malah membuat saya makin sedih dan terus menangis semalaman. Saya sungguh tidak layak untuk itu. Membayangkan berapa banyak uang yang harus dihabiskan untuk acara tersebut, sementara ibu saya bersusah payah menghemat uang untuk membeli beras dan lauknya, saya merasa tidak berdaya. Jadi tolong maafkan saya kalo saya tidak bisa datang di acara hari Kartini. Selamat bersenang-senang temen-temen. Percayalah, saya juga ikut seneng dari jauh.
Aku terharu membaca suratnya. Surat itu aku serahkan ke teman-teman, yang akhirnya sepakat membatalkan penyewaan baju dan berencana akan menyerahkan uangnya saja ke Wati.  Aku juga lupa, siapa yang akhirnya menyerahkan uang tersebut.

Satu peristiwa lagi yang paling aku ingat ya....., tentang keteguhan hatinya.  Waktu itu kan kita masih pada ABG gitu kan.. pastilah banyak kecengan.  Nah, karena kita aktif di masjid, maka kecengan kita pastilah seputar pemuda masjid. Ada salah seorang kecengan kita ini top banget deh... Selain cakep, tajir, pinter, eeeh soleh lagi. Kerjanya cuma ngajakin orang-orang supaya datang ke pengajian. Wati nge-fans banget sama cowok ini, sehingga dengan gembira ria Wati selalu datang di tiap acara pengajian yang diundangnya. Aku sendiri belum pernah datang, karena acaranya sering bentrok dengan acara kelasku.  Sekali waktu, pas aku bisa datang, dengan semangat aku ajak Wati datang ke acara pengajian undangan cowok keren ini. Tapi, aku kaget karena Wati malah menolak keras. Katanya sudah 2 minggu Wati tidak hadir di pengajian tersebut.

“Lho kenapa? Acaranya nggak rame? Penceramahnya ngebosenin?”

“Bukan.. acaranya sih rame banget.. apalagi ada si Doi yang keren itu, sibuk bolak balik, ngurusin kabel lah, ngurusin konsumsilah, dan selalu tersenyum dan menyapa tiap kali papasan”

“Naah.. justru… kan.. kesempatan...!!”

“Justru itu lah.. makin lama aku makin takut..”

“Takut kenapa?”

“Takut terpeleset niat..!”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, nanti aku takut, lama-lama niat aku datang ke pengajian tersebut bukannya beribadah, mencari ilmu, eeh malah mau ngeceng... Nanti ilmunya malah makin nggak dapet apa-apa.. malu aku...”

“Malu kenapa? Kan nyambi-nyambi nggak apa-apa. Nyambi ngeceng, nyambi dapet elmu..”

“Hussy.. apa yang kita dapet itu gimana niatnya.. kalo niatnya ngeceng, aku khawatir dateng ke sana cuma pemubaziran aja.. Ilmunya nggak dapat. Malu aku..”

“Malu sama siapa?”

“Malu laah.. gimana gitu rasanya, tiap berdoa kepada Allah, tolong luruskan niatku. eeh.. malah mukanya yang kebayang”

Aku dulu nggak ngerti, kenapa Wati sampai bisa berfikiran sejauh itu.

Saat-saat itu, gedung sekolah SD BPI baru dibangun. Kalo aku nginep di rumah Wati, kamar yang kami tempati itu pas nempel dengan gedung sekarang. Aku bisa mendengar suara berisik pekerjaan bangunan. Aku tanya ke Wati, mereka lagi membangun apa ya?

“Ooh, itu lagi membangun gedung SD”

“SD apa??”

“SD BPI”

“BPI?”

“Oooh.. itu, sejenis SD orang-orang kaya gitu lah.. Nanti kalo sudah jadi SD nya, kamu jangan kaget, kalo jalan masuk ke arah sini jadi agak macet.”

Waktu itu aku cuma manggut-manggut tidak begitu mengerti. Maklum, aku cuma dengar-dengar dikit nama BPI dari beberapa temen SMA.

Wati juga orangnya sangat rumit pemikirannya, menurut ukuran aku dan teman-teman waktu itu. Pernah sekali waktu, Wati menolak shalat menggunakan sejadah yang bagus dan tebal di rumah temen. 

“Aku pake kaen sarung dilipet aja aah”

“lha knapa? Pake sejadah itu knapa? Kan dingin”

“nggak ah.. takut nggak khusyu”

“Lhoo knapa?”

“Waktu itu kan aku pernah shalat di rumah Shanti, tau kan Shanti temen sekelasku itu. Beliau ini tajir melinter banget loo menurut ukuran aku. Nah waktu shalat di rumah Shanti, aku disodori sejadah. Sejadahnya bagus sekali, tebal dan halus. Pas aku sujud, tangan aku sampe terbenam di bulu-bulu sejadahnya.. Eeeh.. bukan malah mikirin shalat, malah dalam hati aku ngomong sendiri.. enak ya jadi orang kaya.. sejadahnya aja bagus banget, tebel, empuk, wangi,  nggak kayak sejadah di rumahku yang tipis, udah rada nerawang dan bau pula..!!”

“Aaah ..!! Dasar kamu, mikirnya kemana aja!!”

“Makanya sekarang aku takut pake sejadah bagus-bagus, takut nggak khusyu dan malah mikir kemana-mana..he..he..”

Membran semipermeable

Pernah juga Wati mengeluh, meskipun dengan teman-temanku yang lain, Wati cukup akrab, tapi Wati tetap merasa ada jarak, kecuali dengan aku. Sebab menurut Wati, meskipun mereka itu baik-baik, tapi :

“Mereka tetap beda dunia dengan kita ….. tetap tidak bisa memahami kondisi kita sepenuhnya, ya gimana siii.. dunianya aja beda..!!”
Lama aku baru mengerti, apa maksud “beda dunia” ini. Ternyata maksud Wati, teman-temen kami yang memang rata-rata berasal dari keluarga mapan itu belum tentu bisa memahami benar kondisi keluarga aku dan Wati.  Waktu itu kondisi keluargaku juga beda tipis sama keluarga Wati. Jadi, kurang lebih alur curhat kami itu seperti membran semi-permeable pada peristiwa osmosis. Temen-temen akan bercerita semuanya, sebaliknya, kami hanya bercerita hal-hal tertentu, karena kami nggak yakin, mereka benar-benar bisa paham kondisi kami.

Singkat cerita, makin hari sakitnya makin bertambah parah. Akhirnya aku dengar, menurut diagnosis dokter, penyakit Wati bukan lagi tumor otak, tetapi sudah berubah menjadi kanker otak. Karena mereka tidak mampu secara ekonomi, maka usaha berobat terbatas ke alternatif seadanya. Sampai suatu hari ada teman sekelasnya yang kebetulan kaya raya, anak tunggal, menawarkan bantuan berobat.  Orang tua temannya itu mengajak Wati tinggal di Jakarta, di rumah mereka, supaya dekat dengan tempat berobat. Konon orang tua Wati memilih sejenis pengobatan alternatif di Jakarta, tapi katanya harus kontinyu dan lama. Lama juga Wati tinggal dengan keluarga tersebut. Menurut cerita Wati, mereka memperlakukan Wati seperti anaknya sendiri. Kemana-mana Wati diajak. Sering Wati diajak berbelanja ke Mall, sering juga Wati perang batin menahan keinginan antara ingin memiliki barang, misalnya tas atau baju, dan malu dengan keluarga tersebut. Meskipun mereka akan dengan senang hati membelikan apa saja yang Wati pegang, tapi Wati cukup bisa menahan diri dan langsung membayangkan wajah ayah ibunya setiap kali memegang barang yang menurut Wati tergolong "mewah". 

Pengobatan berlangsung sekitar 6 bulan, dan tiba-tiba Wati pulang ke Bandung. Aku kira sudah sembuh, ternyata Wati memutuskan pulang dengan alasan berpura-pura "sembuh",  padahal sebetulnya masa pengobatannya belum selesai, karena Wati sudah sangat malu berada di rumah keluarga itu. Menurut Wati, mereka terlalu baik, dan Wati merasa terlalu merepotkan, sehingga Wati memutuskan untuk melakukan pengobatan dari Bandung, dengan cara bolak-balik seminggu sekali.

Setelah pulang dari pengobatan, sebetulnya kondisi Wati sudah jauh menurun, Matanya agak cekung. Badan juga jauh lebih kurus. Seingatku, Wati pernah sekali menjalani kemotherapy, tapi katanya nggak kuat, muntah-muntah dah pusing lamaa sekali setelahnya, belum lagi biayanya. Rambut Wati juga lebih tipis dibandingkan sewaktu kelas satu. Tapi Wati masih sangat optimis. Sedemikian optimisnya sehingga Wati, ketika badannya dirasa kuat, pasti ke sekolah. Hampir dua hari sekali aku mampir ke rumahnya untuk meneruskan pelajaran sekolah.  Aku merangkap sebagai guru privat-nya, ngajarin apa aja yang kira-kira aku bisa.  Wati masih sangat bersemangat belajar, meskipun sering tidak sekolah.  Aku cuma bantu sedikit-sedikit, terutama untuk pelajaran fisika dan kimia. Pelajaran lain Wati bisa belajar sendiri. 

Naik ke kelas tiga SMA, aku dan teman-teman agak jarang ke rumah Wati karena kita juga semakin sibuk. Selain sekolah, ada juga pemantapan, dan banyak temen-temen ikut bimbingan belajar. Maklum persiapan ujian akhir dan test untuk kuliah nanti.  Pembicaraan kita seputar angan-angan ingin kuliah di jurusan mana.  Sesekali aku masih mampir ke rumah Wati, dan diskusi masih lancar seperti biasa. Wati bercita-cita, jika nanti sembuh, ingin kuliah di Jurusan Psikologi. Tapi, di semester pertama kelas tiga, Wati makin sering sakit. Kadang-kadang berminggu-minggu tidak kelihatan di sekolah, dan kalo aku tengok di rumahnya, kadang-kadang hanya istirahat tidur-tiduran, katanya pusing dan badannya lemas. 
Kondisi Wati sedikit ceria ketika ada acara pernikahan kakaknya.  Aku sempat datang, dan Wati menyempatkan diri difoto dengan menggunakan baju acara pernikahan. Acaranya sendiri berlangsung sederhana dan ibunya Wati sangat senang karena Wati cukup kuat untuk datang ke gedung  untuk menyaksikan pernikahan kakaknya, meskipun di gedung Wati banyak duduk. Setelah pernihakan kakaknya, ternyata kondisi kesehatan Wati turun terus. Wati lebih banyak diam di rumah, tidak banyak bicara dan lebih banyak berdoa, sholat dan berdzikir. Tiap kali aku datang menengok, aku lebih sering mengobrol dengan ibunya karena Wati sendiri sedang tidur, atau sedang berdzikir di kamarnya. Jika keadaanya sedang enak, biasanya aku sempatkan mengobrol sebentar.

Akhirnya, aku juga jadi agak jarang ke rumahnya karena sibuk bimbel dan sejenisnya. Pernah sekali waktu aku dengar dari teman, katanya penyakit Wati kambuh cukup parah sehingga dibawa ke dokter, tapi tidak sampai dirawat.  Setelah itu kondisinya stabil tapi tetap dalam keadaan lemah.
Sekali waktu, waktu itu aku masih di kelas bimbel, aku dipanggil temen dari luar kelas. Aku keluar dan temenmenyampaikan bahwa baru saja diterima berita Wati meninggal dunia. Sewaktu mendengar kabar itu, aku merasa badan melayang sesaat, kaki berasa tidak menginjak bumi. Aku sedih, tapi tidak bisa menangis, karena aku memang sudah menyadari sejak lama, bahwa mungkin saja suatu saat Wati akan meninggalkan kita semua lebih cepat. 

28 November 1985

Aku masih ingat tanggalnya, 28 November 1985.  Aku ingat karena dulu kan kita punya semacam geng temen-temen, nah semua anggotanya diberi nomor anggota berupa tanggal lahir. Nomor anggota Wati adalah 2911, artinya tanggal 29 bulan November. Jadi Wati meninggal satu hari tepat sebelum ulang tahunnya yang ke 17. Aku sedih sekali membayangkannya bahwa besoknya kita akan mengucapkan selamat ulang tahun di atas nisannya.
Siang itu juga aku mampir ke rumah Wati. Sudah banyak orang. Aku lihat jenazahnya sudah dibaringkan di tengah-tengah ruangan. Wajahnya diikat dengan kain, dan di tengah-tengah keningnya ada semacam tonjolan urat besar. Konon, menurut dokter, penyebab kematiannya adalah pecahnya pembuluh darah di otak. Aku bahkan nggak bisa nangis, hanya duduk diam memandang wajahnya. Sementara orang-orang membicarakan rencana pemakamannya.

Besok harinya kita semua pergi ke Garut, kampung halaman Wati. Rupanya keluarga Wati memutuskan akan memakamkan Wati di Garut.  Sebelum kain kafan ditutup, keluarganya memberi kesempatan untuk melihat terakhir kali. Aku sempat mencium pipi Wati, mengucapkan selamat ulang tahun. Setelah itu, kita semua mengantarkan Wati ke peristirahatan terakhir. Aku masih duduk diam di sisi makamnya sampai semua orang pergi, melihat gundukan tanah merah dansekuat tenaga berusaha menahan air mata. Katanya air mata membuat Almarhumah terasa berat di perjalanan menuju alam barzah. 

Aku teringat hari-hari bersama Wati. "Kamu itu ya.. siapa kecengan kamu sekarang?"; "Ajarin aku fisika doong?";"Iih guru Kimia satu ini nyebelin ya.. Kok aku nggak ngerti2?", dan celoteh-celoteh Wati lainnya. Sambil duduk terdiam di sisi makamnya, di kepalaku terngiang-ngiang lagu Ebiet G Ade. Aku dan Wati waktu itu, sama-sama penggemar lagu-lagu Ebiet G.Ade, salah satunya yang berjudul Camelia IV...

Batu hitam
diatas tanah merah
Disini akan kutumpahkan rindu
Kugenggam lalu kutaburkan kembang
Berlutut dan berdoa
Syurgalah ditanganmu,
Tuhanlah disisimu
Kematian adalah tidur panjang
Maka mimpi indahlah engkau
...................
...................

Setelah menyanyikan lirik lagu itu dengan lirih,  aku nyerah.. nggak bisa nahan tangis... Memang berat dan menyedihkan kehilangan sahabat seperti ini. Sampai sekarang aku nggak pernah lupa detik-detik terakhir bersama Wati.  Penyakit kanker memang mengerikan, dan juga sangat menyedihkan, apalagi jika menimpa orang yang tidak mampu seperti Wati... 
Berbulan-bulan kemudian, saat aku mampir, aku menemui ayah Wati yang masih sering duduk di jendela depan rumahnya, melihat anak-anak sekolah yang lewat dan membayangkan barangkali ada Wati di antara mereka... Sang Ayah berkata: 
Kita bisa menerima kehilangan orang tua, dan berfikir itu wajar, mereka sudah lanjut usia.. Tapi, kehilangan yang usianya lebih muda, sangatlah berat untuk ikhlas..

Kembali kepada kejadian kebakaran rumah Almarhumah. Aku nggak pernah membayangkan bahwa akhirnya, setelah sekian puluh tahun, aku bisa melihat rumah itu lagi. Untunglah kebakaran itu hanya menghanguskan bagian atas rumah, persis di kamar yang dulu sering aku tempati ketika menginap.  Info dari petugas, keluarga Wati yang tinggal di rumah itu tinggal ayah ibunya dan adiknya yang kecil.  Kakak-kakaknya sudah pindah ke berbagai daerah.

Bandung, 21 Februari 2013

Minggu, 13 Mei 2012

Keong Racun eeeh.. SMS Racun..!!

Di suatu malam yang tenang dan tak berbintang, gw terlibat dalam dialog sms seperti berikut :

Ceuceu : bu, ini Ceuceu, jd ikut seminar g?

gw : enggak bu, papernya cm ktrima satu, tp atas nama temen, wilujeng seminar ya bu...

Ceuceu : Oh gt,.. sy ngirim jg telat... mungkin plg telat diantara yg lain, hari senin jam 12 mlm bu..kirain g diterima. Jd dr sini siapa aja bu? ktnya banyakan....

gw : pences, afgan dan ibu.

Ceuceu : siapa afgan? dsn baru.

gw : iya abege di teknik mesin jait (TMJ). Tp produktif lho...jempol bgt, semester ini udh bikin 4 pub, 3 nas 1 intrnas

Ceuceu : wahh hebring atuh aya abg di TMJ mah hehe... bu mnt no hp pences

gw : (ngirim nomer)

Ceuceu : di Teknik mesin cuci (TMC) aya mah aya abg cewe...jigana teu kiat eun mung 1 semester...saurna bade kaluar deui

gw : da di TMC mah mun aya dsn anyar lain dipikanyaah, kalahkah disiksa, jd  we teu betahuen, teu kawas di TMJ, ku sya di-nyaah2, sina maju jeung produktif kan ngamajukeun ngaran TMJ oge.....

{rada lamaaa ngabalesna...., mikir meureun..!}

Ceuceu : Wahh aya gosip baru yeuh di TMC dsn baru disiksa. ceuk saha ie teh? hem..hem.. mun sy mah hayang kaluar teh lain krn dsn TMC nyiksa...balageur dsn TMC mah. tp krn jabfung teu naik2 loba tuntutan di wd mah..teu siga PTS lain..manusia pan punya kelebihan kelemahan sanes? Sesuai aturan dikti we lah...

gw : ah teu kudu ceuk saha2, fakta berbicara.....wkwkwkwk... Buktina naha eta dsn can ge 1 smstr geus rek kaluar deui...

Ceuceu : ktnya sih ada pekerjan yg lebih baik dr wd hehe...

gw : ya iyalah, ngapain jg ngotot di wd kalo emang dpt tawaran di tmpt laen yg lbh bgs dwt n lingk. Sidik sy mah geus kolot, teu payu dimamana, matak ngajedog di wd.

{kirain kasus beres sampe disini...sebenernya ada bbrp sms laen, tp ga gw bales, berhubung dah ngantuk}

Eeeh, dua hari kemudian adalah sebuah rapat di Fakultas, dengan judul "Rapat alokasi ruangan". Meskipun rada geje, tapi gw dateng aja lah... Soale diundang seeeh..!! Laen cerita kalo kagak diundang.. ya nggak?? Lagian, lumayan lhoo, dapet makan siang. (Tadinya gw dah ndak mau dateng, tapi berhubung dapet info dari Jeng Sav, bahwasanya ndak semua diundang, ya jadi dateng laah.. berarti termasuk seleb lokal kan..!)
Pada rapat tersebut, semua seleb lokal dari 3 prodi hadir, yaitu prodi teknik mesin cuci (MC), mesin jait(MJ) dan mesin ketik (MK). Gw sendiri  mewakili unit baru yang (konon) bakal dikelola (ceileee) oleh diriku dimasa mendatang, yaitu unit Etameni Riweuh Pisan (disingkat jadi ERP). 

Diriku stand by duluan(keliatan banget takut nggak kebagian konsumsi yaaah). Trus diikuti oleh kaprodi dan sekprodi masing-masing. Tapi ka.ERP yang lama tidak bisa hadir, meureun nggak suka sama konsumsinya.. Di awal rapat eta kaprodi dan sekprodi MC sibuk seuseurian saling ngeliatin isi HP masing-masing. Tapi wajah kaprodi MC rada seurieus, ditanggapi dengan beberapa ucapan bernada serius dari sekprodi MC, kayaknya ngomongin sesuatu berdasarkan isi tayangan HP mereka (mudah-mudahan bukan konten porno yaaak).

Sooo Rapat dimulai.. berikut ini narasi yang sempet dicatet selama rapat :

Wakil Daekan (WD) : Jadi gini bapak2 dan ibu (diriku satu-satunya cewek, jadi jelas paling cantik laaah). Kita akan menyusun rencana kerja untuk tahun anggaran depan. so silakan berkordinasi, terutama terkait dengan beberapa pejabat baru yang akan menggantikan pejabat lama.

(Glek.. kumaha tah urang kudu koordinasi, lah wong legalisasi aja blum punya...aaah. e-ge-pe).

WD : Terus, agenda yang kedua, kita akan mengalokasikan ulang ruang-ruang di Fakultas XXX sesuai dengan perkembangan jumlah dosen dan peruntukannya. Barangkali ada masukan dari masing-masing prodi?

Kaprodi Teknik Mesin Cuci (MC) : eeeh.. ruang sudah cukup memadai, buat dosen TMC ada pak X, pak Y, dan yang baru prosesor XYZ sudah disiapkan
(tapi nama si eneng nggak disebut  yak? mungkin eneng bukan dosen TMC).

(masih suara kaprodi TMC dengan nada dibuat berat shg terkesan berwibawa...)
Oh ya.. tu dosen abege resign. Alesannya dapet tawaran yang lebih baik (Wkwkwk...garing.. alesan klise). Katanya juga si dosen abege itu ada kegiatan diluar. Saya sudah coba tahan, tapi kayaknya  nggak berubah keputusannya. Saya sudah ingatkan beberapa kesempatan yang belum dimanfaatkan, tapi kayaknya sudah bulat tekad.
Oh ya.. keliatannya orangnya itu kurang komunikatif, dan tertutup.  Menurut gossip, kayaknya dia merasa ada beberapa penugasan yang dirasa sangat berat. Padahal penugasan apa sih (lebay mode "ON"). Kan kita ada sekretariat. Kalo ada tugas dan tidak punya cukup waktu, kenapa ndak minta sekertaris kita yang cantik itu untuk membantu. Menurutnya, dia mendengar info dari kepegawaian, katanya dosen itu jam kerjanya harus 40 jam / minggu. Padahal saya itu kemaren mengalokasikan beban kerjanya hanya 6 sks (laaah, emangnya beban kerja di MC banyak gettooo... sok sibuk gitu looh!!). Saya coba juga libatkan dengan kegiatan seminar, kuliah umum dan lain-lain, tapi keliatannya malah tambah bingung. Ada juga isu, barangkali karena dilibatkan ke kegiatan  hibah, jadi terasa berat. Padahal berat gimana yaaa? (super lebay mode "ON"), orang lain kan enjoy-enjoy aja tuh ngerjain laporan hibah, ya kan pak WD ??

{Hehehehe... para narsis pada ketawa..lha wong berapa orang sih dari mereka yang bener-bener ngetik tuh laporan hibah..!!)}
WD : Barangkali dia nggak ada temen barengannya gitu?

Sekprodi MC: iya pak, orangnya agak tertutup, Padahal kita di prodi orangnya baek-baek koq.. pada welcome.

Daekan (DK) : trus si eneng yang di MC itu, mau dipake atau dilepas ? 

Sekprodi MC : keliatannya sudah sulit dipertahankan pak. Karena keliatannya dia terpaksa kerja di MC. Katanya dia merasa tersiksa.
Kaprodi MC (ngebumbuin) : iya pak, keluhannya itu sudah menyebar kemana-mana. Kan kalo tersiksa gitu gimana ya pak, nggak enak juga kitanya. Susah juga kita memahaminya pak. Seperti penugasan pertama ngajarnya itu kan, matkul similikitisekali. Setau saya kan katanya dia sudah berpengalaman mengajar operasional (apaa gitu..), eh ternyata dia malah balik bertanya, apakah isi kuliahnya tidak terlalu tinggi? Entah tidak sanggup atau gimana
(Wkwkwkwk.. ni orang tulalit juga ya nafsirin omongan orang laen..)

Sekprodi MC : Katanya dia tersiksa, dan sudah tersebar info ke orang-orang bahwa di MC itu suka nyiksa. Jadi kayaknya dia udah nggak enjoy lagi di MC.
{Laaah... kayaknya sms gw diforward tuh ke si upin-ipin. Buktinya setelah ini mereka bercanda hahahihi dengan isi pembicaran berupa sisindiran isi sms gw itu lhoo, misalnya.. "nyiksa gimana sih? emangnya kita suka mbentak-bentak apa.. Tunduk ...tunduk...., nggak kan..?" Jiaah nggak elit banget tuh si upin-ipin. Tekad dalam hati : goodbye si Ceuceu, gw gabakalankenal lagi. Meski situasi sebenarnya rada panas, tapi gw bisa menyalurkan esmosi dengan tetep ngetik-ngetik-ngetik dan ngetik)
WD : katanya background si eneng itu di bidang teknik mesin cuci kurang ya?

Kaprodi MC : Iya kayaknya sih, s1 nya kan teknik mencuci, s2 baru teknik mesin cuci ..
sy kecewa dgn sikap di atas, pimpinan dan prodi kayak dah gak ada wibawa lagi. Ke depannya jgn sampe kayak gitu. kalo kayak gitu, ya kedepannya autopilot aja, nggak perlu ada kaprodi dan sekprodi

WD : Saya tanya ke SDM, bagaimana masalah si eneng ini. Menurut SDM sepertinya karena si eneng ini nanti akan ke Timbuktu, ya gimana nanti lah..
(pulang dari Timbuktu apa buka klinik pijat shiatsu aja ya..?)
Kaprodi MC : ooh ya biarin lah.. kan nanti-nanti mah mungkin orangnya udah ganti semua.

WD : bagemana di prodi mesin jait?
kaprodi mesin jait : ooh soal dosen baru, tdk ada masalah, tapi ya ada dikit siih, misalnya ada komplen dari mhs tentang cara ngajar.
(Tapi trus dibela sama calon sekprodi, mungkin karena ngajar matkul yang orang laen pada nggak mau).

eeeh.. sekprodi MC  ikut  nimbrung :
oooh di MJ mah dosen baru dipikanyaah ya... emang kudu dinyaah2 gitu supaya betah...!!
(weiitss.. isi sms gw lagi niih, tapi keep calm down lah. Kayaknya yang laen ga ngerti kemana arahan sisindirian si upin-ipin tsb dan gw nggak menanggapi atau menunjukkan ekspresi apapun. Cuex beybeh)
WD : nah terus soal ruangan nih.. gimana

Kaprodi MJ : ada usulan dari calon kaprodi MJ yang baru dan sepertinya cocok. Itu lho, gimana kalo kaprodi dan sekprodi MJ dan MK disatuin aja di ruang yg sekarang ruang ERP itu lho. Trus ruang ERP dipindah ke ruang sekretariat MJ sekarang. Biar deketan sama fakultas, shg nggak jalan jauh kalo ada urusan (weleh..weleh.. kasian.. cape jalan). Lagian biar mhs nggak banyak kesasar kalo nyari ruang ERP.

Yang laen manggut-manggut setuju. Gw masih diem seribu basa, walau dalam hati jengkel. Kurang ajarr!! Jadi ruang itu mau digeser tooh. Padahal motivasi utama gw mau jadi pengelola ERP kan karena ruangannya.
Trus obrolan muter seputar ruangan, tapi dengan nada "mengecilkan" ERP, misalnya :
  • kegiatannya kan cuma sertifikasi doang, nggak perlu ruangan gede
  • trus di ruangan sekretariat sekarang banyak buku, nggak usah dipindahin, kita jadiin hiasan aja kalo itu nanti jadi ruangan ERP.
  • trus orangnya juga cuma berapa ya?  sedikitan kan?
  • Kegiatannya selama ini gimana? nggak terlalu banyak kan?
Dalam hati..sebodo...sebodo..sebodo...!!

Eeeh, akhirnya WD nanya juga secara formal kepada diriku, dan aku menjawab :
Sehubungan dengan belum diterimanya legalisasi bahwa diriku kelak menjadi pengelola ERP, so aku sih no-comment dan e-gepe banget. Manakutau apa ERP itu sibuk apa ndak, apa aja kegiatannya, sapa aja anggotanya, gimana rencana kerjanya, dlsb. Lah  wong mau nanya aja aku tatut.. nggak punya landasan hukumnya koq..!!
Tanggapan berseliweran, nggak jelas lah.. emang gw pikirin. Tapi salah satu tanggapan menarik perhatian.. gimana tuh ex ruang MM di bawah? Weeey.. tiba-tiba terlintas ide.. knapa nggak gw embat aja yaaa.. daripada ribut ngerebutin tempat di atas. So bersabdalah gw :
Begini bapak-bapak, sebenernya kayaknya jika memungkinkan, mendingan ERP itu pindah ke bawah aja deh. Soale kalo disini kan kesannya sebagai bagian dari Fak.XXX.  Padahal kan bukan (ceileee...sekalian repositioning niih!! Apa hak mereka sih ngatur2 ERP?). Nah supaya lebih terbuka layanannya, mendingan di bawah, mosok ndak bisa booking 2-3 ruangan siih?
Diluar dugaan, banyak yang setuju (dalam hati.. Alhamdulillah.. gw bisa mojok deh.. kalo tercapai!!)

(rapat ending, gw pulang sambil bawa satu kotak paket makan siang)

Sebenernya gw sebel banget sama si Ceuceu yang ternyata nampaknya nerusin sms gw ke si upin-ipin. So.. sampe rumah, malem-malem gw posting status spt ini di FB (setau gw si ceuceu ini rada rajin memantau status FB gw.. maklumlah, gw kan seleb lokal).
ya Allah, lindungilah dan jauhkanlah aku dari urusan dengan orang-orang yang "tunga" alias tukang ngadu. Jangan sampai aku berurusan dengan mereka lagi, karena mereka tidak pernah bisa menerima silaturahim denganku sebagaimana dgn sodara mereka sendiri...("Tunga" alias tukang ngadu, jelema nu sok ngadu2keun omongan kita, ke org yg mereka anggap lebih ber"kuasa", dengan ekspektasi menjatuhkan org yang ngomong tsb, dan bukan menganggap kritik/saran tsb utk perbaikan sesama, dah gitu ngaduinnya ga bilang2 lagi, alias HASEUM... pengecut..!!).
3 jam kemudian, masuk sms di hp :
Bu, punten, sy tdk bermaksud ngadu sm jur, sy cm blg apakah MC spt apa yg ibu ktkan..sy kira mereka tdk akan memperpanjang. Punten klu emang sy yg salah...sy jg tetap mau  menjaga silaturahmi dg siapapun termask dg ibu.....
Haag...siaaah..!! beunang..!! Sudah tentu sms tersebut ogah gw bales. Ngabis-ngabisin pulsa, dan kapok, nanti diforward lagi...!!

Eiiitsss... kirain khatam ceritanya...Ternyataaaaaa eeeeh ternyataaaa kira-kira 3 hari kemudian, saat gw sedang anteng-anteng ngadem di salah satu tempat ngajar yang tergolong mewah (mepet sawah), tiba-tiba telpon berdering. Sang WD yang baik hati itu menelpon, menginformasikan bahwa KaProdi MC membuat surat resmi yang berjudul "klarifikasi atas sms sdr.xxxx".  Suratnya ada di meja gw, dan parahnya, tuh surat ditembusin ke beberapa tempat seperti ke beberapa kaProdi, fakultas dan pembantunya rektor (sekalian ke kasir kantin sama tukang parkir meureun..!!). Pada surat tersebut dilampirkan juga isi SMS gw, tapi bukannya hasil print screen, tapi diketik ulang (nggak soheh tuuuh... !! mosok diketik ulang, apa buktinya tuh sms dr gw??).  Sang WD minta gw bisa menyelesaikan masalah tersebut.  Deeeuh... betttteeee bangets ga siiih....?? Saking jengkelnya tuh telpon pas ditutup sampe gw banting sampe tutup dan baterenya pada berlepasan. Untunglah hp Samsung Champ itu memang juara, dah sering berantakan, tapi dengan segera bisa hidup kembali.
Mula-mula esmosi, pengen rasanya gw nelpon si Kaprodi MC, tapi setelah dipikir-pikir.... naha nya urang ngalawan nu gelo jeung gegeloan deui? Masalahnya si biang keroknya (si Ceuceu) yang menurut gw harus dapet pelajaran.  Mun ngalawan nu gelo mah percuma meureun...!! Ngehabis-habisin energi aja.  Tadinya gw juga mau nelpon si Ceuceu... tapi setelah gw pikir-pikir, kayaknya nggak mungkin juga dia dapet pelajaran kalo sekedar gw omelin. Mesti ada yang lebih keras efeknya...
So.. setelah esmosi mereda,  juga setelah bercurhat ria dengan beberapa rekan yang pernah menjadi korban surat nggak jelas dari Kaprodi MC tersebut, akhirnya gw menyusun strategi.  Intinya gw nggak pernah mau lari dari masalah, tapi ya harus dihadapi.  Fakta emang gw yang kirim sms, tapi nggak bermaksud heboh sampe seperti ini. So..ini yang mau gw kerjain.
Bagemana caranya supaya si Ceuceu berhasil gw gandeng menemui pembantunya rektor. Secara pengalaman yang udah-udah, setiap Rabu si pembokat suka ada di ruangannya. Sebage introduction, pura-pura kita ngomongin proposal apaaa gitu.. Soale kemaren nampaknya si Ceuceu semangat pisan pengen ikutan proposal tsb.  Jadi pura-pura gw mau ngajak si pembokat buat bergabung. Maka.. gw sms lah sang pembokat rektor, berbasa-basi bahwa gw mohon petunjuknya untuk keikutsertaan pada hibah penelitian.  Gayung bersambut, si pembokat bersedia gw temui.  Setelah OK, gw juga mengutus arm and foot (kaki tangan...ha...ha...) buat mencari info jadwal ngajar si Ceuceu pada hari Rabu. Rencananya mau gw todong pas dia selesai ngajar, mau gw tongkrongin di depan kelasnya. Oleh karena itu gw nggak sms Ceuceu, kan ceritanya kejutan...!!
Hari Rabu tiba, gw dah siap fisik dan mental. Jam 12 gw telpon si Ceuceu... eh taunya.... dia NGGAKNGAJAR.... walah....siallll..... Selagi gw galau mikirin apa backup plan lainnya... tiba-tiba gw dipanggil sama si mbah dari Fakultas.  Ini bener-bener diluar rencana dan gw pikir-pikir nggak mungkin juga menghindari si mbah. Jadi ya gw hadapi aja dengan setulus hati.....(cieee gayanya...)
Mbah Fakultas ternyata manggil memang mau ngebahas hal tsb. Gw langsung unjukin hasil conversation di hp yang emang blum gw delete tsb...

Mbah Fakultas (MF) : Gimana nih kamu.. kok sampe muncul surat kayak gini.. malesbangedddeeeh.. nanggepinnya...!!

gw : ini looo pak... baca deh... konteks nya kan cuma becanda ledek-ledekan gitu...

MF:  Oooh gitu.. biasa itu kan.. ledek-ledekan... tapi kenapa KaProdi MC jadi sensi gitu yak??

gw : Gatau tuh pak... lagian gw nggak ngirim sms ke dia kok...

MF:  Lha.. knapa juga si Ceuceu memforward ke KaProdi yak?

gw : Gatau juga lagi....

MF : Kamu punya masalah sama KaProdi MC?

gw : Nggak siii seinget gw. lah wong nomor hp nya aja gw nggak punya... nggak pernah urusan ama dia...
ngajar di prodi dia aja cuma pernah dulu satu semester doang.. gatau tuh..

MF : Walaah.. kalo gitu mungkin kamu harus ngurangin dikit lah cuap-cuapnya.. jangan terlalu sering jadi vokalis. Kalo terlalu sering berkicau, orang-orang jadi pengen nembak ngkali yak...?

gw : Lhooo saya kan cuma bermaksud mengutarakan pendapat, atau konfirmasi atas masalah, nggak bermaksud buruk pak.. cuma cari solusi aja... tapi itupun sejauh ini nggak pernah ada urusan terkait dengan Prodi MC.

MF : Yaaa... ngkali aja.. reputasi kamu tuh jadi terkesan demikian... so kurangi dikit lah.. jangan kamu yang berkicau.. tapi beri motivasi orang laen supaya berkicau...

gw : Yaaa...... iya sih kayaknya, capek juga sih ribut mulu sama orang-orang.... Tapi, urusan sama si Ceuceu gimana niih?

MF : Ya kudu diberesin, ajaklah si Ceuceu menghadap...  Soal surat si doski ini... gabakalan gw tanggapin aah... malesbangedddd  daaaah...!!

gw : Oooh gitu.. oke, bentar saya telpon dulu ya..., sebenernya hari ini juga saya rencananya mau ngajak si Ceuceu, taunya dia nggak ngajar.

Gw telpon ceuceu di depan si mbah, aku janjian ngajak ketemu jumat. Si mbah setuju.
Trus, urusan sama pembokatnya rektor gimana niih? Mosok gw nggak jadi menemui.. gengsi laaah.. kan gw yang minta waktu ketemu.... nggak sopan kalo nggak dateng...
So.. pada jam yang sudah ditetapkan, gw akhirnya menghadap sang pembokat. Intronya seperti rencana gw, yaitu berpura-pura minta petunjuk untuk proposal penelitian.. sok imut laaah pokoknya.... Eeeh, setelah topik pertama selesai, kayaknya si pembokat juga dah nggak sabar mau ngomongin soal surat si Bang Toyib itu..eh.. KaProdi MC.  Gw dah bertekad mau ngomong apa adanya, so gw tunjukin lagi tuh hasil conversation di hp gw...

Pembokat R (PR) :  Ooooh... kalo gitu sih nggak nyebut2 nama si KaProdi?

gw : Nggak ... lah wong konteksnya juga becanda.. tuh yang dilampirkan di surat nggak full dialog siiih..

PR : Waah.. kalo gitu sih nggak usah diperpanjang laaah.. Kenapa lagi si Ceuceu sampe mem-forward sms itu ke orang laen ya....?

gw : Naaa...entu die yang ane gatau....

PR : Ya ribet lah kalo setiap sms yang diterima trus diforward. Komo mun sayah mah.. mun ku sayah di forward ke rektor semua sms yang nggossipin kampus kita ini.. waaah... bisa berabe tuh urusannya.. cape lah....... jadi nggak usah diperpanjang laaah... ya udah ... kamu beresin aja urusan sama si Ceuceu..

Okay... segeralah gw pamit dari ruangan si pembokat rektor.
Hari Jumat tiba.. kira-kira jam 11.30 gw langsung sms si ceuceu minta ketemu. Eeeh.. dia mau ngacir lagi, katanya ada perlu, trus gw bilang.. gimana sih.. gw dah janji mau ketemu mbah Fakultas, mau ngomongin proposal hibah.. bentaaaar aja...!! Toh jam 13.00 gw juga mau ngajar, si mbah juga mau ngajar... Akhirnya si ceuceu setuju...
Kira-kira 3 menit sebelum si ceuceu nongol, gw bilang ke si mbah, bahwa nanti setting nya tuuuh gw mau ngomongin proposal dulu.. baru masup ke main course... si mbah bilang... "langsung ajaaa laaah... saya mau buru-buru ngajar".. Gw bilang...aaalaaah bentaran aja mbah... gw juga mau ngajar niiih... Akhirnya siMbah setuju.
Si ceuceu  nongol, langsung dengan ekspresi riang gembira gw ajak menghadap si mbah, Gw bilang, gw mau minta si mbah supaya include di proposal, biar nendang gitu...!! Si ceuceu dengan semangat 45 setuju.  Setelah berbicara soal proposal kira-kira 5 menit, si ceuceu dengan semangatnya  bercurhat ria, bahwa dia semangat banget pengen ikutan proposal penelitian tsb, tapi  kok kayaknya nggak didukung, dlsb...dlsb... Gw cuma ngebantuin mengkomporin si Ceuceu supaya lebih bersemangat curhat-nya. Setelah si ceuceu selesai curhat soal proposal, barulah si mbah mengeluarkan surat cintrong tsb, dan langsung bertanya.. 
ini apa maksudnya yak?
Jleeebbbb si Ceuceu yang mungkin nggak nyangka bakal dibawa ke masalah tersebut agak ba-bi-bu waktu menjawabnya.... dia bilang .. dia cuma ingin memberi masukan ke prodi, dlsb...dlsb.. katanya dia juga sudah mencegah supaya kaprodi jangan buat surat tsb, nggak usah diperpanjang dlsb (oooh.. berarti dia tau dong kalo tuh si Upin Ipin bakal bikin surat).
Si ceuceu ngejawab, bahwasanya dia nggak bermaksud buruk, bahwasanya dia masih tetap berhubungan baik sama gw, masih tetap bersahabat (jiiiiaaaah...!! sejak kapan???), nggak ada maksud menjelek-jelekkan gw sama sekali...gitu katanya... (bisa-bisanya dia mendeklarasikan diri sebagai teman gw..!!)
Trus si Mbah bilang, laen kali nggak perlu lah nge-forward sms orang ke orang laen, kalo isinya bakal menyiram bensin ke api spt itu... entah kenapa tuh Upin ipin koq sensi banget  yaak...
Trus si Ceuceu berusaha berkelit..... membelokkan masalah ..

Ceuceu :  Tapi pak.. yang penting itu menurut saya... dari mana tuh informasi.... perlu dicari sumbernya, siapa yang bilang bahwa dosen di prodi MC itu diperlakukan spt itu...

MF : Itu laen soal Ceu..... yang penting ini urusannya harusnya  nggak sampe seperti ini. Harusnya cukup selesai sampe tataran sms aja. Kan itu cuma sms.

Ceuceu : Iya pak.. tapi kan kita juga pengen tau kalo ada masukan seperti itu, apa bener? Naah.. dari mana asalnya masukan seperti itu...?
Deuuuh ni orang.. berusaha membelokkan perkara... mengungkap nara sumber gw.. menjebak gw supaya menyebutkan nama orang laen.. untuk memperpanjang masalah dan membelokan point of interest...kayak fungsionaris politik aja...
MF : Yaaa nggak perlu lah itu.. kalopun memang ada, itu biar dibicarakan di forum lain, bukan disini.  Kan biasa lah kalo ada yang ngeluh atau komplen. Kalo si Kaprodi MC itu sewot begini, orang kan jadi tambah heran.. jangan-jangan gossip itu bener.. Kalo nggak bener.. ya harusnya dicuekin aja...

Ceuceu : Tapi kan menurut saya pak, untuk kebaikan Prodi MC harusnya itu ditanggapi

MF:  Ya nggak kaya gitu banget kaleeee cara menanggapinya.... ya udahlah pokoknya laen kali jangan sampe ada masalah spt ini laaah.

Trus si Mbah melanjutkan percakapan sama topik-topik laen, mungkin maksudnya mencairkan suasana, supaya si Ceuceu nggak terlalu tegang... dah gitu... bubar ajaaaa...
Gw si puas ajaa... puas ngeliat ekspresi si Ceuceu waktu ditanya sama si Mbah, gw cuma pengen tau kayak apa sih jawabannya. Cuma ni orang memang kudu masup "Warning" area... berbahayaaaa.... bisa-bisanya dia begitu sama ane, padahal tadinya gw bermakesud menolong dia, membantu masalah dia. Secara gw ini baik hati dan tidak sombong...(haaalaaah... jijay deeh..!). Tapi berhubung kelakuannya gitu, dalam hati gw berharap.. mudah-mudahan di kemudian hari gw jangan sampe ada urusan apapun sama dia.