Breaking News

Minggu, 20 September 2015

All About Tamed



Okey, daah lama banget pengen bikin ulasan tentang buku ini. Buku yang pernah aku miliki jaman dahulu kala, ketika masih muda belia, tapi masih tetap aku ingat sampai sudah tua renta.. ha..ha..ha.. Sayangnya, edisi bahasa Indonesianya sekarang sudah sussaaaah banget dicari.  Dulu waktu pertama beli, pertama baca, blank..blass nggak ngerti apa-apa. Baca lagi, dua kali, tiga kali, sampe akhirnya aku bisa dikit-dikit paham. Ditambah dengan keahlian aku mendramatisir, maka, jatuh cintronglah aku sama buku ini. Judulnya "The Little Prince", karangan Antoine de Saint-ExupĂ©ry.  Naah ini salah satu bagian favoritku, yang terus aku inget sampe saat ini. Supaya enak, ya aku terjemahin bebas aja laah ya... meski nggak ijin dulu sama oom Antoine.. maaf ya Oom, aku share full chapter disini, supaya dapet "ambience" nya, nggak sekedar potongan quotes aja seperti yang banyak bertaburan di mbah google.

Dari buku "The Little Prince",  Chapter 22 
[Translate suka-suka by flash]




 Suatu pagi, pangeran kecil bertemu dengan seekor rubah.
“Selamat pagi”, kata si rubah
“Selamat pagi”, pangeran kecil menjawab dengan sopan, sambil melihat sekeliling, tapi dia tidak melihat apapun.
“Aku di sini, di bawah pohon apel”, terdengar suara kecil.
“Kamu siapa?”, tanya pangeran kecil, dan lanjutnya “kamu terlihat cantik sekali”
“Aku seekor rubah”, kata rubah.
“Ayo kesini, main denganku”, ajak pangeran kecil. “Aku sangat tidak gembira”.
“Aku nggak bisa main dengan kamu”, kata si Rubah. “Aku belum dijinakkan”.
“Ah! Maaf kalo begitu”, kata pangeran kecil.
Tapi, setelah berfikir sesaat, pangeran kecil bertanya: “Apa yang dimaksud dengan ‘dijinakkan’?”
“Kamu bukan orang sini ya?”, kata si Rubah. “Apa yang kamu cari disini?”
“Aku mencari manusia”, kata pangeran kecil. “Apa artinya ‘dijinakkan’?”
“Manusia”, kata si Rubah. “Mereka punya senjata, dan mereka memburu. Itu sangat mengganggu. Mereka juga memelihara ayam, hanya hal itu yang menarik buat mereka. Apa kamu mencari ayam?”
“Nggak”, kata pangeran kecil. “Aku nyari teman. Apa artinya ‘dijinakkan’?”
“Itu merupakan tindakan yang sering sekali diabaikan”, kata si Rubah. “Itu artinya membangun ikatan”.
“Membangun ikatan?”
“Ya seperti itulah!”, kata si Rubah. “Buat aku, kamu bukan siapa-siapa, hanya anak kecil, sama seperti ratusan atau ribuan anak kecil lainnya. Aku nggak perlu apa-apa dari kamu. Dan kamu juga, nggak perlu apa-apa dari aku. Buat kamu, aku bukan apa-apa, sama seperti ratusan atau ribuan rubah lainnya. Tapi, kalo kamu menjinakkan aku, maka kita akan saling membutuhkan. Bagi aku, kamu akan menjadi unik di dunia ini. Bagi kamu, aku juga menjadi unik di dunia…”
“Ooooh, aku mulai ngerti…”, kata pangeran kecil. “Aku pernah kenal satu bunga….. Aku pikir dia sudah menjinakkan aku…”
“Mungkin aja”, kata si Rubah. “Di bumi ini orang melihat banyak hal.”
“Tapi, ini bukan di Bumi”, kata pangeran kecil
Si Rubah tampak terkejut, dan sangat ingin tahu.
“Di planet lain?”
“Ya”
“Apakah ada pemburu di planet tersebut?”
“Nggak”
“Aah, menarik sekali!! Apakah disana ada ayam?”
“Nggak”
“Nggak ada yang sempurna,” desah si Rubah.
Tapi, si Rubah kembali ke idenya semula.
“Hidupku sangat monoton.” Kata si Rubah. “Aku memburu ayam, manusia memburuku. Semua ayam keliatan sama dan semua manusia juga sama. Dan, akibatnya, aku jadi bosen. Tapi, jika kamu  menjinakkan aku, itu seolah-olah bagaikan matahari bersinar dalam kehidupanku. Aku akan tau suara langkah yang berbeda dengan yang lain. Langkah-langkah yang membuat aku buru-buru keluar dari lubang persembunyianku.  Langkahmu akan memanggilku, seperti musik, memancing aku keluar dari sarang. Dan lihatlah… kamu lihat ladang gandum disana? Aku nggak makan roti. Gandum nggak ada gunanya buat aku. Ladang gandum itu nggak ada artinya buatku. Dan itu menyedihkan. Tapi, lihat rambutmu yang berwarna keemasan seperti ladang gandum!! Coba pikirkan.. betapa indahnya jika kamu sudah menjinakkan aku!! Ladang gandum, yang juga berwarna keemasan, akan membuatku teringat akan kamu. Dan aku akan senang mendengarkan angin bersemilir di tengah tangkai gandum….”
Si Rubah memandang pangeran kecil, agak lama….
“Ayooo.. jinakkan aku..!!”, kata si Rubah.
“Aku ingin sekali, sangat ingin!!”, kata Pangeran Kecil. “Tapi aku nggak punya banyak waktu.  Aku punya banyak teman yang harus aku temui, dan harus memahami banyak hal”.
Orang hanya memahami apa-apa yang sudah dia jinakkan”, kata si Rubah. “Manusia nggak punya cukup waktu memahami semuanya. Mereka membeli sesuatu yang sudah tersedia di toko-toko. Tapi, nggak ada satu tokopun dimana seseorang dapat membeli persahabatan, oleh karena itu, orang-orang nggak bisa lagi punya sahabat.  Kalo kamu ingin punya teman, sahabat, ayo.. jinakkan aku..!!”
“Apa yang harus aku lakukan, untuk menjinakkan kamu?” kata pangeran kecil.
“Kamu harus sabar,” kata si Rubah. “Pertama-tama, kamu akan duduk pada jarak yang agak dekat- yaa nggak terlalu dekat- di rumput. Aku akan melirik kamu, dan kamu bakal diem aja. Nggak usah ngomong apapun. Kata-kata sebenarnya sumber kesalahpahaman.  Terus, kamu duduk semakin dekat, semakin dekat, setiap harinya…”
Besoknya Pangeran Kecil kembali lagi.
“Sebaiknya kamu kembali pada jam yang sama,” kata si Rubah. “Jika, misalnya, kamu setiap hari datang jam empat sore, maka menjelang jam tiga, aku akan mulai gembira. Aku akan merasa makin gembira dan gembira setiap detiknya menjelang jam empat. Ketika jam empat tiba, aku sudah sangat siap untuk melompat-lompat. Aku ingin menunjukkan kepada kamu betapa gembiranya aku!! Tapi kalo kamu datang sesukamu, aku nggak tau kapan hati ku siap untuk menemui kamu… orang tuuh harus melakukan sesuatu dengan ritme tertentu…”
“Apa itu ritme…?”, tanya Pangeran Kecil.
“Naah, itu dia, satu lagi hal yang sering diabaikan orang,” kata si Rubah. “Ritme adalah sesuatu yang membuat satu hari berbeda dengan hari lainnya, satu jam berbeda dengan jam lainnya. Itulah ritme. Misalnya, kebiasaan para pemburuku, setiap Kamis mereka mengadakan pesta dansa. Maka, Kamis menjadi hari yang indah bagiku!! Aku bisa jalan-jalan di hutan bahkan sampai dekat kebun mereka. Tapi, kalo para pemburu itu berdansa sesuka-sukanya, nggak jelas kapan waktunya, maka setiap hari akan sama seperti hari lainnya, dan aku jadi nggak punya hari libur dan hari bersenang-senang sama sekali”.
Maka… akhirnya… si Pangeran Kecil menjinakkan Rubah.  Sampai akhirnya datanglah waktu mereka harus berpisah.
“Ah…aku pasti menangis!!” kata si Rubah.
“Lhaa, itu kan salah kamu sendiri,” kata Pangeran Kecil. “Aku nggak pernah menawarkan hal-hal yang membahayakan kamu, tapi kamu malah pengen aku menjinakkan kamu…”
“Yaa, begitulaaah…”, kata si Rubah.
“Tapi kamu sekarang malah mau nangis!”, kata Pangeran Kecil.
“Yaa, begitulaaah…”, kata si Rubah.
“Kalo begitu, apa yang kita lakukan, nggak baik sama sekali!!”
“Menurutku sangat baik”, kata si Rubah, “karena warna dari ladang gandum itu..”, kemudian si Rubah menambahkan :
“Pergi dan liat lagi bunga-bunga di kebun itu Kamu akan mengerti bahwa bunga mawarmu itu sangat unik dibandingkan bunga-bunga lainnya. Kemudian, balik lagi ke aku untuk mengucapkan selamat tinggal, dan aku akan menghadiahi kamu beberapa rahasia”.
Pangeran kecil pergi sebentar, melihat kembali bunga-bunga mawar di kebun.
“Kalian sama sekali nggak seperti bunga mawarku”, kata Pangeran Kecil. “Kalian bukan siapa-siapa. Nggak ada yang menjinakkan kalian, dan kalian juga nggak menjinakkan siapapun. Kalian sama seperti rubahku ketika pertama aku kenal dia. Dia cuma seekor rubah, sama seperti ratusan ribu rubah lainnya. Tapi aku sudah membuatnya menjadi temanku, dan sekarang dia menjadi unik di seluruh dunia”.
Dan, para bunga mawar itu menjadi sangat malu…
“Kalian memang sangat cantik, tapi hampa,” kata Pangeran Kecil sambil berlalu. “Nggak ada yang rela mati buat kalian  Aku yakin, awalnya aku pikir bunga mawarku sama seperti kalian, bunga mawar yang aku miliki itu. Tapi, sebenarnya bunga mawar milikku itu, sangat penting dibandingkan dengan semua bunga mawar seperti kalian; karena bunga mawar itulah yang aku siram; karena bunga mawar itu lah yang membuat aku menyiapkan pelindung / tutup gelas, karena bunga mawar itulah yang aku tutupi dan jaga di bawah pelindung, karena bunga mawar itulah yang menyebabkan aku membunuh ulat-ulat (kecuali beberapa yang memang kami selamatkan, supaya menjadi kupu-kupu), karena bunga mawar itulah yang membuat aku mau mendengarkannya, ketika dia ngomel-ngomel, atau marah-marah, atau saat dia nggak ngomong apapun. Karena dia bunga mawarku..!!”
Kemudian, dia balik lagi untuk menemui si Rubah.
“Selamat tinggal”, katanya.
“Selamat tinggal”, kata si Rubah. “Sekarang aku akan kasih hadiah rahasiaku ya…, rahasia yang sangat sederhana : hanya dengan hati orang dapat melihat dengan benar ; yang sangat penting itu tak terlihat oleh mata”.
“Yang sangat penting, tak terlihat oleh mata,” Pangeran kecil mengulang, supaya yakin dapat mengingatnya.
Waktu yang kamu habiskan untuk bunga mawarmu itu yang membuat bunga itu menjadi sangat penting”.
“Waktu yang aku habiskan untuk bunga mawarku……”, Pangeran Kecil mengulang kembali, supaya ingat.
“Manusia sering lupa kenyataan ini,” kata si Rubah. “Tapi kamu jangan lupa hal ini ya… Kamu harus bertanggung jawab, selamanya, untuk apa-apa yang sudah kamu jinakkan.  Kamu bertanggung jawab untuk bungamu…”
“Aku bertanggung jawab terhadap bungaku....", ulang Pangeran Kecil, supaya dia tidak lupa....
----------------  end of chapter 22  ----------------------

Rabu, 17 Juni 2015

Di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Gambar diambil dari blog batur...


Dulu...
nyaris 25 tahun yang silam
bahkan mungkin lebih lama lagi
ketika kaki-kaki masih berukuran kecil
dan badan-badan masih terasa ringan melayang
melangkah menempuh celah-celah gang
menyusur tangga-tangga kebun binatang
menapak di bawah rindang pohon-pohon Ganesha
menuju Masjid Salman

Mencari pengetahuan
Mencari jawaban
atau sekedar mencari kesibukan
mengisi waktu luang
mencari rekan berbincang
atau sekedar menghabiskan waktu berjam-jam
untuk duduk di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Sengaja tak sengaja kami bertemu rekan
yang kemudian menjadi saudara seperjuangan
memperjuangkan sebuah keyakinan
bersama-sama berusaha memperkuat iman
atau sekedar saling mengingatkan
juga berdiskusi membuka wawasan
membuka mata, hati dan pikiran
sembari duduk di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Lantai masjid hitam dan dingin
Pintu masjid terbuka dan berangin
Halaman masjid agak becek dan licin
tapi kami tetap berkumpul dengan rajin
di sepanjang selasar dan teras masjid
juga di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Lalu cerita bergulir di tengah hiruk pikuk minggu pagi
di sepanjang jalan setapak di sela-sela gedung kayu
di bawah rindang pepohonan taman Ganesha
di meja-meja kayu kantin Salman
juga di bawah pilar-pilar Masjid Salman

Di sana kami mengenal teman
Di sana kami mengenal saudara
Di sana kami mengenal diskusi dan bertukar pikiran
Di sana kami mengenal harapan
Di sana kami mengenal cinta

(Lalu aku terkenang pada satu waktu
ketika kami terkikik bergossip tentang para mentor kita
yang konon terlibat sedikit bumbu asmara..!! aha...??
huss...jangan ngegossip dek!!)

Tanpa terasa selasar masjid memberikan arti
menggores makna pada pencarian jati diri
menyisakan kenangan tak kunjung pupus dari hati
juga segenap cerita gembira dan sedih
tentang rekan dan saudara
yang masih ada atau sudah tiada
yang masih terikat atau sudah terpisah

(lalu aku terkenang dengan beberapa wajah
yang sudah berpuluh tahun tak pernah terlihat
dan tiba-tiba hadir kembali dalam peta ritme harian
sebagai rekan, kolega dan saudara)

Betapa waktu mengikat kita
Betapa cinta membelit kita
menyeret kenangan dan harapan
membuka semua cinta dan batasan persaudaraan
yang dulu pernah lebur di bawah pilar-pilar masjid Salman
Tetapi waktu tak pernah kembali
pada masa dimana semua terasa murni
dan gaungan azan terasa menggetarkan hati
di bawah pilar-pilar masjid Salman

Aku rindu
pada dinginnya hembusan angin di sepanjang selasar masjid
pada aroma segar embun pagi di halaman masjid
pada sentuhan air di tempat wudhu masjid
pada rekan lama yang pernah berjumpa di masjid
pada ghirah lama yang tertinggal di tangga-tangga masjid
dan pada rasa persaudaraan
di bawah pilar-pilar masjid Salman

Mungkinkah waktu akan berputar bergiliran
menghantar generasi berikutnya menapak tangga masjid
menjalin kembali rasa persaudaraan yang sempat hilang
menghangatkan lagi aroma cinta dan persahabatan
menyambungkan cerita yang dulu mungkin tak terselesaikan
pada ruang-ruang masjid
pada halaman masjid
dan di bawah pilar-pilar masjid Salman

(Kutulis ketika didera kerinduan yang menggunung
pada aroma rumput di halaman masjid
pada wajah-wajah yang sudah lama tak kulihat)

---------- 07 Januari 2011 -----------------
untuk mengenang teman-teman, kakak mentor, dan semua saudara dan sahabat yang pernah aku temui di Masjid Salman, para anggota KARANG 86, juga untuk beberapa sahabat tercinta, almh Wati Ristawati , alm Hendra Permana, serta sahabat-sahabat SKJ semua (you know who you are!!).

Beberapa komentator....



Destiny Game

It was a destiny journey
when the first time i caught you
from the million dots of line

it was a destiny journey
when the first time i felt you
from the million words in line

after the long time journey
proof that i still have you
in part of my memory line

or it just a destiny game
when eventually i know you
that have kept the same desire
still flaming warm up the heart

just walk on a destiny way
when we can not stop to walk
or we can not stop to talk
and the time can not make it sway

until the time is passing
embrace us with loving
or throw us without giving
what the end of love meaning

and i will keep on sailing...
on the way of destiny flowing...


----------- 20 November 2010 --------------------
(Dibuat sesuai dengan EYD : English Yang Diragukan
awasss ya kalo ada nyang ga percaya kalo ini aseli karangan sayah 100%!! )

Reuni



Hai Reuni...!!
Reuni SD, SMP, SMA, Kuliah, dan bahkan reuni TK
Hati yang dingin tiba-tiba menghangat
Hari yang sepi tiba-tiba bergejolak
Wall yang statis tiba-tiba berubah menjadi dinamis
Rindu lama, cerita lama, yang sudah terkubur
merebak kembali, menebar dan berpedar...
Hai saudaraku, sudah lama kita tidak bertemu
Hai saudaraku, masihkan engkau seperti dulu
Hai saudaraku, masihkan engkau mengingat hari-hari yang lalu
Hai saudaraku, apakah namaku masih ada di seluk riuk hatimu?
Semua pertanyaan menggebu, berpadu dalam deru ragu...

Lewatlah beberapa hari mencari informasi
Lewat juga beberapa usaha menghubungi teman dan relasi
Lewat juga lah hari-hari menggagas apa yang akan dilakukan nanti...
Semua bersiap diri...
menanti datangnya hari reuni
mungkin akan bertemu bekas kekasih
mungkin akan bersua teman sejati
mungkin akan bertemu sesuatu yang berarti
mungkin juga kita akan berbagi
atau hanya sekedar sarana pamer diri?

Lantas datanglah hari reuni
ceria dan sangat berwarna warni
gelak tawa, senda gurau dan berbagai warna getaran hati
semua rasa tercampur baur
bak gelombang datang menerpa pantai
membawa segulung air berbuih dan penuh riak
juga meninggalkan banyak sampah pada sapuan pertama...

Hai kamu. betapa lama waktu berlalu.......
Hai kamu..sungguh rindu lama tak bertemu....
Hai dirimu..sungguh masih seperti dulu....
Hai dirimu..sungguh senyum itu selalu dirindu...
Hai kamu.. betapa bedanya kamu sekarang...?
Hai dirimu..sungguh aku tidak pernah melupakan kamu...
Hai lihatlah diriku, apakah aku masih gagah dan cantik seperti dulu..
Hai lihatlah diriku, sungguh aku sudah berubah tidak seperti masa lalu
Hai lihatlah aku, sungguh eksis diriku dibandingkan kamu....
Sampah-sampah kenangan akan bertaburan
sampah-sampah basa-basi akan bertebaran
sampah-sampah cerita dan hiburan akan berserakan...

Lantas ketika tawa sudah mulai menipis di udara
ketika cerita sudah mulai habis terburai
ketika rindu sudah mulai mencair dan mengurai
akhirilah hari dengan kenangan manis, sepah dan hambar
sekedar basa-basi, marilah kita lakukan tindakan dermawan
mengumpul sedikit dana untuk orang yang akan ditinggalkan
barangkali dana tersebut akan membuat nama kita dikenang
atau akan menoreh manfaat bagi ikatan yang ditinggalkan

maaf saudaraku..
aku terbangun dan ternyata masih duduk di tempat
menonton serial kehidupan beberapa sahabat
lekat, erat dan memikat
tak lebih sekedar riak pasir di pantai
terserak dan tercampur dengan sampah-sampah yang menyebar

Maka pelan-pelan riuh rendah menghilang
pelan-pelan sepi kembali datang
pelan-pelan lampu dipadamkan
satu persatu orang menghilang
sekedar bertukar salam, bertukar nomor telpon atau kartu nama
berjabatan tangan, berpelukan.....
entah mungkin menunggu berapa lama lagi hadirnya kesempatan

Lantas gelombang besar akan kembali tiba
Bergulung membuih dan menerpa
mungkin lebih hebat dari gelombang sebelumnya
menghempas semua beban di bibir pantai
menyentuh kaki memerciki muka
dan bergulung riuh pamit kembali
menyapu semua riak dan gejolak di pasir pantai
membawa semua sampah dan melarutkannya di laut
lantas pantai sepi kembali
lantas pantai bersih kembali

bangunlah teman........
ternyata reuni sudah berakhir
ternyata sapaan hangat kelamaan akan pudar
ternyata rindu sudah terkikis menipis
ternyata rasa sudah mengurai
dan wall kembali sepi
dan kita mungkin kembali lupa
bahwa kita pernah bersahabat....
mungkinkah aku akan mengingat itu kembali
pada setiap lapis usia bertambah...
pada saat reuni berikutnya...
ah......

[Ditulis 12 Juni 2009, menjelang reuni akbar SMA3-1986]

Beberapa cuplikan komengtator dari FB :


Sabtu, 22 Juni 2013

Kisah si A-A

Ini kisah cinta biasa
yang terjadi di antara dua anak manusia
kebetulan mereka dosen di sekolah kita tercinta
yang sudah tidak terlalu muda
dan keduanya sudah beranak dua
namun cinta tak memilih masa
dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja
Sang wanita cantik jelita
sementara pria si AA mapan menawan juga
sehingga sang wanita tak kuasa menggoda
dan si AA juga tak kuasa menahan goda
Dari colekan tangan dilanjut ke tatapan mata
dari tatapan mata lanjut ke acara sering berdua
kebetulan di kampus ini liburan telah tiba
sehingga mereka banyak waktu bercengkerama
lupa usia lupa juga anak-anak yang menanti di rumah
bahkan konon hingga ke Surabaya
Sudah tentu akhirnya sang suami murka
tak terima bahwa sang istri lebih suka dengan si AA
maka sang suami mulai unjuk rasa
menebar ancaman kepada si AA dan keluarga
bahkan mengacam akan bercerita kepada media
jika si AA tak segera pindah dari sekolah kita
Sang wanita berlindung di balik pesona si AA
setiap saat juga menebar cerita
bagaimana dirinya menjadi korban kekerasan rumah tangga
konon sang suami juga mengajak anak-anak turut serta
dan sang wanita merasa sudah harus berpisah segera
dipertegas niatnya dengan menyewa pengacara berjuta-juta
Tapi nampaknya si AA lebih memilh keluarga
daripada bertahan menghadapi masalah dengan si wanita
berusaha menghilang untuk menghidari masalah
bahkan barang-barangnya diambil oleh rekan-rekannya
tak pernah terlihat sekalipun penampakannya
banyak mahasiswa yang bertanya-tanya
kemanakah dosen mereka?
padahal masih ada kuliah dan praktek kerja
Sang wanita mulai bercerita
bahwa perginya si AA semata-mata karena dirinya
tentunya mahasiswa terpesona
kok bisa ya.....???
Perginya si AA membuat kita semua kecewa
harusnya masalah tersebut dapat diselesaikan bersama
tanpa harus kehilangan tukang traktir handal seperti si AA
hahahaha.....
Setelah si AA tak lagi ada di kampus tercinta
ternyata tersebar berita bahwa ini bukan kali pertama
Wanita cantik suka menggoda pria berkeluarga
yang berakhir dengan perginya sang pria
demi mencegah cerita berubah menjadi bencana
Hidup berlanjut waktu berubah
Sang wanita akhirnya kembali ke keluarga
tak terdengar cerita akan berpisah
Syukurlah semua berakhir bahagia
Lama-lama mungkin semua orang lupa
bahwa pernah terjadi kisah cinta
tapi ada satu hal yang harusnya kita tidak lupa
bahwa sebaiknya kita selalu ingat keluarga
seperti pesan-pesan di sisi jalan raya
hati-hatilah jika melangkah
ingat keluarga menunggu di rumah
demikian kisah cinta biasa-biasa
tidak ada yang aneh atau berbeda
putus cinta itu biasa
cinta terlarang itu juga biasa-biasa
karena konon cinta banyak versi dan berbeda-beda rasa
maka pintar-pintarlah mengelola cinta anda
seperti halnya mengelola isi dompet anda
belanjakan sebagian, dan sebagian lagi simpan saja
untuk cadangan di hari tua
laaah.. dari cinta kok ngomongin isi dompet ya....?
tapi kan bener juga...
sedih juga jika sudah tua ternyata anda tidak punya lagi cinta
padahal anda tentunya masih ingin dicinta
oleh anak-anak dan keluarga...
namanya juga udah abis cerita
lagian siapa suruh situ baca-baca?
hahaha......

Rabu, 20 Februari 2013

Surat Kecil Untuk Tuhan (My Version)



Awalnya tulisan ini dibuat gegara terinspirasi tugas sekolah Kakak, yang diminta membuat sinopsis dari novel "Surat Kecil Untuk Tuhan", yang isinya dapat dilihat di dunia maya dan dapat ditemukan dengan mudah berkat bantuan mbah Google. Meskipun belum pernah membaca novelnya secara lengkap, ataupun menonton filmnya (bukan jenis genre movie-list daku), tapi kisahnya memang mengharukan. Novel ini bukan sekedar novel sedih yang mengharubiru, tapi juga novel yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang gadis remaja bernama Gitta Sessa Wanda Cantika, atau akrab dipanggil Keke, yang berjuang melawan penyakit kanker hingga akhir hayatnya. Karena diangkat dari kisah nyata, maka kisah ini benar-benar memberikan inspirasi bagaimana bersikap positif dalam menghadapi cobaan.
Isi tulisan ini bukan ingin menceritakan tentang kisah Keke, yang pastilah mudah diketahui garis besarnya, tapi kisah yang agak serupa, hanya pada tulisan ini, terjadi pada orang yang pernah sangat dekat denganku. 
Sebelum pindah ke Sekolah Alam Bandung, Kakak pernah bersekolah di SD BPI di Jalan Halimun sampai kelas 3.  Aku pernah cerita ke Kakak, bahwa dulu aku sering main ke daerah ini, ke rumah seorang sahabat yang lokasinya persis di belakang gedung SD BPI.  Namanya: Wati.

Suatu hari, salah satu kelas di SD BPI ini kebakaran.  Teriakan "Kebakaran...  kebakaran...!!", membuat semua siswa langsung berlarian keluar kelas, demikian juga dengan guru-guru. Semua mencari-cari dari mana asal teriakan tersebut. Ternyata yang berteriak adalah siswa-siswa kelas 5 yang berada di tingkat 2. Terlihat dari lapangan ada asap mengepul dari bagian atas atap.  Semua panik dan guru-guru sibuk menenangkan semua siswa.  Beberapa anak langsung menelpon orang tua masing-masing. Waktu itu masih pagi, sekitar jam 9, sehingga banyak orang tua yang kaget karena baru saja mengantarkan anaknya ke sekolah. 
Setelah semua agak tenang, guru kemudian menyelidiki asal asap tersebut. Dari speaker pengumuman, terdengar penjelasan tentang kebakaran tersebut.  Ternyata kebakaran bukan terjadi di sekolah, tetapi dari rumah yang berdempetan dengan sekolah. Semua lega dan berangsur-angsur keadaan menjadi tenang. Tetapi, banyak orang tua yang memang ditelpon anak-anaknya karena panik, sudah terlanjur datang menjemput.  Untuk menjaga ketenangan, akhirnya sekolah diliburkan mendadak hari itu. 
Aku segera datang menjemput Kakak.  Kelihatan Kakak sudah menunggu dengan tenang di halaman sekolah. 

"Jadi yang kebakaran itu rumah di belakang sekolah kamu"

"Iya bu..."

"Hm.. jangan-jangan rumah temen ibu..."

"Iya ngkali, soalnya katanya asapnya dari situ, gede juga bu.. tadi sempat ada mobil PMK segala"

"Nak, tunggu bentar ya, ibu mau liat dulu ke Jl.Patuha, penasaran, apa bener itu rumah temen ibu dulu yang kebakaran"

Aku penasaran, ingin melihat apakah rumah yang terbakar itu rumah sahabat aku dulu? 
Aku melongok sebentar ke arah Jln Patuha, dan benar ternyata yang terbakar itu adalah rumah Wati, sahabatku waktu SMA dulu. Tapi untunglah tidak ada korban, karena ternyata rumah sedang kosong, demikian info dari para petugas Pemadam kebakaran. 

Lalu, siapakah Wati, sahabatku itu?

Aku berkenalan dengan Wati waktu kelas 3 SMP. Waktu itu aku ikut mentoring di Masjid Salman dan satu kelompok dengan Wati. Wati itu anak SMPN 13.  Orangnya ceria dan penampilannya sederhana.
Kita kemudian jadi bersahabat karena ternyata Wati akhirnya bersekolah di SMA yang sama. Setelah satu SMA, aku sering ke rumah Wati, berkenalan dengan keluarganya, bahkan sering menginap.

Mula-mula Wati dan kita semua juga tidak tau tentang penyakit kanker. Aku inget, waktu kelas satu, Wati sering tidak sekolah, kadang-kadang 2-3 hari. Kalo sudah lebih dari dua hari, biasanya aku datang menengok sambil membawa buku pelajaran. Dulu kan waktu SMA, konon sekolah kami itu heboh banget, kata orang pelajarannya susah-susah. Jadi aku takut Wati ketinggalan pelajaran.  Kalo Wati sudah beberapa hari nggak sekolah, aku pasti berusaha datang sambil membawa info tugas, pe-er, atau ulangan.
Tadinya aku kira Wati sakit. Tapi setelah beberapa kali menengok, ternyata Wati nggak sakit. Trus kenapa Wati nggak sekolah?
Katanya Wati malu ke sekolah karena matanya bengkak, bukan karena sakit mata, tapi karena habis menangis semalaman sehingga paginya matanya bengkak dan Wati malu ke sekolah.

Kenapa Wati menangis semalaman?

Macam-macam penyebabnya, kebanyakan masalah keluarga. Setelah beberapa kali berkunjung, aku akhirnya sedikit-sedikit tau kondisi keluarga Wati. Ternyata, keluarga Wati hidupnya sangatlah minim. Meskipun rumah mereka di pinggir jalan besar seperti di Jl. Patuha itu, tapi rumah mereka nyaris reot. Dindingnya setengah kayu, setengah lagi bilik.  Di bagian depan keliatan bongkaran bangunan yang kayaknya nggak selesai-selesai. Isi rumahnya juga sangat sederhana, satu set kursi tua yang sudah nggak jelas warna dan bentuk joknya. Wati bercerita bahwa dia memiliki 7 kakak dan satu adik.  Orangtuanya juga sangat sederhana. Ibunya guru SMP swasta, tapi bukan SMP terkenal, ayahnya bahkan tidak bekerja karena sakit.  Konon, cerita Wati, dulu ayahnya sempat menjadi manajer hotel kelas melati. Tetapi karena sering sakit, akhirnya ayahnya hanya di rumah. 

Keadaan keluarganya inilah penyebab Wati sering menangis. Dia sedih melihat ayahnya kalo sakitnya lagi kambuh. Katanya, ayahnya sakit seperti jantung atau darah tinggi gitu. Kalo lagi kambuh, biasanya karena ada masalah keluarga, kadang-kadang ayahnya seperti mengeluh, kenapa ayahnya jadi sedemikian tidak berdaya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Kalo sudah dengar keluh kesah ayahnya, Wati sering kesel, antara benci dengan ayahnya yang terus mengeluh, dan juga kasihan. Jadi akhirnya Wati cuma bisa menangis.

Waktu itu keluarga Wati lagi susah-susahnya. Kakak-kakaknya masih kuliah, ada juga yang bekerja, tapi dengan penghasilan pas-pasan, misalnya Salesman. Nggak semua kakaknya kuliah, karena kendala biaya. Wati bercerita, kadang-kadang mereka bener-bener nggak punya makanan apa-apa di rumah, kecuali nasi. Jadi, mereka membeli kangkung satu ikat, terus dimasak sayur bening, dikasih kuah yang banyak. Supaya gurih, mereka tambahin pecin yang banyak. Kadang-kadang dicampur terasi. Jadi bumbu di rumah Wati itu ya kebanyakan pecin, aku lihat stoknya sampe berbungkus-bungkus  

Tapi, penyebab Wati nggak sekolah, bukan hanya urusan nangis. Kadang-kadang Wati bener-bener sakit. Waktu itu penyakit Wati yang aku tau, yaitu semacam kutu air di kakinya. Anehnya kutu air itu penyebarannya cukup ganas. Aku juga pernah kena kutu air, lumayan lama, sekitar satu tahun. Sudah dicoba macam-macam obat kampung, nggak ada yang cocok. Akhirnya aku pake salep terra-cotril dan cocok. Jadi waktu nengok Wati dan Wati menunjukkan kutu airnya, langsung aku janjikan bakal membelikan Wati salep itu.  Lukanya gede-gede, nggak kayak luka aku dulu. Terbuka lagi, jadi kebayang kalo pake sepatu dan kena kaos kaki, pasti sakit.

Setelah itu, aku lupa apakah karena salep itu atau karena obat lain, masalah luka kutu airnya hilang.  Tapi Wati masih sering nggak masuk sekolah, kali ini penyebabnya katanya Wati sering pusing. Oh ya, Wati ini orangnya pinter, tapi sangat gugup dan sering tidak PD. Jadi kalo di kelas ada guru galak yang tiba-tiba menunjuk dia, pasti dia menjerit dan stress.  Nah, Wati juga sering bolos tuh kalo misalnya bakal ada tugas maju ke depan kelas, misalnya baca puisi dan sebagainya.  Jadi waktu Wati sering tidak sekolah karena pusing, aku kira itu cuma alasan karena Wati takut disuruh ke depan. Aku juga mikir jangan-jangan Wati harus pake kacamata, karena katanya susah ngebaca tulisan di papan tulis kalo duduk di bangku tengah. Tapi Wati juga nggak mau duduk di bangku depan, karena sering gugup.

Waktu di kelas satu, guru Bahasa Indonesia pernah memberi tugas pidato. Waduh, males banget kan...., kita disuruh pidato apa gitu? Nyari idenya aja sudah bingung, belum lagi takut diketawain temen-temen. Aku sebenarnya nggak sekelas dengan Wati, tapi hampir setiap istirahat aku pasti mampir ke kelas Wati untuk ngobrol-ngobrol. Jadi hampir semua teman Wati jadi teman akrab. Nah.. dalam rangka tugas pidato itu, kita diskusi topik apa yang cocok untuk dipidatokan. Kebanyakan temen-temen milih topik tentang agama. Maklum, kan kebanyakan temen-temenku waktu itu ikut mentoring di Masjid Salman.  Sewaktu semua sibuk membicarakan topik pidato, Wati diem aja, nggak ngomong apa-apa, malah sibuk baca buku kecil. Aku penasaran, buku apa sih? Asyik banget? Novel ya?

Eeeh, ternyata pas ditunjukin judulnya, aku jadi heran, ternyata judulnya tentang "kematian". Aku lupa judul persisnya, apalagi pengarangnya. Rupa-rupanya Wati sedang mempersiapkan bahan pidatonya. Besoknya, aku dengar cerita dari temen-teman, bagaimana hebatnya pidato Wati. Aku heran, kan Wati itu mudah gugup, kok bisa pidatonya hebat. Kata temen-temen di kelas Wati, saking hebatnya pidato Wati, sampe satu kelas hening mendengarkan, dan banyak yang terharu dan bergetar. Katanya Wati pidato tentang kematian, tentang bagaimana rasanya menyongsong maut, bagaimana rasa sakit ketika meregang maut dan sejenis itu. Jelaslah semua merinding mendengarnya. Wati yang biasanya gugup, kata temen-temen, berbicara lantang dan lancar, seolah-olah berada di alam lain, seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri, bukan dengan temen-temen yang dia kenal. Kata temen-temen, kalimat yang juga paling aku ingat sampai sekarang :
Apakah kamu pernah membayangkan seperti apa rasanya maut itu?
Rasanya seperti seekor burung yang dicabut bulu-bulunya dan dilemparkan ke minyak panas...

Sayang aku nggak sekelas, jadi cuma denger ceritanya aja....

Setelah itu kita naik kelas 2, dan akhirnya Wati memeriksakan matanya. Seperti dugaanku, konon menurut dokter Wati harus pake kacamata. Wati itu anaknya cantik dan manis,  Sayang aku nggak punya fotonya, hilang waktu pindahan rumah.  Jadi hampir tiap hari aku mampir ke kelasnya dan nanya, kapan kacamatanya jadi? Aku ngebayangin pasti Wati makin manis dengan kacamata itu. Suatu hari Wati menunjukkan kacamatanya, tapi tidak langsung dipake, katanya kalo dipake masih terasa pusing, padahal sudah 3 hari dia pake. Aku bilang, mungkin salah ukuran, nggak cocok, dan sejenisnya. Minggu berikutnya Wati bilang bahwa dia malah jadi pusing urusan kacamata. Soalnya, menurut dokter yang memeriksa mata Wati, konon katanya ukuran minus mata Wati berubah-ubah terus, jadi tiap udah dibuatin kacamata, dipake, eh.. berubah lagi, nggak cocok lagi. Jadi, akhirnya Wati pake kacamatanya sebentar sebentar aja.  Malah jarang dipake, katanya malah bikin makin pusing.

Oh ya, Wati itu sering sekali ngeluh pusing. Tadinya aku pikir karena pelajaran fisika dan matematika yang waktu itu kita semua juga pusing. Tapi kata Wati, seperti ada rasa sakit di kepalanya. Wati ini orangnya rajin sekali ibadahnya Kalo lagi shalat keliatannya khusyu banget, sampe badannya rada goyang gitu kalo berdiri shalat, dan kalo sedang duduk shalat, kelihatan kepalanya bergoyang-goyang ketika membaca bacaan shalat. Jadi semua menduga karena demikian khusyu dan menjiwainya tentang bacaan shalat. Eeeh.. baru diketahui beberapa lama kemudian, ternyata kepala Wati yang bergoyang-goyang tersebut itu karena menahan sakit kepala, yang katanya kalo didiamkan, sangat terasa sakitnya.
Dipicu oleh ukuran kacamata Wati yang berubah-ubah terus, dokter mata akhirnya memberikan rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku lupa lagi kapan persisnya. Pokoknya, yang aku ingat, Wati tidak sekolah cukup lama, katanya sedang berobat serius di RSHS. Ketika masuk, akhirnya Wati bercerita bahwa setelah diperiksa dengan lebih teliti, ternyata Wati ada tumor di otaknya..!!

Haaa?? Tumor otak?? 

Jelas aku dan temen-temen kaget.. Kok bisa?? Menurut cerita Wati, dan juga penjelasan dari kakak temen, yang waktu itu masih mahasiswa tingkat akhir kedokteran, itulah sebabnya kenapa kepala Wati sering pusing, dan ukuran kacamatanya berubah-ubah. Konon katanya akibat terjepitnya syaraf-syaraf tertentu akibat benjolan tumor tersebut. 

Setelah itu, Wati masih bersekolah seperti biasa. Konon dokter menawarkan operasi, tetapi dengan peluang 50%. Kalo gagal, maka resikonya meninggal dunia, atau jika selamat, kemungkinannya cacat otak (cacat mental).  Jadi keluarga Wati bingung. Belum lagi biaya operasi yang konon mencapai puluhan juta.  Nah, untuk sementara, akhirnya Wati bersikap cuek dan menjalani hidup seperti biasa. Tetap sekolah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 

Wati orangnya sangat sederhana, tapi berpikiran jauh ke depan. Aku seringkali malu kalo ngobrol dengan Wati. Pernah sekali waktu, ada peringatan Hari Kartini.  Semua cewek-cewek pastilah pengen berdandan cantik dengan baju adat. Semua teman-teman sibuk mencari penyewaan baju adat dan salon untuk berdandan.  Semua, kecuali Wati.  Karena kita tau kondisi ekonominya yang pas-pasan, jadi kita semua sepakat akan menyewakan baju adat dan membayari ongkos salon, supaya besok kita bisa mejeng-mejeng di sekolah dengan baju adat. Tapi Wati menolak, bahkan makin dipaksa, makin keras menolaknya. Akhirnya Wati ngadat tidak sekolah sehingga kepaksa aku tengok.  Kali ini Wati bahkan tidak mau keluar menemuiku. Ibunya menyampaikan surat untukku, katanya Wati sakit.  Aku baca suratnya, isinya kira-kira begini:
Terima kasih sekali atas kebaikan temen-temen yang mau bersusah payah menyewakan baju adat dan mencarikan salon. Bukannya saya tidak bersyukur menerima kebaikan temen-temen. Tapi itu malah membuat saya makin sedih dan terus menangis semalaman. Saya sungguh tidak layak untuk itu. Membayangkan berapa banyak uang yang harus dihabiskan untuk acara tersebut, sementara ibu saya bersusah payah menghemat uang untuk membeli beras dan lauknya, saya merasa tidak berdaya. Jadi tolong maafkan saya kalo saya tidak bisa datang di acara hari Kartini. Selamat bersenang-senang temen-temen. Percayalah, saya juga ikut seneng dari jauh.
Aku terharu membaca suratnya. Surat itu aku serahkan ke teman-teman, yang akhirnya sepakat membatalkan penyewaan baju dan berencana akan menyerahkan uangnya saja ke Wati.  Aku juga lupa, siapa yang akhirnya menyerahkan uang tersebut.

Satu peristiwa lagi yang paling aku ingat ya....., tentang keteguhan hatinya.  Waktu itu kan kita masih pada ABG gitu kan.. pastilah banyak kecengan.  Nah, karena kita aktif di masjid, maka kecengan kita pastilah seputar pemuda masjid. Ada salah seorang kecengan kita ini top banget deh... Selain cakep, tajir, pinter, eeeh soleh lagi. Kerjanya cuma ngajakin orang-orang supaya datang ke pengajian. Wati nge-fans banget sama cowok ini, sehingga dengan gembira ria Wati selalu datang di tiap acara pengajian yang diundangnya. Aku sendiri belum pernah datang, karena acaranya sering bentrok dengan acara kelasku.  Sekali waktu, pas aku bisa datang, dengan semangat aku ajak Wati datang ke acara pengajian undangan cowok keren ini. Tapi, aku kaget karena Wati malah menolak keras. Katanya sudah 2 minggu Wati tidak hadir di pengajian tersebut.

“Lho kenapa? Acaranya nggak rame? Penceramahnya ngebosenin?”

“Bukan.. acaranya sih rame banget.. apalagi ada si Doi yang keren itu, sibuk bolak balik, ngurusin kabel lah, ngurusin konsumsilah, dan selalu tersenyum dan menyapa tiap kali papasan”

“Naah.. justru… kan.. kesempatan...!!”

“Justru itu lah.. makin lama aku makin takut..”

“Takut kenapa?”

“Takut terpeleset niat..!”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, nanti aku takut, lama-lama niat aku datang ke pengajian tersebut bukannya beribadah, mencari ilmu, eeh malah mau ngeceng... Nanti ilmunya malah makin nggak dapet apa-apa.. malu aku...”

“Malu kenapa? Kan nyambi-nyambi nggak apa-apa. Nyambi ngeceng, nyambi dapet elmu..”

“Hussy.. apa yang kita dapet itu gimana niatnya.. kalo niatnya ngeceng, aku khawatir dateng ke sana cuma pemubaziran aja.. Ilmunya nggak dapat. Malu aku..”

“Malu sama siapa?”

“Malu laah.. gimana gitu rasanya, tiap berdoa kepada Allah, tolong luruskan niatku. eeh.. malah mukanya yang kebayang”

Aku dulu nggak ngerti, kenapa Wati sampai bisa berfikiran sejauh itu.

Saat-saat itu, gedung sekolah SD BPI baru dibangun. Kalo aku nginep di rumah Wati, kamar yang kami tempati itu pas nempel dengan gedung sekarang. Aku bisa mendengar suara berisik pekerjaan bangunan. Aku tanya ke Wati, mereka lagi membangun apa ya?

“Ooh, itu lagi membangun gedung SD”

“SD apa??”

“SD BPI”

“BPI?”

“Oooh.. itu, sejenis SD orang-orang kaya gitu lah.. Nanti kalo sudah jadi SD nya, kamu jangan kaget, kalo jalan masuk ke arah sini jadi agak macet.”

Waktu itu aku cuma manggut-manggut tidak begitu mengerti. Maklum, aku cuma dengar-dengar dikit nama BPI dari beberapa temen SMA.

Wati juga orangnya sangat rumit pemikirannya, menurut ukuran aku dan teman-teman waktu itu. Pernah sekali waktu, Wati menolak shalat menggunakan sejadah yang bagus dan tebal di rumah temen. 

“Aku pake kaen sarung dilipet aja aah”

“lha knapa? Pake sejadah itu knapa? Kan dingin”

“nggak ah.. takut nggak khusyu”

“Lhoo knapa?”

“Waktu itu kan aku pernah shalat di rumah Shanti, tau kan Shanti temen sekelasku itu. Beliau ini tajir melinter banget loo menurut ukuran aku. Nah waktu shalat di rumah Shanti, aku disodori sejadah. Sejadahnya bagus sekali, tebal dan halus. Pas aku sujud, tangan aku sampe terbenam di bulu-bulu sejadahnya.. Eeeh.. bukan malah mikirin shalat, malah dalam hati aku ngomong sendiri.. enak ya jadi orang kaya.. sejadahnya aja bagus banget, tebel, empuk, wangi,  nggak kayak sejadah di rumahku yang tipis, udah rada nerawang dan bau pula..!!”

“Aaah ..!! Dasar kamu, mikirnya kemana aja!!”

“Makanya sekarang aku takut pake sejadah bagus-bagus, takut nggak khusyu dan malah mikir kemana-mana..he..he..”

Membran semipermeable

Pernah juga Wati mengeluh, meskipun dengan teman-temanku yang lain, Wati cukup akrab, tapi Wati tetap merasa ada jarak, kecuali dengan aku. Sebab menurut Wati, meskipun mereka itu baik-baik, tapi :

“Mereka tetap beda dunia dengan kita ….. tetap tidak bisa memahami kondisi kita sepenuhnya, ya gimana siii.. dunianya aja beda..!!”
Lama aku baru mengerti, apa maksud “beda dunia” ini. Ternyata maksud Wati, teman-temen kami yang memang rata-rata berasal dari keluarga mapan itu belum tentu bisa memahami benar kondisi keluarga aku dan Wati.  Waktu itu kondisi keluargaku juga beda tipis sama keluarga Wati. Jadi, kurang lebih alur curhat kami itu seperti membran semi-permeable pada peristiwa osmosis. Temen-temen akan bercerita semuanya, sebaliknya, kami hanya bercerita hal-hal tertentu, karena kami nggak yakin, mereka benar-benar bisa paham kondisi kami.

Singkat cerita, makin hari sakitnya makin bertambah parah. Akhirnya aku dengar, menurut diagnosis dokter, penyakit Wati bukan lagi tumor otak, tetapi sudah berubah menjadi kanker otak. Karena mereka tidak mampu secara ekonomi, maka usaha berobat terbatas ke alternatif seadanya. Sampai suatu hari ada teman sekelasnya yang kebetulan kaya raya, anak tunggal, menawarkan bantuan berobat.  Orang tua temannya itu mengajak Wati tinggal di Jakarta, di rumah mereka, supaya dekat dengan tempat berobat. Konon orang tua Wati memilih sejenis pengobatan alternatif di Jakarta, tapi katanya harus kontinyu dan lama. Lama juga Wati tinggal dengan keluarga tersebut. Menurut cerita Wati, mereka memperlakukan Wati seperti anaknya sendiri. Kemana-mana Wati diajak. Sering Wati diajak berbelanja ke Mall, sering juga Wati perang batin menahan keinginan antara ingin memiliki barang, misalnya tas atau baju, dan malu dengan keluarga tersebut. Meskipun mereka akan dengan senang hati membelikan apa saja yang Wati pegang, tapi Wati cukup bisa menahan diri dan langsung membayangkan wajah ayah ibunya setiap kali memegang barang yang menurut Wati tergolong "mewah". 

Pengobatan berlangsung sekitar 6 bulan, dan tiba-tiba Wati pulang ke Bandung. Aku kira sudah sembuh, ternyata Wati memutuskan pulang dengan alasan berpura-pura "sembuh",  padahal sebetulnya masa pengobatannya belum selesai, karena Wati sudah sangat malu berada di rumah keluarga itu. Menurut Wati, mereka terlalu baik, dan Wati merasa terlalu merepotkan, sehingga Wati memutuskan untuk melakukan pengobatan dari Bandung, dengan cara bolak-balik seminggu sekali.

Setelah pulang dari pengobatan, sebetulnya kondisi Wati sudah jauh menurun, Matanya agak cekung. Badan juga jauh lebih kurus. Seingatku, Wati pernah sekali menjalani kemotherapy, tapi katanya nggak kuat, muntah-muntah dah pusing lamaa sekali setelahnya, belum lagi biayanya. Rambut Wati juga lebih tipis dibandingkan sewaktu kelas satu. Tapi Wati masih sangat optimis. Sedemikian optimisnya sehingga Wati, ketika badannya dirasa kuat, pasti ke sekolah. Hampir dua hari sekali aku mampir ke rumahnya untuk meneruskan pelajaran sekolah.  Aku merangkap sebagai guru privat-nya, ngajarin apa aja yang kira-kira aku bisa.  Wati masih sangat bersemangat belajar, meskipun sering tidak sekolah.  Aku cuma bantu sedikit-sedikit, terutama untuk pelajaran fisika dan kimia. Pelajaran lain Wati bisa belajar sendiri. 

Naik ke kelas tiga SMA, aku dan teman-teman agak jarang ke rumah Wati karena kita juga semakin sibuk. Selain sekolah, ada juga pemantapan, dan banyak temen-temen ikut bimbingan belajar. Maklum persiapan ujian akhir dan test untuk kuliah nanti.  Pembicaraan kita seputar angan-angan ingin kuliah di jurusan mana.  Sesekali aku masih mampir ke rumah Wati, dan diskusi masih lancar seperti biasa. Wati bercita-cita, jika nanti sembuh, ingin kuliah di Jurusan Psikologi. Tapi, di semester pertama kelas tiga, Wati makin sering sakit. Kadang-kadang berminggu-minggu tidak kelihatan di sekolah, dan kalo aku tengok di rumahnya, kadang-kadang hanya istirahat tidur-tiduran, katanya pusing dan badannya lemas. 
Kondisi Wati sedikit ceria ketika ada acara pernikahan kakaknya.  Aku sempat datang, dan Wati menyempatkan diri difoto dengan menggunakan baju acara pernikahan. Acaranya sendiri berlangsung sederhana dan ibunya Wati sangat senang karena Wati cukup kuat untuk datang ke gedung  untuk menyaksikan pernikahan kakaknya, meskipun di gedung Wati banyak duduk. Setelah pernihakan kakaknya, ternyata kondisi kesehatan Wati turun terus. Wati lebih banyak diam di rumah, tidak banyak bicara dan lebih banyak berdoa, sholat dan berdzikir. Tiap kali aku datang menengok, aku lebih sering mengobrol dengan ibunya karena Wati sendiri sedang tidur, atau sedang berdzikir di kamarnya. Jika keadaanya sedang enak, biasanya aku sempatkan mengobrol sebentar.

Akhirnya, aku juga jadi agak jarang ke rumahnya karena sibuk bimbel dan sejenisnya. Pernah sekali waktu aku dengar dari teman, katanya penyakit Wati kambuh cukup parah sehingga dibawa ke dokter, tapi tidak sampai dirawat.  Setelah itu kondisinya stabil tapi tetap dalam keadaan lemah.
Sekali waktu, waktu itu aku masih di kelas bimbel, aku dipanggil temen dari luar kelas. Aku keluar dan temenmenyampaikan bahwa baru saja diterima berita Wati meninggal dunia. Sewaktu mendengar kabar itu, aku merasa badan melayang sesaat, kaki berasa tidak menginjak bumi. Aku sedih, tapi tidak bisa menangis, karena aku memang sudah menyadari sejak lama, bahwa mungkin saja suatu saat Wati akan meninggalkan kita semua lebih cepat. 

28 November 1985

Aku masih ingat tanggalnya, 28 November 1985.  Aku ingat karena dulu kan kita punya semacam geng temen-temen, nah semua anggotanya diberi nomor anggota berupa tanggal lahir. Nomor anggota Wati adalah 2911, artinya tanggal 29 bulan November. Jadi Wati meninggal satu hari tepat sebelum ulang tahunnya yang ke 17. Aku sedih sekali membayangkannya bahwa besoknya kita akan mengucapkan selamat ulang tahun di atas nisannya.
Siang itu juga aku mampir ke rumah Wati. Sudah banyak orang. Aku lihat jenazahnya sudah dibaringkan di tengah-tengah ruangan. Wajahnya diikat dengan kain, dan di tengah-tengah keningnya ada semacam tonjolan urat besar. Konon, menurut dokter, penyebab kematiannya adalah pecahnya pembuluh darah di otak. Aku bahkan nggak bisa nangis, hanya duduk diam memandang wajahnya. Sementara orang-orang membicarakan rencana pemakamannya.

Besok harinya kita semua pergi ke Garut, kampung halaman Wati. Rupanya keluarga Wati memutuskan akan memakamkan Wati di Garut.  Sebelum kain kafan ditutup, keluarganya memberi kesempatan untuk melihat terakhir kali. Aku sempat mencium pipi Wati, mengucapkan selamat ulang tahun. Setelah itu, kita semua mengantarkan Wati ke peristirahatan terakhir. Aku masih duduk diam di sisi makamnya sampai semua orang pergi, melihat gundukan tanah merah dansekuat tenaga berusaha menahan air mata. Katanya air mata membuat Almarhumah terasa berat di perjalanan menuju alam barzah. 

Aku teringat hari-hari bersama Wati. "Kamu itu ya.. siapa kecengan kamu sekarang?"; "Ajarin aku fisika doong?";"Iih guru Kimia satu ini nyebelin ya.. Kok aku nggak ngerti2?", dan celoteh-celoteh Wati lainnya. Sambil duduk terdiam di sisi makamnya, di kepalaku terngiang-ngiang lagu Ebiet G Ade. Aku dan Wati waktu itu, sama-sama penggemar lagu-lagu Ebiet G.Ade, salah satunya yang berjudul Camelia IV...

Batu hitam
diatas tanah merah
Disini akan kutumpahkan rindu
Kugenggam lalu kutaburkan kembang
Berlutut dan berdoa
Syurgalah ditanganmu,
Tuhanlah disisimu
Kematian adalah tidur panjang
Maka mimpi indahlah engkau
...................
...................

Setelah menyanyikan lirik lagu itu dengan lirih,  aku nyerah.. nggak bisa nahan tangis... Memang berat dan menyedihkan kehilangan sahabat seperti ini. Sampai sekarang aku nggak pernah lupa detik-detik terakhir bersama Wati.  Penyakit kanker memang mengerikan, dan juga sangat menyedihkan, apalagi jika menimpa orang yang tidak mampu seperti Wati... 
Berbulan-bulan kemudian, saat aku mampir, aku menemui ayah Wati yang masih sering duduk di jendela depan rumahnya, melihat anak-anak sekolah yang lewat dan membayangkan barangkali ada Wati di antara mereka... Sang Ayah berkata: 
Kita bisa menerima kehilangan orang tua, dan berfikir itu wajar, mereka sudah lanjut usia.. Tapi, kehilangan yang usianya lebih muda, sangatlah berat untuk ikhlas..

Kembali kepada kejadian kebakaran rumah Almarhumah. Aku nggak pernah membayangkan bahwa akhirnya, setelah sekian puluh tahun, aku bisa melihat rumah itu lagi. Untunglah kebakaran itu hanya menghanguskan bagian atas rumah, persis di kamar yang dulu sering aku tempati ketika menginap.  Info dari petugas, keluarga Wati yang tinggal di rumah itu tinggal ayah ibunya dan adiknya yang kecil.  Kakak-kakaknya sudah pindah ke berbagai daerah.

Bandung, 21 Februari 2013